Penanganan Limbah Asam Asetat

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Asam asetat atau cuka telah lama dikenal manusia sejak dulu. Luka dihasilkan oleh bakteri penghasil asam asetat, yang merupakan hasil sampingan dari pembuatan tape, bir atau anggur.

Asam asetat atau cuka dihasilkan dari proses destilasi, asam asetat atau cuka dalam kadar tertentu digunakan sebagai pencipta rasa asam pada makanan tetapi dalam kadar yang berlebihan asam asetat dapat memberi dampak negatif bagi kesehatan tubuh manusia.

Asam asetat atau cuka adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH. Asam asetat murni (disebut asam asetat glacial) adalah cairan bigros kapis tak berwarna, dan memiliki titik beku 16,70C. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer, seperti polietilena tereftalat, selulosa asetat dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain. Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Dirumah tangga, asam asetat encer mencapai 6,5 juta ton/tahun. 1,5 juta ton/tahun diperoleh dari hasil daur ulang, biasanya diperoleh dari industri petrokimia maupun dari sumber hayat. Asam asetat yang kita gunakan di rumah memiliki pH sekitar 2. karena sifatnya yang mudah larut dan bercampur, ini membuat asam asetat digunakan luas di industri kimia.

Asam asetat dapat dikenali dengan baunya yang khas. Asam asetat diproduksi dan diekskresikan oleh bakteri-bakteri tertentu misalnya jenus Acetobalcter. Bakteri ini terdapat pada makanan, air dan juga tanah sehingga asam asetat secara alami diproduksi pada buah-buah dan makanan yang telah basi.

Asam asetat digunakan sebagai pereaksi kimia untuk menghasilkan berbagai senyawa kimia. Sebagian besar (40-45%) dari asam asetat dunia digunakan sebagai bahan untuk memproduksi monomer vinil asetat, selain itu asam asetat juga digunakan dalam produksi anhidrida asetat dan juga ester. Penggunaan asam asetat lainnya, termasuk dalam cuka relatif kecil.

  • Cara masak. Asam asetat masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan dan pencernaan asam asetat yang masuk melalui pernapasan biasanya dideteksi melalui baunya yang menyengat serta khas. Apabila dalam kadar yang sedikit serta pH yang tidak terlalu asam asetat digunakan dalam makanan, sehingga asam asetat dapat masuk ke dalam tubuh melalui pencernaan. Dalam pH yang sangat rendah sekitar pH 1 asam asetat dapat menyebabkan kerusakan lambung dan hati.
  • TLV : 10 ppm 25 mg/m3
  • Penanganan

Asam asetat pekat bersifat korotif dan karena itu digunakan dengan hati-hati. Asam asetat dapat menyebabkan luka bakar, kerusakan mata permanen, serta iritasi para membran mukosa. Luka bakar atau lepuhan bisa jadi tidak terlihat hingga beberapa jam setelah kontak. Sarung tangan Latex tidak melindungi dari asam asetat, sehingga dalam menangani senyawa ini perlu digunakan sarung tangan berbahan karet nitril. Asam asetat juga dapat terbakar dilaboratorium. Namun dengan sulit, ia menjadi mudah terbakar jika suhu ruang melebihi 390C (1020F) dan dapat membentuk campuran yang mudah meledak di udara (ambang ledakan 5,4% – 16%).

Larutan asam asetat dengan konsentrasi lebih dari 25% harus ditangani di sungkup asap (fumebad) karena uapnya yang korosif dan berbau. Asam asetat encer seperti cuka, tidak berbahaya. Namun konsumsi asam asetat yang lebih pekat adalah berbahaya bagi manusia maupun hewan. hal ini dapat menyebabkan kerusakan sistem pencernaan, dan perubahan yang mematikan pada keasaman.

Rumusan Masalah

Dengan melihat latar belakang diatas maka, rumusan masalah yang dikemukakan yaitu :

  1. Bagaimana cara penanganan limbah asam asetat pekat agar tidak berbahaya bagi lingkungan, manusia dan hewan serta tumbuhan?
  2. Bagaimana gejala serta efek yang dirasakan setelah terpapar asam asetat?
  3. Bagaimana pencegahan meminimalisir terpapar asam asetat.

BAB II

PEMBAHASAN

Penanganan limbah asam asetat

Asam asetat dalam konsentrasi  pekat sangat membahayakan bagi       lingkungan apabila limbahnya dibuang langsung tanpa proses pengelolahan terlebih dahulu. Limbah asam asetat memiliki keasaman yang sangat disamping itu asam asetat memiliki sifat korosif. Pada pabrik-pabrik yang menggunakan asam asetat produksi total asam asetat dunia diperkirakan 5 mt/a (juta ton pertahun) setengahnya diproduksi di Amerika Serikat, Eropa memproduksi 1 mt/a dan terus menurun sedangkan Jepang memproduksi sekitar 6,7 mt/a 1,51 mt/a dihasilkan dari melalui daur ulang sehingga total pasar asam asetat 6,51 mt/a. perusahaan produsen asam asetat terbesar adalah Chelanese dan Bp  Chemical, produsen lainnya adalah millennium chemical, sterling chemical, Samsung, Eastman, dan srensk etanol kemy. Asam asetat diproduksi secara sintetis maupun secara alami melalui fermentasi bakteri sekarang hanya 10 persen dari produksi asam asetat dihasilkan melalui jalur alami. Namun kebanyakan hukum yang mengatur asam asetat yang terdapat dalam cuka haruslah berasal dari proses biologis. Dari asam asetat di produksi oleh industri kimia 75% diantaranya dihasilkan melalui karbonilasi etanol. Limbah cari yang dihasilkan pada berbagai industri berupa asam asetat. Sangatlah berbahaya bagi lingkungan hidup dan juga manusia itu sendiri. Oleh sebab itu perlu adanya reloferil asam asetat agar dapat digunakan kembali pada proses produksi salah satu cara yang dapat digunakan untuk memperoleh kembali asam asetat adalah dengan pengelolaan fisik yaitu destilasi.

Pada penelitian dilakukan destilasi skala laboratorium dengan menggunakan distilator fralesionasi  bertingkat.  Akan tetapi sebelum destilasi harus ada perlakuan sebelumnya karena menurut hasil penelitian pendahuluan pertama asam asetat sulit dipisahkan dari air karena larutan asam asetat dengan air mempunyai nilai kelarutan 1,7. perlakuan sebelumnya yang dapat digunakan adalah exktraksi cair dengan menggunakan planet yang dapat mengikat asam asetat dari limbah yang mencemari dan dapat  merusak ekosistem. Pada penelitian di coba, pelarut asam asetat berdasarkan hasil penelitian asam asetat lebih baik digunakan dari pada butir asetat karenanya etil asetat nilai koefisien distribusi yang lebih tinggi 9,07 dari pada butir asetat 0,075. dari hasil penelitian utama diperoleh bahwa cara ketiga yang menghasilkan kadar asam asetat paling tinggi. Cara ketiga ini meliputi evaporasi, ekstraksi dan distilasi. Asam asetat yang diperoleh mempunyai kemurnian 93% sebanyak 279 ml dari 6750 ml limbah dengan % recovery 53,84%. Limbah akhir ini dapat digunakan kembali pada proses ekstraksi, sehingga tidak perlu dibuang kelingkungan yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan terutama badan air yang tercemari contohnya; jika terlalu asam akar-akar tanaman akan membusuk dan ikan-ikan akan mati.

Efek Yang Disebabkan Asam Asetat

Tingkat keasaman asam asetat murni sangatlah tinggi, yang merupakan hasil dari produksi secara sintesis berbahaya bagi kesehatan manusia. adapun gejala yang diakibatkan terpapar asam asetat pekat yang memiliki tingkat keasaman yang tinggi antara lain:

  1. Kulit dan tangan akan menjadi hitam karena keasaman yang tinggi dari asam asetat murni (Jika kontak langsung dengan asam asetat pekat)
  2. Kulit akan mengalami keratinisari yang berlebihan,
  3. Gigi mudah rapuh/mengalami erosi dan terlihat kehitam-hitaman
  4. Peradangan pada konjungtiva, cornea dan iritasi
  5. Radang kronic pada laring dan bronchitis

Jika melalui pencernaan :

  1. Sakit yang dirasakan pada mulut, paring, esophagus, dan nyeri pada perut
  2. Muntah-muntah dan hematemesis (kerusakan hati)
  3. Diare dan
  4. Radang pada laring, bronkelous, pembengkakan paru-paru dan pneumonia
  5. Albuminuria dan hemateria
  6. Cardiovasvcular callpase

Adapun efek asam asetat pada lingkungan hidup yaitu :

  1. Akar-akar tanaman akan membusuk karena keasaman tanah sangat rendah sehingga tumbuhan akan  mati dan daun tanaman akan membentuk menyebabkan terhambtnya proses fontosintesis
  2. Menyebabkan derajat keasaman dari meningkat
  3. Ikan-ikan akan mati jika asam asetat pelat mencemari badan air
  4. Zat gizi lepas dari tanah sehingga tingkat keasaman tanah meningkat

Pencegahan

  1. Ventilasi yang dikontrol dengan baik akan menghindari tingginya konsentrasi asam asetat pekat di udara, serta mengurangi bau tidak sedap yang berasal dari asam asetat apabila pergantian udara berlangsung dengan baik
  2. Penggunaan alat pelindung diri contohnya penggunaan masker dan sarung tangan karet nitril
  3. Penggunaan baju pelindung karet mencegah asam asetat yang memiliki keasaman yang mengenai badan
  4. Pemeriksaan kesehatan bagi pekerjaan terutama mata, kulit dan paru-paru

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Asam asetat sangat diperlukan di dunia industri namun dibalik kegunaannya asam asetat yang memiliki pH asam yang sangat rendah dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan terutama hati dan paru-paru serta apabila limbah asam asetat tidak dikelola dengan baik maka asam asetat juga dapat berdampak buruk bagi lingkungan disekitar kita. Asam asetat banyak ditemukan di industri plastik, bahan kimia sebagai pelarutnya dan industri obat-obatan atau farmasi.

Saran

  1. Para pekerja jika berhadapan dengan bahan kimia yang bersifat asam sebaiknya menggunakan baju pelindung baret, maskar dan sarung tangan
  2. Penyimpanan  bahan kimia yang bersifat asam sebaiknya dijauhkan dari para pekerja dan tertutup rapat
  3. Ada baiknya menghindari mengkonsumsi makanan yang ber pH rendah/terlalu asam
  4. Sebaiknya pengelolaan limbah asam asetat dilakukan secara tepat dan benar untuk menghindari kerusakan lingkungan.