Kelebihan Dan Kekurangan Penelitian Tindakan

Kelebihan dan Kekurangan Penelitian Tindakan. Sebelumnya kita membahas mengenai Perbedaan penelitian tindakan kelas dengan penelitian lain dan TUjuan Penelitian Tindakan Kelas. Kali ini kita akan liat kelebihan dan kekurangannya.

Sebagai suatu metode penelitian, penelitian tindakan kelas me sejumlah kelebihan untuk digunakan oleh guru dalam rangka memperbaiki proses pembelajaran dan hasil belajar siswa. Yang jelas, guru bisa langsung melaksanakannya sendiri sambil tetap menjalankan tugas mengajarnya d kegiatan itu dilakukan secara berkelanjutan. Namun demikian, selain memiliki kelebihan-kelebihan, penelitian tindakan kelas juga memiliki sejumlah kelemahan. Memahami kelebihan dan kelemahan penelitian tindakan kelas ini penting karena dengan memahami kelebihan dan kekurangannya, peneliti dapat mengurangi kekurangannya dan memaksimalkan kelebihannya. Berikut ini dipaparkan kelebihan dan kelemahan penelitian tindakan krlas.

Kelebihan Penelitian Tindakan Kelas


Ada sejumlah kelebihan penelitian tindakan kelas jika dilaksanakan dengan baik, yaitu sebagai berikut.
a. Kerjasama dengan teman sejawat dalam penelitian tindakan kelas dapat menimbulkan rasa memiliki. Kerjasama ini memberikan wahana untuk menciptakan kelompok dasar yang baru di antara para guru dan mendorong lahirnya rasa keterkaitan di antara mereka untuk saling tukar pikiran dan saling memberikan masukan dalam upaya memperbaiki proses pembelajaran masing-masing yang selama ini dilakukan. Guru akan menjadi saling termotivasi satu sama lain dengan adanya kerjasama atau diskusi dengan teman sejawat untuk memperbaiki proses pembelajarannya. Apalagi, jika hasil diskusi dengan teman sejawat itu mampu menghasilkan perbaikan yang nyata pada proses pembelajaran dan hasil belajar siswanya.

b. Kerjasama dalam penelitian tindakan kelas mendorong berkembangnya pemikiran kritis dan kreativitas guru. Melalui interaksi dan diskusi dengan teman sejawat atau peneliti dari perguruan tinggi kependidikan atau orang lain dalam melakukan penelitian tindakan kelas, guru itu akan dapat menemukan dan mengembangkan kesadaran bahwa setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Dengan cara demikian itu, guru akan dapat menerima dirinya sendiri secara wajar. Melalui diskusi dengan teman sejawat atau peneliti dari perguruan tinggi kependidikan, guru akan dapat melihat lebih banyak cara memandang masalah, lebih banyak saran-saran dan pemikiran untuk penyelesaian masalah pembelajaran yang dihadapi, lebih banyak analisis dan kritikan terhadap rencana tindakan yang diajukan. Situasi keterbukaan seperti ini dapat mendorong berkembangnya pemikiran kritis dan kreativitas pada diri guru.

Kerjasama dalam penelitian tindakan kelas meningkatkan kemampuan guru untuk membawa kepada kemungkinan untuk berubah. Mencoba sesuatu yang baru selalu mengandung risiko. Hasil penelitian tentang dinamika kelompok menunjukkan bahwa seseorang sebagai anggota kelompok lebih mudah berubah dibandingkan dengan perorangan (bukan sebagai anggota kelompok). Orang yang ingin berubah harus terlihat dalam setiap aspek penelitiannya, dari identifikasi masalah, perencanaan tindakan, menerapkan rencana tindakan yang telah disusun, melakukan pengamatan atau pengumpulan data, menganalisis data dan melakukan refleksi, sampai pada pengambilan kesimpulan dan pemaknaan hasilnya. Asumsi dasar dari gerakan penelitian tindakan kelas adalah bahwa cara yang menjanjikan untuk. memulai dan menjamin terjadinya perubahan adalah dengan melibatkan seseorang dalam keseluruhan proses penelitian tersebut secara berkelanjutan. Dengan cara ini, berarti guru sebagai peneliti terlibat secara aktif dalam memikirkan perubahan dan perbaikan pembelaja
ran yang selama ini dilakukan untuk mewujudkan hasil belajar siswa yang lebih baik. Proses berpikir dan sekaligus bertindak secara aktif dan berkelanjutan seperti ini berarti memacu guru untuk membiasakan merubah dirinya sendiri. Sebab, jika dirinya sendiri belum ada keinginan untuk berubah, maka akan menjadi sulit untuk melakukan perubahan proses pembelajaran dan hasil belajar siswa.

Kelemahan Penelitian Tindakan Kelas


Selain memiliki sejumlah kelebihan-kelebihan seperti telah dipaparkan di atas, penelitian tindakan kelas, sebagaimana juga jenis penelitian lainnya, juga mengandung beberapa kelemahan. Kelemahan-kelemahan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Kurang mendalamnya pengetahuan dan keterampilan dalam teknik-teknik dasar penelitian tindakan pada pihak peneliti. Penelitian tindakan kelas dilakukan oleh praktisi, yang dalam hal ini adalah guru yang selalu peduli terhadap kekurangan yang ada dalam situasi kerjanya, khususnya kegiatan pembelajaran yang selama ini dilakukan dan berkehendak untuk memperbaikinya. Karena para guru ini biasanya berurusan dengan hal-hal yang praktis, pada umumnya mereka kurang; dilengkapi dengan pengetahuan yang mendalam dan keterampilan tentang teknik dasar penelitian. Kondisi semacam ini menjadi lebih parah lagi jika pada diri guru berkembang pikiran atau perasaan bahwa kegiatan penelitian hanya layak dilakukan oleh masyarakat kampus atau dosen di perguruan tinggi. Akibatnya, para guru pada umumnya kurang tertarik untuk melakukan penelitian sehingga menjadi kurang akrab dengan kegiatan penelitian atau bahkan cenderung mengalami kesulitan untuk melakukan penelitian. Kondisi semacam ini jika dibiarkan berlarut-larut jelas tidak menguntungkan posisi para guru dalam melakukan penelitian tindakan kelas.

b. Tidak mudah menemukan dan merumuskan masalah yang hendak diteliti. Karena guru kebanyakan selalu bekerja dengan kegiatan rutin pembelajaran dan jarang melakukan penelitian, maka tidak jarang guru mengalami kesulitan dalam menemukan dan merumuskan masalah yang hendak diteliti. Apalagi, jika perumusan masalah itu sudah dituntut untuk dicarikan landasan teoritisnya. Mengkaji teoritis dari berbagai literatur menjadi pekerjaan yang tidak mudah bagi guru yang tidak terbiasa melakukannya. Kesulitan serupa juga ketika harus merumuskan rencana tindakan yang tepat untuk memperbaiki permasalahan tersebut. Rencana tindakan juga menuntut landasan teoritis agar memiliki pijakan yang kokoh, bukan sekedar rencana tindakan yang dikirai-kira saja. Oleh sebab itu, seringkali untuk menemukan dan merumuskan masalah serta rencana tindakan ini disarankan untuk berdiskusi dengan peneliti dari perguruan tinggi kependidikan.

c. Tidak mudah mengelola waktu antara kegiatan rutin yang sekaligus dilakukan dengan kegiatan penelitian. Karena penelitian tindakan kelas memerlukan komitmen guru sebagai peneliti untuk terlibat dalam prosesnya, maka faktor waktu ini dapat menjadi kendala yang serius. Guru yang ingin melakukan penelitian tindakan kelas harus mampu secara cermat mengelola waktunya untuk melakukan tugas rutinnya yang sekaligus juga untuk melakukan penelitian tindakan kelasnya. Ini menjadi sangat penting karena dapat berakibat kepada efisiensi dan keefektifan kerja guru yang bersangkutan. Sangat boleh jadi faktor pengelolaan waktu ini yang yang menyebabkan para guru merasa enggan atau berat untuk melakukan penelitian tindakan kelas guna meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswanya. Faktor pengelolaan waktu ini juga bisa mengakibatkan kepala sekolah enggan mengizinkan para guru untuk melakukan penelitian tindakan kelas meskipun bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswanya karena ada perasaan khawatir justru akan mengganggu kegiatan pembelajaran yang selama ini telah berjalan lancar.

d. Keengganan atau bahkan kesulitan untuk melakukan perubahan. Pada umumnya, orang enggan, merasa berat, atau bahkan menentang terhadap perubahan karena perubahan berarti kerja keras. Sangat boleh jadi pada diri guru ada juga yang berpikiran dan memiliki perasaan semacam ini. Perubahan melalui penelitian tindakan kelas benar-benar menuntut keseriusan guru, baik dilihat dari aspek tenaga, pikiran, waktu, dan sikap untuk berubah. Selama guru merasa sudah mapan dengan situasi kerjanya, selama itu pula mereka sulit untuk diajak berubah. Padahal, penelitian tindakan kelas menuntut adanya kemauan kuat dari diri guru untuk melakukan perubahan. Keinginan untuk melakukan perubahan ini dimulai dari adanya ketidakpuasan terhadap kegiatan pembelajaran yang selama ini dilakukan dan dianggap sudah menjadi suatu kemapanan. Tuntutan terhadap penelitian tindakan agar dia dapat meyakinkan orang lain bahwa model, metode, strategi, atau teknik-teknik pembelajaran yang ditelitinya benar-benar berjalan secara efektif dan membawa kepada perubahan dan peningkatan kualitas secara nyata. Setelah hasil penelitian itu tercapai, guru harus ingat bahwa temuan penelitiannya hanya berlaku untuk situasi pembelajaran yang ditelitinya. Guru tidak boleh membuat generalisasi untuk semua kegiatan pembelajaran dari berbagai mata pelajaran yang berbeda atau kompetensi dasar yang berbeda. Namun, tidak jarang terjadi bahwa guru sebagai peneliti tindakan kelas tergoda untuk membuat generalisasi ini.

Meskipun penelitian tindakan kelas memiliki kelemahan-kelemahan sebagaimana dipaparkan di atas, penelitian tindakan kelas juga dapat menjadi alat yang ampuh bagi guru untuk mengesahkan model, metode, strategi atau teknik pembelajaran yang selama ini telah diterapkan. Sebab, dengan dilakukannya penelitian tindakan kelas itu berarti sudah dilakukan upaya perbaikan dan peningkatan kualitas terhadap model, metode, strategi, atas teknik pembelajaran tersebut.

Agar penelitian tindakan kelas dapat terlaksana dengan baik, ada sejumlah kondisi tertentu yang perlu diperhatikan, yaitu sebagai berikut:

a. Kesediaan guru untuk mengakui kekurangan atau kelemahan di berkaitan dengan kegiatan pembelajaran yang selama ini dilakukan.

b. Kesempatan yang memadai bagi guru untuk menemukan da mengembangkan sesuatu yang baru.

c. Dorongan yang kuat dari dirinya sendiri untuk mengembangkan gagasan-gagasan baru berkenaan dengan kegiatan pembelajaran..

d. Waktu yang tersedia secara memadai dan keseriusan untuk mengelola waktu tersebut antara kegiatan rutin yang sekaligus juga melakukan penelitian tindakan kelas untuk mencobakan tindakan-tindakan yang baru

e. Berkembangnya kepercayaan timbal balik antara guru, siswa, teman sejawat dan kepala sekolah

 
Terima kasih telah membaca artikel Kelebihan dan Kekurangan PTK
 
Source : Penelitian Tindakan Kelas, Mansyur, M.Si.

Perbedaan Dan Kaitan Penelitian Tindakan Kelas Dengan Penelitian Lain

Perbedaan dan Kaitan Penelitian Tindakan Kelas dengan Penelitian Lain. Setelah sebelumnya kita membahas tentang Tujuan Penelitian Tindakan Kelas dan Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas, maka kali ini kita akan melihat perbedaannya dengan penelitian lain.

Penelitian tindakan kelas memiliki perbedaan yang mendasar dengan bentuk-bentuk penelitian lain yang bukan tindakan kelas. Perbedaan itu tampak dari aspek-aspek berikut ini:

1.    Dasar filosofisnya

2.    Sumber masalahnya

3.    Tujuan penelitiannya

4.    Status penelitinya

5.    Desain proses penelitiannya

6.    Sampel penelitiannya

7.    Metode penelitiannya

Dasar filosofinya, penelitian tindakan kelas adalah bagaimana memperbaiki realitas, yang dalam hal ini adalah realitas proses dan hasil pembelajaran, sedangkan penelitian yang bukan tindakan kelas adalah bagaimana membangun pengetahuan berdasarkan temuan-temuan penelitian yang diperoleh.

Sumber masalahnya, penelitian tindakan kelas adalah hasil diagnosis dan refleksi terhadap proses dan hasil pembelajaran yang selama ini berlangsung, sedangkan pada penelitian yang bukan tindakan kelas adalah hasil proses deduksi-induksi (untuk penelitian kuantitatif atau induksi-deduksi (untuk penelitian kualitatif).

Tujuan penelitiannya, penelitian tindakan kelas adalah bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktik dalam proses dan hasil pembelajaran yang selama ini dilaksanakan, sedangkan penelitian yang bukan tindakan kelas adalah verifikasi dan generalisasi. Selain itu, tujuan penelitian tindakan kelas adalah ingin tahu apa yang sedang terjadi dalam pembelajaran, sedangkan penelitian yang bukan tindakan kelas adalah ingin tahu apa yang sudah terjadi. Akhir kegiatan penelitian tindakan kelas adalah perbaikan rencana kegiatan pembelajaran, sedangkan penelitian yang bukan tindakan kelas adalah memberikan saran-saran.

Status penelitinya, penelitian tindakan kelas adalah kolaborasi sejawat atau kerjasama sesama guru yang setiap harinya melaksanakan proses pembelajaran di kelas, sedangkan penelitian yang bukan tindakan kelas adalah sebagai “orang luar” yang berusaha memahami sesuatu yang terjadi di kelas.

Desain prosesnya, penelitian tindakan kelas adalah siklus tindakan sedangkan penelitian yang bukan tindakan kelas adalah linier dan tidak bersiklus. Jika dibandingkan dengan penelitian eksperimen, maka dalam penelitian eksperimen pada umumnya perlakuan dilakukan satu kali dan menekankan pada hasil eksperimen tersebut, sedangkan penelitian tindakan kolas dilakukan beberapa kali siklus dan lebih menekankan pada proses tindak untuk menghasilkan perbaikan.

Sampel penelitiannya, penelitian tindakan kelas adalah tidak menekankan keterwakilan sampel terhadap populasi karena penelitiannya dilakukan terhadap siswa yang diajarnya, sedangkan penelitian yang bukan tindakan kelas adalah sangat menekankan pentingnya keterwakilan sampel karena akan digunakan untuk membuat generalisasi terhadap populasinya.

Metode penelitiannya, penelitian tindakan kelas cenderung menggunakan metode yang lebih fleksibel dalam beberapa siklus, sedangkan penelitian yang bukan tindakan kelas cenderung menggunakan metode yang lebih “kaku” (fixed) dalam proses penelitian yang bersifat linier.

Untuk lebih memperjelas perbedaan antara penelitian tindakan kelas dengan penelitian yang bukan tindakan kelas, dapat disimak pada Tabel 1-1.

Setelah mengetahui perbedaan antara penelitian tindakan kelas dengan penelitian yang bukan tindakan kelas, pertanyaan berikutnya adalah: “Apakah kaitan antara penelitian tindakan kelas dentin penelitian yang bukan tindakan kelas?” Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya mencermati lebih dahulu beberapa jenis penelitian tindakan sehingga nanti akan tampak di mana keterkaitannya.

Jenis-jenis penelitian tindakan itu adalah:

1. Penelitian tindakan partisipatoris, yaitu penelitian tindakan yang menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat agar merasa berperan serta memiliki program kegiatan sehingga ikut aktif memecahkan masalahnya.

2. Penelitian tindakan kritis, yaitu penelitian tindakan yang menekankan pentingnya upaya serius untuk secara aktif memecahkan masalah-masalah yang sudah kritis.

3. Penelitian tindakan institusi, yaitu penelitian tindakan yang dilakukan oleh pengelola suatu lembaga (misalnya sekolah) sebagai suatu organisasi untuk meningkatkan kinerja, proses, dan produktivitas lembaga.

4. Penelitian tindakan kelas, yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru bekerjasama dengan peneliti atau guru sejawat lainnya di kelas tempat dia mengajar dengan menekankan pada perbaikan dan penyempurnaan proses dan hasil pembelajaran.

Mencermati uraian di atas, maka keterkaitan antara penelitian tindakan kelas dengan penelitian yang bukan tindakan kelas adalah bahwa penelitian yang bukan tindakan kelas itu merupakan langkah awal dari penelitian tindakan kelas. Sedangkan penelitian tindakan kelas merupakan tindak lanjut dari jawaban penelitian yang bukan tindakan kelas yang telah dilaksanakan sebelumnya dan telah memperoleh tamuan-temuan penelitian.

Tujuan Penelitian Tindakan Kelas

Pertanyaan penting berikutnya adalah: “Apa tujuan melakukan penelitian tindakan kelas?” Mengacu pada pembahasan sebelumnya, maka jawaban yang paling inti adalah untuk peningkatan dan perbaikan praktik pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Perkembangan masyarakat dewasa inl sangat cepat dan sangat kompleks sehingga tuntutan terhadap layanan pembelajaran yang harus dilakukan oleh guru juga meningkat.

Penelitian tindakan kelas merupakan salah satu cara yang strategis bagi guru untuk meningkatkan atau memperbaiki layanan pembelajaran tersebut.

Tujuan Penelitian Tindakan Kelas


Tujuan tadi dapat dicapai dengan cara melakukan berbagai tindakan untuk memecahkan berbagai permasalahan pembelajaran di kelas yang selama ini dihadapi, baik disadari atau mungkin tidak disadari. Oleh karena itu, fokus penelitian tindakan kelas adalah terletak kepada tindakan-tindakan alternatif yang direncanakan oleh guru, kemudian dicobakan, dan dievaluasi untuk mengetahui efektivitas tindakan-tindakan alternatif itu dalam memecahkan masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru.

Jika. perbaikan dan peningkatan layanan pembelajaran dapat terwujud dengan baik berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas, menurut Suyanto (1999) ada tujuan penyerta yang juga dapat dicapai sekaligus dalam kegiatan penelitian itu. Tujuan penyerta yang dapat dicapai adalah terjadinya proses latihan dalam jabatan oleh guru selama proses penelitian . tindakan kelas dilakukan. Ini dapat terjadi karena tujuan utama dari penelitian tindakan kelas adalah perbaikan dan peningkatan layanan pembelajaran. Artinya, dengan penelitian tindakan kelas itu guru sekaligus banyak berlatih mengaplikasikan berbagai tindakan alternatif yang telah dipilihnya sebagai upaya untuk meningkatkan layanan pembelajaran. Di sini guru akan lebih banyak, mendapatkan pengalaman tentang keterampilan praktik pembelajaran secara reflektif daripada ilmu baru dari penelitian tindakan kelas yang dilakukan itu. Dalam konteks pengalaman latihan guru ini, Borg (1996) menegaskan bahwa tujuan utama penelitian tindakan adalah untuk pengembangan keteramp
ilan guru berdasarkan pada persoalan-persoalan pembelajaran yang dihadapi guru di kelasnya sendiri, dan bukannya bertujuan untuk pencapaian pengetahuan umum dalam bidang pendidikan.

Dalam konteks tujuan penelitian tindakan kelas ini, secara rinci Suhardjono (2007:61) mengemukakan sebagai berikut:

1.  Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, serta hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah.

2. Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam kelas.

Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan  menumbuh-kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan (sustainable).

Mengacu kepada tujuan penelitian tindakan kelas tersebut, maka luaran atau hasil yang diperoleh dari penelitian tindakan kelas mencakup:

1. Perbaikan dan peningkatan kualitas kinerja belajar siswa.

2. Perbaikan dan peningkatan kualitas proses pembelajaran di kelas.

3. Perbaikan dan peningkatan kualitas penggunaan media, alat bantu belajar, alat peraga, dan sumber belajar lainnya..

4. Perbaikan dan peningkatan kualitas prosedur dan alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur proses pembelajaran dan hasil siswa.

5. Perbaikan dan peningkatan kualitas upaya-upaya pemecahan masalah-masalah pendidikan anak di sekolah.

6. Perbaikan dan peningkatan kualitas penerapan kurikulum dan pengembangan kompetensi siswa.

Pertanyaan berikutnya adalah: “Mengapa guru dipandang tepat untuk melakukan penelitian tindakan kelas?” Setidaknya ada beberapa alasan .

sehingga guru dipandang sebagai pihak yang tepat untuk melakukan penelitian tindakan kelas guna memperbaiki proses pembelajaran:

1. Guru adalah orang yang paling dekat dan paling akrab dengan kelas. Paling akrab karena gurulah yang setiap hari melaksanakan proses pembelajaran di kelas.

2. Guru memiliki otonomi untuk menilai kinerjanya sendiri. Meskipun secara formal ada kepala sekolah dan pengawas sekolah, tetapi guru sesungguhnya bisa menilai kinerja yang dilakukannya sendiri setiap hari.

3. Interaksi guru dengan siswa berlangsung secara unik. Dikatakan unik karena ketika siswa berinteraksi dengan guru tidak akan sama jika dibandingkan dengan ketika berinteraksi dengan personel sekolah lainnya. Bahkan bagi anak sekolah dasar (SD) tidak jarang lebih percaya terhadap apa yang dibicarakan oleh guru dari pada orang tuanya sendiri. Oleh karena itu, kalau sampai melakukan sesuatu yang salah dan tidak disadari sampai bertahun-tahun akan berakibat fatal terhadap perkembangan siswanya.

4. Temuan-temuan penelitian yang bukan penelitian tindakan kelas tidak jarang sulit bisa langsung diterapkan untuk memperbaiki proses pembelajaran. Kadang-kadang temuan penelitian itu terlalu teoritis atau terlalu rumit sehingga guru harus belajar lebih dahulu atau . bahkan harus dilatih dulu untuk bisa menerapkannya dalam proses pembelajaran di kelas.

5. Keterlibatan guru dalam berbagai kegiatan inovatif yang bersifat pengembangan mempersyaratkan guru untuk mampu melakukan penelitian tindakan kelas.

 
 
Source : Penelitian Tindakan Kelas, Dr. Mansyur, M.Si.

Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas

Setelah membaca tentang Pengertian Penelitian Tindakan Kelas pada artikel sebelumnya, maka kali ini kita akan membahas lebih jauh tentang karakter penelitian tindakan kelas.

Mencermati definisi Penelitian Tindakan Kelas yang telah dipaparkan di atas, muncul suatu pertanyaan: “Kalau Penelitian Tindakan Kelas didefinisikan seperti itu, maka apa saja karakteristik penelitian tindakan kelas itu? Semua penelitian memang pada dasarnya dilakukan dalam upaya untuk memecahkan masalah. Jika dilihat dari masalah yang harus dipecahkan, Penelitian Tindakan Kelas memiliki karakteristik penting yaitu masalah diteliti untuk dipecahkan harus selalu berangkat dari persoalan praktik pembelajaran yang dilakukan oleh guru sehari-hari di kelas. Jadi, Penelitian Tindakan Kelas akan dapat dilaksanakan jika guru sejak awal memang menyadari adanya masalah yang terkait dengan proses dan hasil pembelajaran yang dihadapi di kelas dan harus dipecahkan.Persoalannya adalah tidak semua guru mampu melihat sendiri apa yang sudah dilakukan selama mengajar di kelas. Dapat terjadi guru berbuat kekeliruan selama bertahun-tahun dalam melaksanakan proses pembelajaran, tetapi tidak tahu kalau yang dilakukan itu salah. Bahkan, sangat boleh jadi justru merasa yang dilakukannya selama ini diyakini sebagai sesuatu yang benar. Oleh sebab itu, guru dapat meminta bantuan orang lain untuk melihat apa yang selama ini dilakukan dalam proses belajar-mengajar di kelasnya. Di sinilah pentingnya proses kolaborasi atau kerjasama antara guru dengan peneliti.

Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas

Dalam konteks seperti itu, guru dapat bekerjasama dengan peneliti dari perguruan tinggi untuk berdiskusi guna mencari dan merumuskan permasalahan pembelajaran yang selama ini dilakukan di kelas. Dengan kata lain, guru dapat melakukan penelitian tindakan kelas secara kolaboratif dengan peneliti dari perguruan tinggi. Dengan kegiatan secara kolaboratif ini akan muncul pemahaman dan kesadaran terhadap kemungkinan adanya banyak masalah yang telah diperbuat selama guru itu melaksanakan proses pembelajaran selama ini. Suyanto (1997) menegaskan, jika guru bersedia melakukan penelitian tindakan kelas secara kolaboratif dengan para peneliti dari perguruan tinggi, maka banyak manfaat yang akan diperolehnya baik secara profesional maupun secara fungsional untuk meningkatkan karirnya. Karya tulis ilmiah semakin diperlukan oleh guru di masa depan. Penelitian tindakan kelas secara kolaboratif akan mampu menawarkan peluang yang luas terhadap terciptanya karya tulis bagi guru sambil mengajar di kelas sesuai dengan rancangan
penelitian tindakan kelas yang dilaksanakannya.
Karakteristik berikutnya, menurut Suyanto (1997), dapat dilihat dari bentuk nyata kegiatan penelitian tindakan kelas itu sendiri. Penelitian tindakan kelas memiliki karakteristik yang khas, yaitu adanya “tindakan-tindakan tertentu untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas. Sebenarnya, tanpa tindakan tertentu, suatu penelitian dapat saja dilakukan di kelas, tapi penelitian semacam ini tidak tergolong ke dalam penelitian tindakan kelas. Penelitian semacam ini sering disebut dengan istilah “penelitian kelas”. Contohnya, guru melakukan penelitian tentang rendahnya tingkat motivasi belajar siswa. Jika penelitian itu dilakukan tanpa disertai dengan tindakan-tindakan tertentu, maka jenis penelitian yang dicontohkan itu bukan termasuk dalam penelitian tindakan kelas. Penelitian yang dicontohkan itu hanya sekedar ingin tahu, tidak ingin memperbaiki keadaan rendahnya motivasi belajar siswa melalui tindakan-tindakan tertentu.

Sebaliknya, jika dengan penelitian itu guru mencoba dengan berbagai tindakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan lebih efektif dan hasil belajar siswa menjadi lebih baik, maka penelitian itu termasuk dalam penelitian tindakan kelas. Tindakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa itu bisa dalam bentuk menciptakan sistem kompetisi jenis-jenis bacaan secara berkelompok dan dipresentasikan di depan kelas secara bergantian, dapat juga dilakukan dengan menyediakan buku-buku bacaan yang menarik bagi siswa, atau dapat juga dilakukan dengan memberikan pertanyaan kuis pada setiap guru akan mulai mengajar sehingga mau tidak mau pada malam harinya siswa harus membaca buku.

Suhardjono (2007:62) mengajukan beberapa karakteristik penelitian tindakan kelas, yaitu:

1. Adanya tindakan (action). Tindakan itu dilakukan pada situasi alami (bukan dalam laboratorium) dan ditujukan untuk memecahkan permasalahan praktis. Tindakan tersebut merupakan sesuatu kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu.

2. Penelitian tindakan kelas merupakan kegiatan penelitian yang tidak saja berupaya untuk memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari dukungan ilmiahnya. Penelitian tindakan kelas merupakan bagian penting dari upaya pengembangan profesional guru (tumbuhnya sikap profesional dalam diri guru) karena penelitian tindakan kelas mampu membelajarkan guru untuk berpikir kritis dan sistematis, mampu membiasakan membelajarkan guru untuk menulis dan membuat catatan.

3. Hal yang dipermasalahkan bukan dihasilkan dari kajian teoretis atau dari hasil penelitian terdahulu, tetapi berasal dari adanya permasalahan yang nyata dan aktual yang terjadi dalam pembelajaran di kelas. Dengan kalimat Iain, penelitian tindakan kelas berfokus pada masalah praktis bukan problem teoritis atau bersifat bebas konteks.

4. Penelitian tindakan kelas dimulai dari permasalahan yang sederhana, nyata, jelas, dan tajam mengenai hal-hal yang terjadi di dalam kelas.

5. Adanya kolaborasi (kerjasama) antara praktisi (guru, kepala sekolah, siswa, dan lain-lain) dan peneliti dalam pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan, pengambilan keputusan yang akhirnya melahirkan kesamaan tindakan (action).

6. Di samping itu, penelitian tindakan kelas dilakukan hanya apabila ada (a) keputusan kelompok dan komitmen untuk pengembangan, (b) bertujuan meningkatkan profesionalisme guru, (c) alasan pokok: ingin tahu, ingin membantu, ingin meningkatkan, dan (d) bertujuan memperoleh pengetahuan dan/atau sebagai pemecahan masalah.

Mencermati uraian dan ilustrasi di atas, sesungguhnya dapat dikemukakan beberapa karakteristik inti dari penelitian tindakan kelas, yaitu:

1. Masalah berasal dari guru

2. Tujuannya memperbaiki pembelajaran

3. Metode utama adalah refleksi diri dengan tetap mengikuti kaidah-kaidah penelitian

4. Fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran

5. Guru bertindak sebagai pengajar dan peneliti.

Jadi, adanya “tindakan-tindakan” tertentu dalam penelitian kelas inilah yang juga menjadi karakteristik penting bagi penelitian tindakan kelas. Penting untuk dipertegas di sini bahwa: “Tindakan seperti apakah yang dapat dikategorikan sebagai tindakan dalam penelitian tindakan kelas itu?” Suharsimi (2007) menceritakan pengalamannya menilai karya tulis ilmiah yang dibuat ulah guru, ternyata masih banyak yang keliru menafsirkan penelitian tindakan kelas. Pada sampul depan ditulis “Penelitian Tindakan Kelas”, tetapi di bagian dalam ternyata hanya menguraikan proses pembelajaran biasa. Dalam penjelasannya memang guru sudah melakukan sesuatu, tetapi sesungguhnya guru hanya melakukan proses pembelajaran seperti biasa saja. Misalnya: guru memberikan lembar kerja kepada siswa, atau guru memberikan tugas untuk dikerjakan siswa di luar kelas, atau guru menugaskan siswa menghafalkan rumus untuk digunakan siswa di kelas. Tindakan-tindakan semacam ini sesungguhnya bukan merupakan tindakan yang dikehendaki oleh penelitian t
indakan kelas. Suharsimi (2007) menegaskan bahwa prinsip dasar tindakan. dalam penelitian tindakan kelas adalah “tindakan yang diberikan oleh guru kepada siswa dengan maksud meningkatkan prestasi belajar siswa melalui peningkatan kegiatan siswa.”

Untuk memperjelas kriteria “tindakan” dalam penelitian tindakan kelas, berikut ini disajikan ilustrasi kasus: Seorang guru IPA di suatu SMP mengamati bahwa siswa pada umumnya merasa senang ketika ditugaskan melakukan praktikum di laboratorium. Begitu diberitahukan untuk melakukan praktikum dan guru memberikan lembar petunjuk pelaksanaan praktikum, mereka segera menuju laboratorium, mengambil peralatan praktikum, mengambil bahan, dan melaksanakan praktikum. Guru tidak sempat menunggui secara utuh ketika siswa melakukan praktikum. Setelah selesai, siswa menyusun laporan dan langsung menyerahkan kepada guru. Ketika guru membaca laporan praktikum yang disusun oleh siswa, guru merasa kecewa karena pada umumnya laporannya kurang sistematis dan isinya jauh dari teori praktikum yang seharusnya. Oleh sebab itu, guru tersebut berniat untuk membimbing agar siswa mampu melaksanakan praktikum dan membuat laporan dengan benar. Kalau hanya diberitahu saja, dan dipesan agar waktu memasuki laboratorium harus hati-hati, mengam
bil alat-alat praktikum dengan cermat, sangat boleh jadi pesan guru tersebut tidak terlalu diperhatikan.

Oleh sebab itu, sebagai guru yang bijaksana, dia berusaha menganalisis dan mengenali apa saja kelemahan-kelemahan yang terjadi ketika siswa melakukan praktikum. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, guru tersebut memperoleh beberapa aspek dari keseluruhan kegiatan praktikum yang harus dibenahi, yaitu:

1. Ketika guru membagikan lembar petunjuk praktikum, siswa tidak diberikan kesempatan untuk menelaah dan menanyakan hal-hal yang belum dipahami. Barangkali masih ada yang tidak dipahami oleh siswa dalam petunjuk praktikum tersebut, tetapi siswa langsung melakukan praktikum. Tentu saja pada bagian yang belum dipahami  itu menyebabkan siswa melakukan praktikum dengan tidak benar. Bagian ini akan dicari cara untuk memperbaikinya. Ketika siswa mengambil alat-alat dan bahan praktikum tidak diberitahu secara rinci agar hari-hati serta bergiliran dan berurutan dalam mengambilnya. Bagian ini juga akan diperbaiki.

3. Ketika siswa melaksanakan praktikum, guru tidak selalu menunggui dan mengamati dengan sungguh-sungguh cara siswa bekerja sejak awal sampai akhir. Bagian ini juga menjadi perhatian guru untuk diperbaiki.

4. Ketika siswa menyusun laporan tidak dibimbing, langsung disuruh menyusunnya, dan kemudian langsung diserahkan kepada guru. Hasil praktikum belum tentu dikuasai oleh siswa karena tidak ada kesempatan untuk menelaah bersama-sama guru. Bagian ini juga menjadi perhatian guru untuk diperbaiki. Setelah guru menganalisis kelemahan-kelemahan tersebut, selanjutnya merumuskan tindakan-tindakan perbaikan proses pembelajaran praktikum tersebut, yaitu:

1. Setelah petunjuk praktikum diperbanyak dan dibagikan kepada siswa, seluruh siswa diberikan kesempatan untuk membaca dan memahami secara cermat dan diberikan kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahami. Setelah guru yakin bahwa semua siswa memahami petunjuk praktikum, maka siswa disuruh mulai melaksanakan praktikum.

2. Guru memberikan petunjuk agar siswa dalam mengambil alat-alat dan bahan praktikum harus bergiliran dan berurutan. Ini dilakukan karena guru yakin bahwa jika siswa diberi panduan untuk mengambil alat-alat dan bahan praktikum secara bergiliran dan dengan urutan yang benar, maka siswa akan tertib, tidak berebut, dan melakukannya secara hati-hati.

3. Selain membuat petunjuk praktikum, guru juga membuat lembar pengamatan yang digunakan untuk mengamati kegiatan siswa ketika sedang melakukan praktikum. Dengan cara demikian, siswa dapat melaksanakan praktikum dengan lancar, tidak mengalami kebingungan, dan tidak akan bekerja secara seenaknya karena selama melaksanakan praktikum senantiasa diamati oleh guru.

4. Untuk menjaga agar laporan yang disusun oleh siswa memenuhi syarat, maka guru membuat pedoman penyusunan laporan dan dibagikan kepada siswa.

5. Agar siswa memahami isi hasil praktikum yang dituangkan dalam laporan, maka guru mengajak siswa untuk membahasnya secara keseluruhan.

Berikut ini disajikan beberapa contoh kegiatan guru yang tidak mencerminkan adanya “tindakan’ sebagaimana yang dikehendaki oleh penelitian tindakan kelas:

1. Guru merasa kesal karena setiap hari banyak siswa yang datang terlambat. Kedatangan siswa terlambat seperti itu tentu saja mengganggu kelas yang sedang berlangsung proses pembelajaran. Tindakan guru adalah memberikan peringatan bahwa bagi siswa yang terlambat tidak boleh masuk kelas.

2. Guru merasa tidak puas dengan perilaku siswanya yang ketika mengerjakan ulangan banyak yang menyontek. Guru membuat peraturan agar sebelum ulangan dimulai semua catatan harus dikumpulkan di meja guru dan setelah itu guru baru membagikan soal ulangan.

3. Beberapa siswa tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR) sehingga ketika guru mengajak siswa untuk membahas hasil PR siswa tersebut tidak bisa mengikuti secara aktif. Oleh karena itu, guru memberi surat kepada orang tua siswa tersebut agar mengingatkan anaknya.

Ketiga contoh tersebut tidak mencerminkan adanya “tindakan” karena guru tidak memberikan kegiatan kepada siswa sehingga mereka harus melakukan sesuatu. Pada contoh 1 guru hanya memberi peringatan seperti biasanya. Peringatan semacam itu sudah berulang-ulang diberikan, tetapi kejadian yang sama tetap saja muncul. Pada contoh 2 guru menyuruh siswa untuk mengumpulkan catatan di atas meja guru. Memang dengan cara seperti ini siswa tidak dapat menyontek karena catatannya tidak ada pada mereka, tetapi ini bukan perintah yang menuntut siswa mengerjakan sesuatu untuk perbaikan dirinya. Pada contoh 3 justru contoh yang tidak baik karena guru tidak mengatasi sendiri dengan tindakan perbaikan, melainkan justru meminta bantuan orang tua siswa.

Ada tiga unsur yang senantiasa harus diperhatikan dalam penelitian-tindakan kelas, yaitu:

1. Pemberi tindakan, yaitu guru.

2. Subjek tindakan, yaitu siswa.

3. Tindakan yang berupa sesuatu kegiatan yang harus dilaksanakan oleh siswa sebagai subjek tindakan dan tindakan itu menjadi pengarahan kepada siswa untuk melakukan perbaikan.

Berdasarkan karakteristik penelitian tindakan kelas yang telah dipaparkan di atas, maka ada sejumlah masalah penting yang dapat dijadikan bahan kajian dalam penelitian tindak kelas, yaitu:

1. Masalah belajar siswa di sekolah, misalnya: rendahnya motivasi belajar, rendahnya minat baca, kurangnya kemampuan siswa memahami teks, kurangnya kemampuan penguasaan konsep hitungan, rendahnya keaktifan belajar siswa di kelas, dan sebagainya.

2. Pengembangan sikap dan kebiasaan belajar siswa, misalnya: pengembangan sikap berpikir ilmiah pada diri siswa.

3. Pengembangan profesionalisme guru dalam rangka meningkatkan mutu perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi program pembelajaran.

4. Desain dan strategi pembelajaran di kelas, misalnya: inovasi dan implementasi model pembelajaran atau metode pembelajaran tertentu.

5. Implementasi kurikulum, misalnya: pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa.

6. Media, alat peraga, dan sumber belajar lainnya, misalnya: penggunaan alat peraga tertentu untuk meningkatkan kegairahan belajar siswa; pemanfaatan perpustakaan oleh siswa; atau pemanfaatan sumber belajar di luar sekolah.

7. Sistem evaluasi proses dan hasil pembelajaran, misalnya : pengembangan alat evaluasi berbasis kompetensi; atau efektivitas penggunaan alat evaluasi tertentu.

 
Source : Penelitian Tindakan Kelas, Dr. Mansyur, M.Si.