Desain Penelitian Eksperimen

PENDAHULUAN

Jenis penelitian lain yang juga sering dilakukan oleh seorang peneliti di bidang pendidikan adalah penelitian eksperimen. Dalam penelitian eksperimen, variabel -variabel yang ada termasuk variabel  bebas atau independent variabel  dan variabel  terikat (dependent variabel), sudah ditentukan secara tegas oleh para peneliti sejak awal penelitian.

Variabel bebas biasanya merupakan variabel yang dimanipulasi secara sistematis. Di bidang pendidikan, yang diidentifikasi sebagai variabel  bebas diantaranya termasuk: metode mengajar, macam-macam penguatan (reinforcement), frekuensi penguatan, sarana prasarana pendidikan, lingkungan belajar, materi belajar, jumlah kelompok belajar, dan sebagainya. Sedangkan variabel   terikat yang sering juga disebut sebagai criterion variabel  merupakan variabel  yang diukur sebagai akibat adanya manipulasi pada variabel  bebas.  Variabel  terikat ini disebut dependent variabel  karena memang fungsi mereka tergantung dari variabel  bebas. Yang sering dikelompokkan sebagai variabel  terikat di bidang pendidikan, misalnya hasil belajar siswa, kesiapan belajar siswa, kemandirian siswa, dan sebagainya.

Metode penelitian eksperimen merupakan metode penelitian yang paling produktif, karena jika penelitian tersebut dilakukan dengan baik dapat menjawab hipotesis yang utamanya berkaitan dengan hubungan sebab akibat. Disamping itu, penelitian eksperimen juga merupakan salah satu bentuk penelitian yang memerlukan syarat yang relative lebih ketat jika dibandingkan dengan jenis penelitian lainnya. Hal ini karena sesuai dengan maksud para peneliti yang menginginkan adanya kepastian untuk memperoleh informasi tentang variabel  yang mana yang menyebabkan sesuatu terjadi dan variabel  yang memperoleh akibat dari terjadinya perubahan dalam suatu kondisi eksperimen.

Jadi, dengan kata lain, suatu penelitian eksperimen pada prinsipnya dapat didefinisikan sebagai metode sistematis guna membangun hubungan yang mengandung fenomena sebab akibat (causal-effect relationship). Contoh hubungan sebab akibat dibidang pendidikan misalnya, seorang mahasiswa yang mempunyai nilai matematika tinggi cenderung  berhasil dalam menyelesaikan mata kuliah merencana mesin. Penelitian eksperimen pada umumnya dilakukan oleh peneliti untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan sesuatu jika dilakukan pada kondisi yang dikontrol dengan teliti, maka apa yang akan terjadi?. Disamping itu, penelitian eksperimen dilakukan oleh peneliti dengan tujuan mengatur situasi dimana pengaruh beberapa variabel  terhadap satu atau variabel  terikat dapat diidentifikasi.

Konsep metode eksperimen dimulai dengan pengertian yang sederhana misalnya tentang pertanyaan yang berkaitan dengan bagaimanakah hubungan satu atau lebih variabel  dalam suatu kondisi tertentu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, seorang peneliti pada umumnya akan mengembangkan satu atau lebih hipotesis yang menyatakan hubungan yang diharapkan, membuat desain penelitian, mencari dan mengorganisasi data untuk kemudian menganalisis dan akhirnya memperoleh jawaban hipotesis di atas. Sebagai contoh misalnya, untuk mendapatkan pengaruh antara dua metode mengajar pada mata kuliah metodologi penelitian sebagai fungsi besarnya jumlah siswa dalam kelas (besar dan kecil), dan tingkat intelegensi mahasiswa (tinggi, rata dan rendah), kemudian pada akhir penelitian diukur hasil pencapaian belajar dengan tes hasil belajar.

Di bidang pendidikan, penelitian eksperimen dapat dibedakan menjadi dua macam bentuk, yaitu penelitian di dalam laboratorium dan penelitian di luar laboratorium. Penelitian di laboratorium, dilaksanakan peneliti di dalam ruangan tertutup atau dalam kondisi tertentu untuk meningatkan intensitas yang lebih teliti terhadap variabel  yang diteliti. Sedangkan penelitian  di luar laboratorium yang juga disebut penelitian lapangan, biasanya dilakukan oleh peneliti guna mendapatkan hasil penelitian yang mendekati dengan lingkungan nyata, misalnya masyarakat.

Dalam penelitian eksperimen lapangan pada umumnya  dapat berupa kegiatan kelas, sekolah, kegiatan praktek di bengkel, atau pertemuan sekolah lainnya diambil secara alami. Sejalan dengan subyek yang diteliti adalah anak atau seorang manusia, di bidang pendidikan dari kedua macam bentuk penelitian eksperimen tersebut penelitian di luar laboratorium adalah bentuk penelitian eksperimen tersebut penelitian di luar laboratorium adalah bentuk penelitian yang paling banyak di lakukan, karena mempunyai beberapa keunggulan seperti:

  1. Variabel  eksperimen dapat lebih kuat di lapangan dibandingkan penelitian di laboratorium.
  2. Lebih mudah dalam memberikan perlakuan.
  3. Dapat dilakukan proses eksperimen dengan setting yang mendekati keadaan sebenarnya.
  4. Hasil eksperimen lebih actual dengan permasalahan yang dihadapi oleh para pendidik

Walaupun demikian, eksperimen di laboratorium juga memililki keunggulan yang utama adalah bahwa penelitian eksperimen di laboratorium lebih cocok untuk problem yang berkaitan dengan misi pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu pendidikan.

Di bidang pendidikan, ada dua alasan mengapa penelitian eksperimen cocok dilakukan. Pertama, metode pengajaran yang lebih tepat di-setting secara alami dan dikomparasikan di dalam keadaan yang tidak bias. Kedua, penelitian dasar (fundamental research) dengan tujuan menurunkan prinsip-prinsip umum teoritis ke dalam ilmu terapan yang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh para penyelenggara sekolah.

PEMBAHASAN

Karakteristik Penelitian Eksperimen

Penelitian eksperimen pada umumnya, menurut (Ary, 1985), mempunyai tiga karakteristik penting yaitu:

1)      Variabel bebas yang dimanipulasi.

2)      Variabel lain yang mungkin berpengaruh dikontrol agar tetap konstan.

3)      Efek atau pengaruh manipulasi variabel bebas dan variabel terikat diamati secara langsung oleh peneliti.

Ketiga karakteristik tersebut secara singkat diuraikan seperti pada subbab berikut ini

Memanipulasi

Karakteristik pertama yang selalu ada dalam penelitian eksperimen adalah adanya tindakan manipulasi variabel yang secara terencana dilakukan oleh si peneliti. Memanipulasi variabel ini tidak mepunyai arti yang negatif seperti yang terjadi di luar konteks penelitian. Yang dimaksud dengan manipulasi yaitu tindakan atau perlakuan yang dilakukan oleh seorang peneliti atas dasar pertimbangan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka guna memperoleh perbedaan efek dalam variabel terikat. Pada penelitian pendidikan dan penelitian tingkah laku, manipulasi variabel, misalnya peneliti mengambil bentuk sifat dimana peneliti melaksanakan sesuatu sebagai penentu awal dengan kondisi yang bervariasi pada subjek yang diteliti. Misalnya dalam suatu proses penelitian laboratorium, dua kelompok yaitu treatment dan kelompok kontrol diberikan suhu ruangan yang bertingkat, yaitu dingin sedang dan panas.

Perbedaan kondisi ruang  tersebut direncanakan sebagai penentu awal agar mereka memperoleh hasil yang mungkin berbeda diantara kedua grup. Perbedaan yang muncul tersebut diperhitungkan sebagai akibat adanya manipulasi variabel  terhadap dua kelompok.

Mengontrol variabel

Karakteristik kedua  yang selalu ada dalam penelitian eksperimen yaitu adanya kontrol yang secara sengaja dilkukan oleh peneliti terhadap variabel atau ubahan yang ada. Mengenai apa yang dimaksud kontrol (Gay, 1982) adalah seperti berikut.

Control is an effort on the part of researcher to remove the influence of any variabel  other than the independent variabel  that ought affect perfomance on a dependent variabel .

Mengontrol merupakan usaha peneliti untuk memindahkan pengaruh variabel lain pada variabel terikat yang mungkin mempengruhi penampilan variabel tersebut. Kegiatan mengontrol suatu variabel atau subjek dalam penelitian eksperimen memiliki peranan penting, karena tanpa melakukan kontrol secara sistematis, seorang peneliti tidak mungkin dapat melakukan evaluasi dengan melakukan pengukuran secara cermat terhadap variabel terikat. Untuk mengatasi hal tersebut maka proses eksperimen harus dipisahkan dengan variabel luar (ekstraneous variabel s) yang tidak diperlukan tetapi memiliki potensi yang mungkin dapat mempengaruhi hasil pengukuran pada variabel terikat. Dengan dilakukannya pemisahan variabel luar dengan variabel yang diperlukan tersebut, sehingga peneliti yakin bahwa apabila terjadi perbedaan pada variabel terikat di antara grup kontrol dan grup treatmen. Atau dengan kata lain, perbedaan tersebut disebabkan oleh perubahan treatmen yang dilakukan oleh peneliti pada variabel bebas.

Dalam penelitian eksperimen, seorang peneliti jarang hanya melakukan pengamatan pada grup kontrol. Mereka biasanya juga mengamati grup lain yang memperoleh perlakuan khusus, kemudian mereka melakukan analisis perbedaan antara keduanya-grup eksperimen dan grup kontrol.

Dalam pelaksanaan penelitian eksperimen, kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebaiknya diatur secara intensif sehingga kedua variabel mempunyai karakteristik sama atau mendekati sama. Yang membedakan  dari kedua kelompok ialah bahwa grup eksperimen diberi treatment atau perlakuan tertentu, sedangkan grup kontrol diberikan treatment seperti keadaan biasanya.

Melakukan observasi

Karakteristik ketiga dalam suatu penelitian eksperimen adalah adanya tindakan observasi yang dilakukan oleh peneliti selama proses eksperimen berlangsung. Selama proses penelitian berlangsung, peneliti melakukan observasi terhadap kedua  kelompok tersebut. Tujuan melakukan observasi adalah untuk melihat dan mencatat fenomen apa yang muncul yang memungknkan terjadinya perbedaan diantara kedua kelompok.

Tindakan observasi dilakukan peneliti pada umumnya mempunyai tujuan agar dapat mengamati dan mencatat fenomena yang muncul dalam variabel terikat sebagai akibat dari adanya kontrol dan manipulasi variabel.

Dalam proses eksperimen  yang biasanya menerima akibat terjadinya perubahan secara sistematis dalam variabel bebas.

Proses Penelitian Eksperimen

Langkah penelitian eksperimen pada prinsipnya sama dengan jenis penelitian lainnya. Yang secara eksplisit dapat dilihat sebagai berikut.

1)      Melakukan kajian secara induktif yang berkaitan erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.

2)      Mengidentifikasi permasalahan.

3)      Melakukan studi literatur dari beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan definisi operasional dan variabel.

4)      Membuat rencana penelitian yang di dalamnya mencakup kegiatan: Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; Menentukan cara untuk mengontrol mereka; Memilih desain riset yang tepatl; Menentukan populasi, memilih sampel yang mewakili dan memilih (assign) sejumlah subjek penelitian; Membagi subjek ke dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; Membuat instrumen yang sesuai, memvalidasi instrumen dan melakukan pilot study agar memperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; dan Mengidentifikasi prosedur pengupulan data, dan menentukan hipotesis.

5)      Melakukan eksperimen

6)      Mengumpulkan data kasar dari proses eksperimen

7)      Mengorganisasi dan mendeskripsikan data sesuai dengan variabel yang telah ditentukan.

8)      Melakukan analisis data dengan  teknik statistika yang relevan.

Pada kondisi yang sama (Gay, 1982:201) dalam penelitian eksperimen menekankan perlu adanya langkah-langkah yang penting seperti berikut

a)      Adanya permasalahan yang signifikan untuk diteliti.

b)      Pemilihan subjek yang cukup untuk dibagi dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

c)      Pembuatan atau pengembangan instrumen.

d)     Pemilihan desain penelitian.

e)      Eksekusi prosedur.

f)       Melakukan analisis data.

g)      Memformulasikan kesimpulan

Dalam penelitian eksperimen peneliti diharuskan menyusun variabel-variabel minimal satu hipotesis yang menyatakan harapan hubungan sebab akibat di antara variabel-variabel yang terjadi.

Desain Penelitian Eksperimen

Secara definisi, desain penelitian mempunyai dua macam pengertian, yaitu secara luas dan sempit. Secara luas, desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksaan penelitian. Dalam hal ini komponen desain dapat mencakup semua struktur penelitian yang diawali sejak menemukan ide, menentukan tujuan, kemudian merencanakan proses penelitian, yang di dalamnya mencakup perencanaan permasalahan, merumuskan, menentukan tujuan penelitian, mencari sumber informasi dan melakukan kajian dari berbagai pustaka, menentukan metode yang digunakan, analisis data dan mengetes hipotesis untuk mendapatkan hasil penelitian, dan sebagainya. Arti desain penelitian secara luas ini didukung oleh pendapat dari beberapa ahli (babbie, 1983), (Gay, 1983) dan (Nazir, 1988). Lebih jauh (Babbie, 1983), tentang desain penelitian yang mengatakan bahwa research design addresses the planning of scientific inquires.

Seorang peneliti memang perlu mempertimbangkan sejakl munculnya rasa ketertarikan mereka terhadap masalah yang muncul dalam suatu objek atau subjek di sekitarny, kemudian diteruskan pemikiran lebih jauh guna menangkap dan merangkaikan ide dan  teori yang mendasari dari interes peneliti terhadap sesuatu yang  ingin diteliti. Atau dengan kata lain, pemikiran dari yang masih sifatnya abstrak ini dilanjutkan sampai pada langkah yang lebih nyata atau operasional, di anntaranya yaitu menghubungkan pada konteks dan permasalahan. Variabel yang terikat dalam permasalahan, pemilihan metode, tehnik sampling, administrasi data, dan sampai akhirnya pada pembuatan laporan penelitian.

Desain penelitian secara sempit dapat diartikan sebagai penggambaran secara jelas tentang hubungan antarvariabel, pengumpulan data, dan analisis data, sehingga dengan adanya desain yang baik peneliti maupun orang lain yang berkepentingan mempunyai gambaran tentang bagaimana keterkaitan antara variabel yang ada dalam konteks penelitian dan apa yang hendak dilakukan oleh seorang peneliti dalam melaksanakan penelitian. Desain penelitian yang dibuat secara cermat akan memberikan gambaran yang lebih jelas pada kaitannya dengan penyusunan hipotesis dengan tindakan yang akan diambil dalam proses penelitian selanjutnya.

Contoh aplikasi nyata perlunya desain penelitian (Campbel dan Stanley, 1966), mengenai model desain penelitian yang jumlahnya  12 model dan terbagi dalam tiga kelompok besar, yaitu praeksperimen, eksperimen, dan eksperimen semu (quasi experiment). Desain pertama adalah model praeksperimen, bentuk model ini masih  berpendapat bahwa desain tidak perlu karena dengan pemahaman sepintas, parea peneliti dapat mengetahui tindakan apa yang hendak dilakukan dan implikasi apa yang perlu untuk mendapatkan data yang diperlukan di lapangan.

9) PRAEKSPERIMEN

Desain 1. Praeksperimen

Keterangan:

Pada desain 1 ini tidak ada grup kontrol.

PretesVariabel TerikatPostes
Y1XY2

Desain 2. Perbandingan Grup statis

Keterangan:

GrupVariabel TerikatPostes
EksperimenKontrolX-Y2Y2

X = ada treatment

–  = tidak menerima treatment

Pada desain praeksperimen ini kebberadaan grup tidak dipilih secara random.

10) EKSPERIMEN

Desain 3. Postes Hanya Grup Kontrol dengan random Subjek

(Randomized Subjects Posttest Only Control Group Design)

GrupVariabel TerikatPostes
(R)(R)EksperimenKontrolX-Y2Y2

Desain 4. Memasangkan Subjek Hanya Postes Secara Random

(Randomized Matched Subjects Posttest Only)

GrupVariabel TerikatPostes
(Mr)EksperimenKontrolX-Y2Y2

Desain 5. Subjek Random Desain Pretes-Postes Grup

(Randomized Subjects, Pretes-Posttest Control Group Design)

GrupPretesVariabel TerikatPostes
(R)(R)EksperimenKontrolY1Y1X-Y2Y2

Desain 6. Desain Tiga Grup Salamon (Salamon Three Group Design)

GrupPretesVariabel TerikatPostes
(R)(R)

(R)

EksperimenKontrol 1

Kontrol 2

Y1Y1

_

X-

X

Y2Y2

Y2

Desain 7. Desain Empat Group Salamon (Salamon Four Group Design)

GrupPretesVariabel TerikatPostes
(R)(R)

(R)

(R)

EksperimenKontrol 1

Kontrol 2

Kontrol 3

Y1Y1

_

X-

X

Y2Y2

Y2

Y2

Desain 8. Faktorial Sederhana (Simple Factorial Design)

Variabel AtributVariabel Eksperimen (X1)
Treatment ATreatment B
Level 1Level 2Cell 1Cell 2Cell 3Cell 4

11) EKSPERIMEN SEMU

Desain 9. Pretes-Postes Grup Kontrol Tidak Secara Random

(Nonrandomized Control Group Pretest-Posttest design)

GrupPretesVariabel TerikatPostes
EksperimenKontrolY1Y1X-Y2Y2

Desain 10. Pengaruh Imbangan (Counter Balanced Design)

PengulanganTreatment Eksperiment
X2X34
12

3

4

Grup AGrup C

Grup B

Grup D

Rerata kolom 1

BA

D

C

Rerata

kolom 2

CD

A

B

Rerata

kolom 3

DB

C

A

Rerata

kolom 4

Desain 11. Satu Grup Time seri (One Group Time Seri Design)

Y1 Y2 Y3 Y4 Y5 Y6 Y7 Y8

Desain 12. Grup Kontrol Time Series (Control Group Time Series Design)

Grup
EksperimenKontrolY1 Y2 Y3 Y4 X        Y5 Y6 Y7 Y8Y1 Y2 Y3 Y4 –        Y5 Y6 Y7 Y8

Untuk memecahkan persoalan eksperimen yang lebih rumit, seorang peneliti umumnya memerlukan adanya pembahasan tentang apa yang dimaksud dengan desain factorial. Desain factorial pada prinsipnya termasuk bagian  dari desain penelitian, yang secara pasti diuraikan sebagai berikut.

Factorial design  is one in which two or more variabel s are manipulated simultaneously in order to study the independent effect of each variabel  on the dependent variabel s as well as the effects due to interactions among the several variabel s (Ary dkk., 1985).

Desain faktorial merupakan suatu tindakan terhadap satu variabel atau lebih yang dimanipulasi secara simultan agar dapat mempelajari pengaruh setiap variabel terhadap variabel terikat atau pengaruh yang diakibatkan adanya interaksi antara beberapa variabel. Jika diperhatikan pada desain 1 dan desain 2, menunjukkan bahwa karena masih menggunakan konsep variabel tunggal, seorang peneliti pada umumnya masih merasa mudah dan mengerti apa yang hendak dilakukan dan tindakan apa yang perlu diantisipasi untuk mengambil data yang diperlukan di lapangan. Konsep variabel tunggal ini banyak terjadi di penelitian laboratorium, ilmu pengetahuan alam, dan disebagian penelitian tinngkah laku (pendidikan, sosial dan ekonomi). Tetapi bila lebih lanjut kita melihat pada desain penelitian eksperimen atau eksperimen semu, maka kesulitan akan dirasakan, terutama dalam menentukan tindakan apa yang perlu dilakukan dalam proses selanjutnya.

Dalam penelitian tingkah laku, konsep variabel tunggal pada umumnya kurang tepat jika diterapkan dalam penelitian sebenarnya. Hal ini terjadi, karena kebanyakan pengaruh variabel terjadi saling terkait dengan variabel lainnya. Untuk mengatasi pengaruh variabel yang saling terkait dan memecahkan permasalahan dalam penelitian eksperimen, desain faktorial dapat digunakan secara tepat. Dengan desain faktorial, seorang peneliti dimungkinkan untuk dapat mencermati disamping pengaruh beberapa variabel bebas terhadap variabel terkait, juga interaksi yang dapat terjadi dari beberapa variabel terikat maupun variabel bebas dalam suatu proses penelitian.

Desain faktorial dapat dibedakan menjadi dua tipe. Tipe pertama, satu dari variabel bebas dimanipulasi secara eksperimental dengan variabel terikat. Tipe ini pada umumnya dilakukan karena peneliti tertarik pada pengaruh satu variabel bebas terhadap variabel terikat secara terpisah, baru kemudian memperhitungkan variabel lainnya yang mungkin berpengaruh pada variabel tersebut. Tipe kedua adalah dalam suatu penelitian, semua variabel bebas dimanipulasi secara eksperimental, karena si peneliti tertarik terhadap pengaruh beberapa variabel bebas dan mengharapkan dapat menilai pengaruh variabel tersebut baik secar terpisah maupun secara bersama.

YANG MERUSAKKAN HASIL EKSPERIMEN

Hasil eksperimen dengan subjek manusia atau tingkah laku mempunyai kemungkinan besar bervariasi, apabila peneliti tidak bisa memisahkan antara variabel yang diperlukan dari variabel luar di sekitar proses eksperimen. Padahal secara ideal, suatu eksperimen dikatakan valid apabila:

1)      Hasil yang dicapai hanya diakibatkan oleh karena variabel bebas yang dimanipulasi secara sistematis.

2)      Hasil akhir eksperimen harus dapat digeneralisasi pada kondisi eksperimen yang berbeda.

Untuk mencapai hal yang ideal di atas, ada dua syarat agar hasil suatu eksperimen dapat menapai hasil yag baik dan tidak bervariasi. Kedua syarat yang dimaksud adalah perlunya validitas internal dan validitas eksternal yang terjaga selama proses penelitian eksperimen.

Suatu penelitian dikatakan mempunyai validitas internal tinggi, apabila  kondisi berbeda pada variabel terikat dari subjek yang diteliti merupakan hasil langsung dari adanya manipulasi variabel bebas. Misalnya, penelitian pendidikan  tentang pengaruh metode mengajar alternatif dan metode mengajar yang biasa diberikan guru terhadap hasil belajar siswa. Jika validitas internal tinggi, maka perbedaan hasil belajar di antara grup eksperimen dan grup kontrol, hanya disebabkan adanya pengaruh dari kedua variabel metode mengajar. Hal ini dapat dicapai apabila validitas internal tetap dijaga sehingga perubahan hasil belajar pada siswa hanya disebabkan oleh adanya perubahan pada variabel bebas.

Validitas internal penelitian eksperimen dapat terjadi karena adanya delapan faktor penting sebagai sumber variasi, kedelapan faktor tersebut, yaitu:

1)      Faktor sejarah atau history dari subjek yang diteliti.

2)      Proses kematangan.

3)      Prosedur pretesting.

4)      Instrumen pengukur yang digunakan.

5)      Adanya kecenderungan terjadinya statistik regresi pada individu.

6)      Perbedaan pemilihan subjek.

7)      Perbedaan lainnya disebabkan adanya mortalitas dalam proses eksperimen.

8)      Terjadinya interaksi di antara faktor-faktor di atas, termasuk kematangan, sejarah, pemilihan, dan sebagainya.

Kedelapan faktor ini perlu dikontrol agar variabel yanng direncanakan dapat mengakibatkan terjadinya perubahan pada variabel terikat.

Variabel eksternal tinggi merupakan kondisi dimana hasil penelitian yang dilakukan dapat digeneralisasi dan digunakan pada kelompok lain di luar setting eksperimen, ketika keadaan serupa dengan kondisi penelitian eksperimen. Jika hasil penelitian tidak dapat digeneralisasi pada situasi lain, maka dapat diartikan bahwa orang lain tidak dapat mengambil keuntungan dari hasil penelitian yang ada. Akibatnya mereka harus terus-menerus melakukan penelitian sendiri untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Beberapa peneliti menggunakan istilah ecological vallidity untuk batasan validitas eksternal.

Validitas eksternal pada umumnya dibedakan menjadi empat macam faktor, yaitu:

1)      Adanya interaksi pengaruh bias pemilihan dan X.

2)      Pengaruh interaksi pretesting.

3)      Pengaruh reaktif proses eksperimen.

4)      Adanya interferensi antarperlakuan selama dalam proses penelitian eksperimen.

Validitas eksperimen yang baik mestinya mengandung kedua validitas tersebut, secara proporsional, walaupun itu tidak dapat dicapai secara sempurna.

Jika dari bermacam-macam desain penelitian tersebut dipadukan dalam suatu tabel, maka akan tampak masing-masing kelemahan maupun kelebihannya terhadap validitas internal maupun validitas eksternalnya. Memahami masing-masing desain penelitian terhadap sumber validitas tersebut penting, terutama ketika peneliti akan menentukan bentuk desain penelitian eksperimen yang hendak digunakan guna memecahkan permasalahan yang diinginkan.

Faktor-faktor yang mungkin merusakkan validitas desain eksperimen, secara ringkas dapat dilihat seperti tabel berikut:

Tabel 13.1 Faktor Yang Merusakkan Validitas Eksperimen

Sumber ValiditasDesain Penelitian
Pra-eksperimenEksperimenEksperimen Semu
1234567891011
Validitas Internal
?     Sejarah yang melatari+++++++++
?     Proses kematangan?+++++++++
?     Prosedur pretesting++++++++++
?     Pengukur Instrumen++++++++?+
?     Statistik Regresi?++++++?+++
?     Perbedaan seleksi++++++++++
?     Mortalitas++++++++++
?     Interaksi antara pemilihan dan pematangan+++++?++
Validitas Eksternal
?     Interaksi pemilihan dan variabel eksperimen (X)????????
?     Interaksi pretesting dengan variabel++++?
?     Relasi prosedur eksperimen??????????
?     Inteferensi multi teratment

Keterangan :

+    = menunjukkan adanya kontrol terhadap faktor

–          = menunjukkan tidak adanya kontrol terhadap faktor

?    = menunjukkan masih dipertanyakan kontrol terhadap faktor

= (kosong) menunjukkan bahwa faktor yang dimaksud tidak relevan.

Nomor 1-12 menunjukkan desain penelitian eksperimen yang  terbagi atas tiga kelompok, yaitu praeksperimen, eksperimen dan eksperimen semu.

PENUTUP

  1. Penelitian eksperimen merupakan salah satu metode yang memerlukan persyaratan paling ketat, guna mencapai tujuan penelitian khususnya untuk menentukan hubungan sebab akibat atau causal-effect relationship.
  2. Dalam penelitian eksperimen, variabel-variabel yang diidentifikasi ke dalam dua kelompok variabel bebas dan  variabel terikat sudah dibangun secara  tegas sejak awal penelitian.
  3. Di llihat dari aspek prosesnya tempat kejadian, penelitian eksperimen dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu penelitian di laboratorium dan penelitian lapangan atau di luar laboratorium.
  4. Penelitian eksperimen mempunyai tiga  ciri penting yang selalu menyertainya, yaitu adanya manipulasi secara terencana, kontrol terhadap variabel, dan observasi terhadap proses eksperimen
  5. Kegiatan mengontrol variabel mempunyai peranan penting. Karena dengan adanya kontrol variabel tersebut, peneliti dapat melakukan pengukuran secara cermat terhadap setiap perubahan penampilan variabel terikat.
  6. Desain penelitian merupakan penggambaran secara jelas hubungan antar variabel yang dapat dimanfaatkan dalam menyusun hipotesis penelitian dan tindakan yang perlu diambil dalam proses eksperimen selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1992 . prosedur penelitian. Jakarta : PT Rineka

Ibrahim, Muslimin dan Muhammad Nur. 2005. Penelitian Eksperimen dalam Pendidikan. Surabaya: UNESA University Press.

Suherman dkk. 2001. Mampu menjadi peneliti yang handal. Bandung : Jurusan Pendidikan Matematika UPI.

Intenet.2008. www.wikipedia.com. Pada tanggal 26 November 2008.

Intenet. 2008. www.ensiklopedia penelitian . pada tanggal 26 November 2008.

***

(Source : Fitriani Nur, Mahasiswa PPs UNM Makassar | Prodi Pendidikan Matematika, 2008)