Pandangan Qasim Amin Terhadap Emansipasi Wanita

Oleh Sholeh Ahmad

Qasim Amin yang nama lengkapnya, Qasim Amin Bey dilahirkan di kota Iskandariyah (Mesir) pada bulan Desember 1863. Ayahnya bernama Muhamad Beek Amin berasal dari Turki (Suku Kurdi). Qasim Amin memulai pendidikannya dari sekolah dasar pada umur 8 tahun. Kemudian melanjutkan ketingkat Madrasah Tsanawiyah di Kairo. Setelah tamat dari Tsanawiyah, kemudian melanjutkan ke Perguruan Tinggi pada tahun 1881 dalam usianya yang ke-18 tahun, ia pernah dikirim belajar ke Universitas Montoelhier Perancis Pada Fakultas Hukum hingga mencapai gelar kesarjanaannya. Dengan bekal ilmu yang dimiliki telah membawanya menjadi seorang hakim terkenal di Mesir, yang bekerja sebagai pengacara[1].

Qasim Amin yang pernah menjadi murid Muhammad Abduh (tokoh pembaharuan di Mesir tahun 1849-1905) dan tinggal di Kairo, selama mengikuti pendidikan di Perancis dengan polemik-polemik misionis Kristen yang didalaminya telah meyakinkan dirinya bahwa purdal, poligami dan perceraian adalah penyebab kelemahan kemunduran umat Islam.

Bermula dari pandangan terhadap kebudayaan barat, Qasim Amin berpendapat bahwa kebudayaan yang paling sempurna adalah kebudayaan yang dibangun atas dasar sains, oleh karena kebudayaan Islam yang berkembang tidak dibangun diatas dasar sains, maka tidak bisa dijadikan model kebudayaan. Sebagaimana kebudayaan klasik, kebudayaan Islampun mengalami kehancuran. Qasim Aminpun selanjutnya mengatakan bahwa kebudayaan Islam adalah kebudayaan yang sepi dari semangat moral, dan iapun menolak anggapan bahwa orang-orang Islam sekalipun zaman nabi dikatakan lebih baik dari orang lain, jalan menuju sempurna katanya, adalah dengan ilmu pengetahuan, maka Eropa terus bergerak maju menuju masyarakat yang sempurna. Eropa adalah idola dalam semua hal. Qasim Amin menulis yamg nampaknya mudah dimengerti jika ada orang yang berkata bahwa Eropa maju material sedangkan kita secara moral lebih baik, pernyataan ini adalah sama sekali tidak benar. Secara moral orang-orang Eropa lebih maju, dan semua aspek kehidupannya mengandung kebenaran, termasuk didalamnya tentang kebebasan wanitanya, karena tidak berdasarkan pada kebiasaan dan perasaan, tetapi berdasar pada rasional dan ilmiah. Tidak ada artinya mengambil sains Eropa tanpa mengambil moralnya, kedua-duanya tidak dapat dipisahkan [2].

Pokok-pokok pikiran tersebut diatas telah memberikan inspirasi pada Qasim Amin, sehingga pada tahun 1899 ia menulis buku terkenal yang diberi judul ”Tahrir al Mar’ah“ atau “Emansipasi Wanita”. Ada perbedaan pandangan antara Qasim Amin dengan gurunya (Muhammad Abduh) mengenai penyebab kemajuan kaum wanita. Qasim Amin mengidolakan kehidupan Eropa dalam suatu hal, termasuk kebebasan kaum wanitanya harus ditiru kalau ingin maju [3]. Muhammad Abduh memandang sebaliknya, bahwa wanita Islam sebenarnya menduduki kedudukan tinggi, tetapi adat istiadat yang berasal dari luar Islam-lah yang mengubah hal itu, sehingga akhirnya wanita Islam mempunyai kedudukan rendah dalam masyarakat [4].

Pandangan-pandangan Qasim Amin mengenai kedudukan wanita dalam Islam. Ia berpendapat bahwa umat Islam mundur karena kaum wanita khususnya di Mesir yang merupakan setengah dari penduduknya tidak pernah memperoleh pendidikan sekolah. Pendidikan terhadap wanita perlu bukan hanya agar mereka dapat mengatur rumah tangga dengan baik tetapi lebih dari pada itu untuk dapat memberikan pendidikan dasar bagi anak-anaknya.

Sesungguhnya dalam ajaran Islam tidaklah ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam mendapatkan ilmu pengetahuan. Dari sini Qasim Amin melihat bagi kaum wanita belajar sekurang-kurangnya dari pendidikan dasar, sehingga mereka memiliki penguasaan pada sendi-sendi keilmuan yang bisa membuat mereka mampu memiliki kesesuaian dengan keinginannya serta bisa mengerjakan sesuatu secara teliti atau cermat [5]. Qasim Amin juga menentang pilihan sepihak dalam soal pengetahuan seperti poligami dan perceraian. Menurut pendapatnya wanita harus diberi hak sama dengan pria dalam memiliki jodoh. Oleh karena itu ia menuntut supaya istri diberi hak cerai. Sesungguhnya poligami dalam Al-Qur’an, pada hakekatnya mengajarkan monogami. Menurutnya sistem perkawinan pada saat ini yang bagi pria dapat memiliki wanita dengan pilihan sepihak dan dihadiri oleh dua orang saja adalah dianggap sebagai pendapat yang keliru dan merendahkan kedudukan wanita. Begitupun poligami adalah wujud penghinaan terhadap wanita, karena tidak ada wanita yang ingin dimadu, sebagaimananya tidak adanya laki-laki senang bila diganggu istrinya, sebab ini merupakan tabiat bagi pria dan wanita [6]. Firman Allah Swt. dalam surat An-Nisa’ (4) : 129, Sebenarnya menunjukkan adanya larangan poligami, karena tidak ada kemungkinan untuk pria berlaku adil, meskipun dilakukan dengan susah payah. Bisa dilakukan apabila ada persetujuan dari istrinya, tanpa alasan ini tidak dibenarkan secara mutlak [7]. Disisi lain Thalaq adalah suatu yang dihalalkan, tetapi sangat dibenci oleh Allah Swt. Oleh karena itu Qasim Amin mensyaratkan hendaknya prosedur tentang thalaq dipersulit agar si suami menjatuhkan thalaq tidak sekehendak hatinya, dan menganjurkan agar saksi dapat dijadikan sebagai rukun thalaq [8].

Ide Qasim Amin yang banyak menimbulkan reaksi di zamannya adalah bahwa penutupan wajah bagi wanita bukanlah ajaran Islam. Tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadist bahwa wajah wanita merupakan aurat oleh karena itu harus ditutup. Penutupan wajah adalah kebiasaan yang kemudian dianggap sebagai ajaran Islam. Demikian juga soal pemisahan wanita dalam pergaulan, tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadist. Penutupan wajah dan pemisahan membaur kepada kedudukan rendah dan menghambat kehebatan dan pengembangan daya-daya mereka untuk mencapai kesempurnaan [9].

Dari berbagai pihak berdatangan kritik dan protes terhadap ide-ide yang dikemukakan oleh Qasim Amin itu, sehingga ia melihat perlu memberi jawaban yang dikeluarkan dalam bentuk buku bernama : The New Woman (Al-Mar’ah Al-Jadidah atau Wanita Modern), terbit pada tahun 1901 dimana isinya adalah menyerang purdah dan gambaran tentang potret kehidupan rumah tangga muslim pada masa kegelapan. Qasim Amin menulis :

“ Lelaki adalah penguasa mutlak, sedangkan wanita jadi budak. Ia adalah obyek kepuasan hawa nafsu, barang mainan yang dipakai kapan saja menurut kemauannya. Ilmu untuk pria, wanita tak berhak apapun. Cakrawala dan cahaya untuk lelaki, kegelapan dan kamar terkunci untuk wanita. Lelaki adalah komando, wanita harus tunduk tanpa syarat. Lelaki memiliki segalanya, wanita menjadi barang tidak berarti “ [10].

Qasim Amin juga menerangkan bahwa pembaharuan rumah tangga muslim haruslah meniru gaya barat, karena sebagai obat paling mujarab untuk menyembuhkan problem sosial di dunia Islam. Qasim Amin selanjutnya menulis : “ Lihatlah negara-negara timur, engkau akan menemukan wanita-wanita disana menjadi budak lelaki, lelaki adalah penguasa, lelaki adalah penindas dirumahnya, wanita dibelenggu bila ditinggal di luar rumah. Kemudian lihatlah negara-negara barat, pemerintah berjalan atas dasar kebebasan dan menghormati hak-hak pribadi serta status wanita dijunjung tinggi dan bebas mendapatkan kehormatan dan kebebasan berfikir dan bergerak” [11] .

Pada intinya dalam buku tersebut di atas Qasim Amin lebih kuat dan mempertahankan dan memperjuangkan kebebasan agar bergaya hidup sebagaimana wanita-wanita di barat yang telah memperoleh kebebasan dan penghargaan yang tinggi.


[1] Lihat Qasim Amin, Tahrir Al-Mar’ah (Kairo : 1899), h. 7.

[2] Lihat Albert Hourani, Arabic Througt In The Liberal Age, (London : Oxford University Press, 1962), h. 168-169.

[3] Ibid.

[4] Lihat Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan (Cet. 13 ; Jakarta : Bulan Bintang, 2001), h. 70.

[5] Qasim Amin, Op. Cit., h. 32.

[6] Ibid., h. 149.

[7] Lihat Harun Nasution, Op. Cit., h. 70.

[8] Qasim Amin, Op. Cit., h. 170.

[9] Harun Nasution, Op.Cit., h. 71.

[10] Lihat Samuel Zwemer, Childhood in The Muslim World (New York : Fleming H. Revell Co., 1915), h. 158

[11] Albert Hourani, Op. Cit., h. 168.