Realisasi Iman dalam Kehidupan Sosial

Pengertian

Dari segi etimologi iman berasal dari bahasa arab yang berarti kecepatan, lurus, jujur, setia, aman, dan sentosa. Sedangkan menurut Syafi’i (terminologi) adalah mengimani Allah swt, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, qada’ dan qadar serta hari akhir. Apabila seseorang tidak mengimani dari salah satu dari rukun iman yang enam maka sesungguhnya dia tidak mengimani Allah swt, oleh karena itu, Allah memerintahkan kita untuk selalu takwa kepada-Nya. Dia menggunakan sifat al-Jabbar-Nya kepada kita untuk patuh hanya kepada-Nya.

Cinta Sesama Muslim Sebagian Dari Iman.

Kita tidak mengetahui bahwa cinta sesama muslim merupakan hubungan horizontal yang masih dipupuk dan dilestarikan, bahkan dalam sebuah hadits menyatakan, bila salah seorang di antara kamu sakit maka kita pun mengalami hal yang sama, kita harus yakin seberat apapun beban yang ada di pundak akan terasa ringan bila kita saling membagi

Sabda Rasulullah saw.

Artinya:

Orang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan yang satu”

Seorang mukmin yang ingin mendapat ridha Allah swt. harus berusaha untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang diridhai-Nya. Salah satunya adalah mencintai sesama saudaranya seiman seperti ia mencintai dirinya, sebagaimana dinyatakan dalam hadits di atas.

Namun demikian, hadits di atas tidak dapat di artikan bahwa seorang mukmin yang tidak mencintai saudaranya seperti dirinya berarti tidak beriman. Maksud pernyataan   pada hadits di atas “tidak sempurna keimanan seseorang” jika tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Jadi,  haraf nafi  ??  pada hadits tersebut  berhubungan dengan ketidaksempurnaan.

Hadits di atas juga menggambarkan bahwa Islam sangat menghargai persaudaraan dalam arti sebenarnya. Persaudaraan yang datang dari persaudaraan datang dari hati nurani, yang dasarnya keimanan dan bukan hal-hal lain, sehingga betul-betul merupakan persaudaraan murni dan suci. Persaudaraan yang akan abadi seabadi imannya kepada Allah swt. dengan kata lain, persaudaraan yang didasarkan Illah, sebagaimana diterangkan dalam banyak hadits tentang keutamaan orang saling mencintai karena Allah swt, di antaranya:

Artinya:

Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. bersabda, ‘pada hari kiamat Allah swt. akan berfirman ‘Dimanakah orang yang saling terkasih sayang karena kebesaran-Ku, kini Aku naungi di bawah naungan-Ku pada saat tiada naungan, kecuali naungan-Ku” (HR. Muslim)

Orang mencintai saudaranya karena Allah akan memandang bahwa dirinya merupakan salah satu anggota masyarakat, Yang harus membangun tatanan untuk kebahagian bersama. Apapun yang dirasakan oleh saudaranya, baik kebahagiaan maupun kesengsaraan, ia anggap sebagi kebahagian atau kesengsaraannya juga. Dengan demikian, terjadi keharmonisan hubungan antara individu yang akan memperkokoh persatuan dan  kesatuan. Dalam hadits lain, Rasulullah saw menyatakan:

Artinya:

Sesungguhnya antara seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling melengkapi (HR. Bukhari dan Muslim)

Masyarakat seperti itu, telah dicontohkan pada zaman Rasulullah saw. kaum Anshar dengan tulus ikhlas menolong dan merasakan penderitaan yang dialami oleh kaum Muhajirin sebagi penderitaannya. Perasaan seperti ini bukan didasarkan keterkaitan darah atau keluarga, tetapi didasarkan pada keimanan yang teguh.tak heran kalau mereka rela memberikan apa saja yang dimilikinya untuk menolong saudaranya dari kaum Muhajirin, bahkan ada yang menawarkan salah satu istrinya untuk dinikahkan kepada saudaranya dari Muhajirin.

Persaudaraan seperti itu sungguh mencerminkan betapa kokoh dan kuatnya keimanan seseorang. Ia selalu siap menolong saudaranya seiman tanpa diminta, bahkan tidak jarang mengorbankan kepentingannya sendiri demi menolong saudaranya. Perbuatan baik seperti itulah yang akan mendapat pahala besar di sisi Allah swt, Yakni memberikan sesuatu yang sangat dicintainya kepada saudaranya, tanpa membedakan antara saudaranya seiman dengan dirinya sendiri.

Allah swt berfirman:

Artinya:

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

Sebaliknya, orang-orang mukmin yang egois, yang hanya mementingkan kebehagian dirinya sendiri, pada hakikatnya tidak memiliki keimanan yang sesungguhnya. Hal ini karena perbuatan seperti itu merupakan perbuatan orang kufur dan tidak disukai oleh Allah swt. Tidaklah cukup dipandang mukmin yang taat sekalipun khusyuk dalam shalat atau melaksanakan semua rukun Islam bila ia tidak peduli terhadap nasib saudaranya seiman.

Namun demikian, dalam mencintai seorang mukmin, sebagaimana dikatakan di atas, harus didasari Illah. Oleh karena itu, harus tetap memperhatikan  rambu-rambu syara’. Tidak benar, dengan alasan mencintai saudaranya seiman sehingga ia mau menolong saudaranya tersebut dalam berlaku maksiat dan dosa kepada Allah swt.

Sabaiknya, dalam mencintai sesama muslim, harus mengutamakan saudara-saudara seiman yang betul-betul taat kepada Allah swt. Rasulullah saw, memberikan contoh siapa saja yang harus terlebih dahulu dicintai, yakni mereka yang berilmu, orang-orang terkemuka, orang-orang yang suka berbuat kebaikan, dan lain-lain sebagaimana diceritakan dalam hadits:

Artinya:

“Abdullah Ibn Mas’ud r.a. ia berkata Rasulullah saw, bersabda, hendaknya mendekat kepadaku orang-orang dewasa dan yang pandai, ahli-ahli pikir. Kemudian berikutnya lagi. Awaslah! Janganlah berdesak-desakan seperti orang-orang pasar.” (HR Muslim)

Hal ini tidak berarti diskriminatif karena Islam pun memerintahkan umatnya untuk mendekati orang-orang yang suka berbuat maksiat dan memberikan nasihat kepada mereka atau melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar.

Fiqh Al-Hadits

Salah satu tanda kesempurnaan iman seorang mukmin adalah mencintai saudaranya seabagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Hal itu direalisasikan dalam kehidupannya sehari-hari dengan berusaha untuk menolong dan merasakan kesusahan maupun kebahagian saudaranya seiman yang didasarkan atas keimanan yang teguh kepada Allah swt.

Dia tidak berpikir panjang untuk menolong saudaranya sekalipun sesuatu yang diperlukan saudaranya adalah benda yang paling dicintai. Sikap ini timbul karena ia merasakan adanya persamaan antara dirinya dan saudaranya seiman.

Ciri Seorang Muslim Tidak Mengganggu Orang Lain

Artinya:

Abdullah bin Umar berkata bahwa Nabi saw. telah bersabda “seorang muslim adalah orang yang akan menyebabkan orang-orang Islam (yang lain) selamat dari lisan dan tangannya dan orang hijrah adalah orang yang hijrah dari apa yang  telah dilarang Allah swt” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Nisa’i)

Hadits di atas mengandung dua pokok bahasan, yakni tentang hakikat seorang muslim, dalam membina hubungan dengan sesama muslim dalam kehidupan sehari-hari, dan juga menjelaskan hakikat hijrah dalam pandangan Islam

Orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat telah tergolong muslim. Akan tetapi, untuk dikatakan muslim yang sebenarnya (haqiqi), ia harus memiliki tingkah laku yang sesuai dengan ketentuan Islam, tanpa memilih atau membedakan syari’at yang disukai olehnya.

Tidaklah dikatakan sempurna keislaman seseorang muslim adalah orang yang mampu menjaga dirinya sehingga orang lain selamat dari kezaliman atau perbuatan jelek tangan dan mulutnya. Dengan kata lain, ia harus berusaha agar saudaranya sesama muslim tidak merasa disakiti oleh tangannya, fisik seperti dengan memeluknya, merusak harta bendanya, dan lain-lain ataupun dengan lisannya. Kalaupun ia pernah menyakiti saudaranya tanpa disengaja, ia harus segera memberikan pertolongan sesuai dengan kemampuannya.

Adapun menyakiti orang lain dengan ucapan atau lisannya, misalnya dengan fitnah, cacian, umpatan, hinaan, dan lain-lain. Perasaan sakit yang disebabkan oleh ucapan lebih sulit dihilangkan dari pada sakit akibat pukulan fisik. Tidak jarang terjadinya perpecahan, perkelahian, bahkan peperangan di berbagai daerah akibat tidak dapat mengatur lisan sehingga menyebabkan orang lain sakit hati, slah satu pepatah arab menyatakan:

Artinya:

Keselamatan seseorang adalah dengan menjaga lisannya”

Dengan demikian, seseorang harus beusaha untuk tidak menyakiti saudaranya dengan cara apapun dan kapan pun. Sebaliknya, ia selalu berusaha menolong dan menyayanginya saudaranya seiman sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Hal itu karena menjaga orang lain, baik fisik maupun perasaannya sangat penting dalam Islam. tidak heran kalau amalan sedekah akan batal jika disertai dengan sikap yang dapat menyakiti mereka yang diberi sedekah. Allah berfirman

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima),

Oleh karena itu,  setiap muslim harus berhati-hati dalam bertingkah laku. Jangan asal berbicara bila tidak ada manfaatnya. Jangan berbuat sesuatu bila hanya menyebabkan penderitaan orang lain. Karena segala tindakan dan perbuatan akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah

Artinya:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Di samping itu, jika seseorang berbuat dosa kepada sesama manusia, Allah swt. tidak akan mengampuni dosanya sebelum orang pernah disakitinya itu memanfaatkannya.

Dalam hadits di atas juga diterangkan tentang hijriah, yaitu bahwa hijrah yang sebenarnya bukanlah berpindah tempat sebagaimana banyak dipahami orang, melainkan berpindah dari kejelekan menuju kebaikan.

Memang sangat berat bagi orang yang terbiasa melakukan sesuatu yang dilarang agama atau terbiasa tidak melakukan sesuatu yang telah di perintahkan agama untuk mengubah perilakunya, padahal dia mengakui bahwa dirinya beriman. Dalam hati kecilnya, ia mengakui bahwa perbuatan yang selama ini dilakukannya adalah salah. Akan tetapi, kalau didasari niat yang betul, semuanya akan mudah. Ia akan berpindah dari jalan yang dimurkai Allah swt. menuju jalan yang diridhai-Nya. Allah swt pasti akan menyertai orang-orang yang ingin taat kepada-Nya dan memberikan pahala dan kebahagiaan kepada mereka. Sebagaimana firman-Nya:

Artinya:

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

Hijrah juga dapat diartikan sebagai perjalanan panjang untuk meraih masa depan yang lebih cerah. Dapat juga diartikan sebagai perjalanan panjang untuk mendapatkan ridha-Nya. Untuk menempuh suatu perjalanan diperlukan bekal yang cukup. Bekal tersebut dalam Islam adalah aqidah yang kuat. Orang yang kuat imannya tidak akan mudah tergelincir pada perbuatan yang menyimpang perintah-Nya. Jika tergelincir kepad perbuatan salah, ia segera berhijrah dari perbuatan jelek tersebut kepada perbuatan-perbuatan baik, sesuai perintah-Nya.

Fiqh al-Hadits

Di antara ciri kesempurnaan iman seseorang adalah tidak mau menyakiti saudaranya seiman. Selain itu, ia pun berusaha untuk berhijrah (pindah) dari melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah kepada perbuatan-perbuatan yang diridhai-Nya.

rEALISASI IMAN DALAM MENGHADAPI TAMU

Terjemahnya hadits:

Abu Hurairah r.a. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dia harus memuliakan tamunya, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dia harus berbuat baik kepada tetangganya; dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dia harus berkata baik dan diam” (HR. Syaikhani dan Ibnu Majah)

Dalam hadits di atas, ada tiga perkara yang didasarkan atas keimanan kepada Allah dan hari akhir, yakni memuliakan tamu, memuliakan tetangga, dari berbicara baik dan diam. Adapun alasan penyebutan dua keimanan, yakni iman kepada Allah dan hari akhir karena iman kepada Allah merupakan permulaan segala sesuatu dan ditangan-Nyalah segala kebaikan dan kejelekan sedangkan hari akhir merupakan akhir kehidupan dunia, yang di dalamnya mencakup hari kebangkitan, makhsyar, hisab, dan surga neraka, dan banyak sekali yang harus diimani pada hari akhirat tersebut. Dengan demikian seandainya manusia betul-betul beriman kepada Allah dan hari akhir, dia akan berbuat kebaikan dan menjauhi segala kemungkaran dan kemaksiatan.

  1. Memuliakan tamu. Maskud memuliakan tamu dalam hadits di atas mencakup perseorang maupun kelompok. Tentu saja hal ini dilakukan berdasarkan kemampuan bukan karena ria. Dalam syariat Islam, batas memuliakan tamu adalah 3 hari tiga malam, sedangkan selebihnya merupakan sedekah.
  2. Memuliakan tetangga. Maksud tetangga disini adalah umum, baik yang dekat maupun yang jauh, muslim, kafir, ahli ibadah, orang fasik, musuh, dan lain-lain, yang bertempat tinggal di lingkungan rumah kita. Namun demikian, dalam memuliakan mereka, terdapat tingkatan-tingkatan antara satu tetangga dengan lainnya. Seorang muslim dan ahli ibadah yang dapat dipercaya dan dekat rumahnya lebih utama untuk dihormati dari pada para tetangga lainnya.

Diantara akhlak yang terpenting kepada tetangga adalah:

  • Menyampaikan ucapan selamat ketika tetangga sedang bergembira
  • Menjenguknya tatkala sakit
  • Bertakziyah ketika ada keluarganya yang meninggal
  • Menolongnya ketika memohon pertolongan
  • Memberikan nasehat dalam berbagai urusan dengan cara yang ma’ruf dan lain-lain

3. Berbicara baik dan diam

Sesungguhnya ucapan seseorang menentukan kebahagian dan kesengsaraan dirinya. Orang yang selalu menggunakan lidahnya untuk berbiara baik, memerintahkan kepada kebaikan dan melarang kepada kejelekan, membaca Al-Qur’an, membaca ilmu pengetahuan dan lain-lain. Ia akan mendapatkan kebaikan dan dirinya pun terjaga dari kejelekan. Sebaliknya orang yang apabila menggunakan lidahnya untuk berkata-kata jelek atau menyakiti orang lain, ia akan mendapat dosa dan tidak mustahil orang lain, ia akan mendapat dosa dan tidak mustahil orang lain pun akan bertaubat demikian kepadanya. Maka perintah Rasulullah untuk berkata baik dan diam merupakan suatu pilihan yang akan mendatangkan kebaikan.