Perkembangan dan Kebutuhan Kontekstual Arkeologi di Indonesia

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Arkeologi

Arkeologi adalah disiplin ilmu yang tujuannya adalah untuk mengungkapkan kehidupan manusia masa lalu melalui kajian atas tinggalan; kebendaannya. Teknik penelitiannya yang khas adalah penggalian arkeologis, dalam hal ini disiplin ilmu yang ada disebelahnya adalah paleantologi yang dalam upayanya memperoleh data mengenai kehidupan fauna dan flora purba dapat pula menggunakan teknik penggalian.

Dalam perkembangan ilmu arkeologi dunia, ada tahap-tahapnya dimana ilmu ini hendak memperkuat jati dirinya, yaitu dengan mengetatkan metode dan teknik-teknik penelitiannya sendiri yang terpusat pada penggalian arkeologi yang juga dilihat dalam format jaringan antar situs.

Seni

Sejarah seni pertunjukan dalam rangka suatu paparan tentang sejarah kebudayaan Indonesia haruslah memberikan ruang yang cukup untuk pembahasan peranan seni pertunjukan dalam perkembangan umum kebudayaan, artinya pembahasan seni pertunjukan itu tidak dapat terbatas pada permasalahan disekitar gaya dan teknik keseniannya saja, tetapi juga harus menyentuh masalah yang terkait dengan nilai-nilai dan konsepsi-konsepsi budaya yang melingkupinya.

Sejarah

Bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa baru yang terdiri dari berbagai suku bangsa, yang semua pada dasarnya adalah pribumi. Artinya semua adalah suku-suku bangsa yang meskipun dahulu kala bermigrasi dari tempat lain, secara turun temurun telah tinggal diwilayah geografis Indonesia sekarang ini dan merasa bahwa itu adalah tanah airnya. Bangsa baru ini terbentuk karena suatu kemajuan politik untuk menyatakan diri dan dengan itu membangun sebuah negara serta membebaskan diri dari segala bentuk penjajahan oleh bangsa lain.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimana perkembangan dan kebutuhan kontekstual arkeologi Indonesia?
  2. Bagaimana permasalahan sumber dan rekonstruksi?
  3. Bagaimana sejarah perkembangan bangsa?

BAB II

PEMBAHASAN

Arkeologi

Arkeologi Indonesia dalam Perspektif Global

Arkeologi sebagai sebuah bidang ilmu, dimanapun itu dilaksanakan, tidak akan dapat dan tidak boleh menyalahi kaidah-kaidah keilmuan modern yang transparan dan senantiasa siap untuk diuji. Subjektivitas yang dimungkinkan hanyalah pertama, dalam hal pemilihan teori sebagai dasar untuk menyusun interpretasi, serta kedua dalam hal penyikapan dalam kaitan dengan keputusan-keputusan yang dapat atau harus diambil berkenaan dengan penentuan prioritas penelitian, ataupun dalam kaitan dengan pemanfaatan hasil-hasil penelitian untuk kepentingan pendidikan dan pembinaan rasa kebangsaan.

Arkeologi Indonesia adalah pengetahuan arkeologi tentang Indonesia. Indonesia dapat dipahamkan sebagai pembatas wilayah maupun sebagai pokok bahasan. Pembatas wilayah ini mengikuti cakupan dari apa yang telah atau pernah menjadi wilayah negara yang bernama Indonesia, yaitu khususnya Republik Indonesia. Dalam hal ini tentulah tak dapat dielakkan bahwa pada masa-masa sejarah tertentu cakupan wilayah jelajah sub-bangsa Indonesia tertentu di satu sisi hanya meliputi sebagian, atau bahkan sebagian kecil saja, wilayah RI sekarang. Namun pada waktu yang sama jelajahnya itu kearah mata angin tertentu melampaui batas-batas negara Indonesia masa kini. Hal ini dapat dicontohkan dengan cakupan kerajaan Majapahit, Sriwijaya, maupun Melayu Kuno.

Adapun pokok bahasan yang Indonesia lebih ditentukan oleh ciri-ciri kebentukan ataupun teknologis yang menandai budaya atau bikinan Indonesia, artinya yang dibuat diwilayah Indonesia sekarang ini. Tempat penemuannya dapat saja di luar Indonesia. Sebagai contoh dapat dikemukakan arca-arca perunggu dengan ciri-ciri jawa tengah masa Mataram Kuno yang ditemukan di bekas wihara kuno agama Budha di Nalanda, Bengal. Tinggalan-tinggalan itu tentu masuk ke dalam pembahasan arkeologi Indonesia.

Tinjauan berikut ini semata-mata didasarkan pada apa yang hendak disajikan dalam pertemuan evaluasi hasil penelitian arkeologi kali ini. Sejumlah peneliti mencobau mencari elevansi pengetahuan arkeologi Indonesia dengan permasalahan bangsa Indonesia dewasa ini, khususnya yang berkenaan dengan multikulturalitas, toleransi, persatuan, maupun desentralisasi dan disintegrasi. Kejadian-kejadian ataupun cara-cara penanganan terhadap keadaan-keadaan tertentu di masa lalu dijadikan cermin untuk melihat persoalan-persoalan masa kini. Hal ini tentu dapat amat bermanfaat apabila benar-benar didukung oleh data yang dapat diandalkan, bukan semata-mata suatu spekulasi. Kajian dengan arahan ini juga dapat dilandasi dengan ancangan perbandingan, artinya tidak hanya untuk melihat persamaan-persamaan, melainkan juga perbedaan-perbedaan.

Kecenderungan positif lain yang tampak adalah berkembangnya minat untuk mengkaji lebih mendalam dan lebih meluas mengenai hubungan-hubungan sosial antarbangsa dan hubungan-hubungan budaya antarwilayah pada masa-masa lalu, mulai dari masa prasejarah. Bahkan, cakupan luas kajian budaya Austronesia di kawasan Pasifik telah diberi perhatian khusus. Dilakukan pula kajian ciri-ciri rasial pada sisa-sisa manusia purba untuk melacak keluasan jelajahnya. Analisis  bandingan lukisan pada batu cadas pun dicoba beri interpretasi mengenai migrasi. Terdapatnya penggambaran fauna asing di candi-candi pun dilihat sebagai fungsi mobilitas, meskipun sudah tentu tidak dengan sendirinya juga berkesejajaran dengan mobilitas penduduk.

Arah perhatian lain adalah untuk mengkaji kontinuitas dan perubahan, dengan mengambil kasus-kasus khusus. Beberapa studi etnografi, misalnya mengenai penguburan sekunder dan fungsi sapandu di Kalimantan (pada suku-suku bangsa Dayak tertentu) dimaksudkan sebagai penduga adat kebiasaan di balik artefak-artefak kuno dari berbagai masa dan daerah yang lain. Sudah tentu dalam hal ini kehati-hatian diperlukan agar kita tidak terjerumus ke dalam simplifikasi permasalahan.

Pengayaan dalam pengetahuan arkeologi juga didapat dari penemuan situs-situs baru, yang tidak jarang mencuatkan pula suatu permasalahan baru, ataupun sejumlah pertanyaan baru. Kesertaan dalam jaringan-jaringan informasi ilmiah (konvensional dan elektronik) akan selalu dapat membantu para peneliti arkeologi berada dalam posisi terinformasi secara mutakhir.

Strategi Pengembangan dan Kebutuhan Kontekstual Arkeologi Indonesia

Salah satu segi dari pengembangan ilmu pengetahuan adalah pengembangan teori. Dalam arkeologi berlaku juga teori-teori yang berkembang dalam ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu budaya pada umumnya, sebagai pengaruh interpretasi atas himpunan-himpunan datanya. Salah satu teori dasar adalah mengenai arah proses pembentukan kebudayaan, yaitu yang diperbedakan antara ‘teori idealistic” dan teori materialistic, serta paduan antara keduanya. Yang idealistic menyatakan  bahwa kebudayaan yang berintikan sistem gagasan itu, terbentuk karena terdapatnya kompetensi manusia dalam konseptualisasi dan dengan struktur konsep-konsep itu membentuk dan seterusnya mengembangkan kebudayaan. Sebaliknya, teori yang materialistic menyatakan bahwa pada dasarnya manusia dihadapkan pada kondisi-kondisi fisik material beserta peluang-peluang ekonominya yang khas dalam lingkungannya, dan tanggapan atas lingkungan fisik material ekonomi itulahy membentuk kehidupan kebudayaan.

Perkembangan ilmu juga terjadi melalui pendekatan lintas disiplin. Sudah lama arkeologi mencari bantuan disiplin-disiplin lain, khususnya dari gugusan ilmu fisika dan geologi, dalam upayanya untuk menentukan umur dari temuan-temuannya. Pengetahuan geo-morfologi misalnya boleh dikatakan melakukan ekskavasi. Disamping pelintasan disiplin yang bersifat tak bisa tidak itu terdapat pula perkembangan lintas disiplin yang lebih diarahkan oleh kreativitas dalam mencari dan merumuskan permasalahan. Daerah permasalahan baru yang dapat disebutkan adalah antara lain berkenaan dengan lingkungan masa lalu dan pengaruhnya terhadap pengambilan keputusan pada tingkat masyarakat atau komunitas. Suatu pendekatan multidisplin pun dapat disarankan untuk mengadakan kajian-kajian bandingan secara parallel pada berbagai komponen budaya dan bahkan genetika, dengan masing-masing mengembangkan klasifikasinya, misalnya yang meliputi bahasa gerabah, megalit, arsitektur, musik, tari, dan ciri-ciri genetik.

Pengembangan metode dan teknik penelitian sudah terjadi sepanjang perkembangan ilmu arkeologi. Kita telah mengalami misalnya gerakan New Archaeology yang menekankan pada ancangan positivistic dan analisis kuantitatif. Di antara teknik penelitian lapangan yang dikembangkan secara khusus adalah tekniks ekskavasi di dalam air, yang mempunyai derajat kesulitan lebih besar daripada penggalian di daratan.

Semua upaya pengembangan itu, baik pada tataran teori dan model metode dan teknik penelitian, maupun perumusan permasalahan, tentulah senantiasa memerlukan suatu pertanggungjawaban akademik yang memungkinkan perunutan dan pengujian secara berkelanjutan.

Setelah mengenali berbagai  kebutuhan pengembangan akademik maupun penggunaan terapan tersebut di atas, maka diperlukan suatu strategi dan rancangan fasilitas agar semua kebutuhan itu dapat terpenuhi. Pembangunan dan pemberdayaan institusi adalah satu titik strategis yang mutlak diperlukan. Institusi-institusi yang sudah ada dan memerlukan peningkatan keberdayaannya adalah perguruan tinggi yang mengasuh program studi arkeologi serta instansi-instansi pemerintah yang bertugas di bidang arkeologi. Instansi-instansi pemerintah itu meliputi puslitarkenas dengan semua kantor daerahnya,  Direktorat Purbakala dengan semua kantor di provinsi-provinsi. Seluruh institusi yang ada itu perlu senantiasa bersinergi untuk bersama menyusun garis-garis besar program nasional pengembangan arkeologi.

Selanjutnya, kerja sama lintas sektor pun membutuhkan perhatian yang seksama. Disamping antara sektor pendidikan dan kebudayaan, perlu pula kelautan, prasarana wilayah, dalam negeri, luar negeri, hukum dan lain-lain diperhitungkan peranannya sebagai penyedia salah satu aspek pengembangan arkeologi, baik sebagai subjek akademik maupun sebagai pengetahuan terapan. Program kerjasama pun perlu dirancang, antara unsur-unsur pemerintah dengan institusi-institusi yang telah disebut di atas, bersama badan-badan atau pun perhimpunan-perhimpunan swasta yang bergrak di bidang yang bersangkut-paut dengan disiplin dan data arkeologi.

Kerjasama lintas instansi, lintas lembaga, dan lintas sektor itu selayaknya diarahkan pada:

  1. Peningkatan kualitas kepakaran serta reputasi intenasional dari para ahli arkeologi Indonesia;
  2. Peningkatan pemahaman publik atas relevansi arkeologi dalam pembangunan bangsa dan negara;
  3. Peningkatan keberdayaan masing-masing institusi Pembina arkeologi melalui pemutakhiran sarana-sarana kerjanya, baik yang bersifat perangkat lunak maupun perangkat keras.
  4. Peningkatan kualitas jaringan komunikasi ilmiah dan professional arkeologi

Seni

Sejarah Seni Pertunjukan

Sejarah seni pertunjukan dalam rangka suatu paparan tentang sejarah kebudayaan Islam haruslah memberikan ruang yang cukup untuk pembahasan peranan seni pertunjukan dalam perkembangan umum kebudayaan. Artinya, pembahasan seni pertunjukan itu tidak dapat terbatas pada permasalahan disekitar gaya dan teknik keseniannya saja, tetapi juga harus menyentuh masalah-masalah yang terkait dengan nilai-nilai dan konsepsi-konsepsi budaya yang melingkupinya.

Permasalahan sumber dan rekonstruksi

Untuk menyusun suatu sejarah diperlukan sejumlah data berurut dari masa ke masa. Dalam hal sejarah kebudayaan Indonesia, periodesasi yang dapat disusun adalah mengikuti perkembangan kebudayaan yang masing-masing dibatasi oleh seperangkat perubahan besar yang disebabkan oleh revolusi dari dalam masyarakat yang bersangkutan, ataupun suatu pasokan pengaruh besar yang datang dari luar, yang melalui proses tertentu diserap dan lambat laun mengubah citra budaya pada pihak penerima pengaruh. Demikianlah dengan pembatasan waktu yang berbeda-beda pada berbagai daerah, Indonesia secara keseluruhan dapat dipilah zaman-zaman budaya sebagai berikut;

  1. Zaman prasejarah awal. Zaman ini ditandai oleh peri kehidupan manusia yang belum hidup menetap dan belum berkelompok dengan suatu sistem organisasi yang tetap. Dalam peristilahan prasejarah zaman ini disebut Palaeo dan Meso lithik. Dari zaman ini di Indonesia tidak ditemukan data mengenai kemungkinan adanya seni pertunjukan.
  2. Zaman prasejarah akhir. Zaman ini terdiri dari dua babakan, yaitu apa yang disebut Neolithik dan perunggu besi. Pada masa neolithik orang sudah bercocok tanam dan hidup menetap. Selanjutnya dalam masa perunggu besi orang telah membuat alat-alat loga, serta dalam masyarakatnya telah terbentuk kelompok orang dengan berkeahlian-keahlian khusus. Pada beberapa benda logam hasil zaman ini terdapat sejumlah penggambaran, yang berdasarkan analogi etnografik, dapat ditafsirkan sebagai gambar-gambar orang menari dengan mengenakan hiasan kepala dengan bulu-bulu panjang dan mungkin dengan menggunakan topeng.
  3. Zaman hindu budha. Zaman ini memperlihatkan lonjakan data berkenaan dengan seni pertunjukan. Hal ini lebih didukung oleh terdapatnya sumber-sumber tertulis. Akulturasi dengan kebudayaan India, sebagai penanda utamanya, memperlihatkan pengaruh besar di bidang seni, termasuk seni pertunjukan. Relief-relief candi dengan jelas memperlihatkan adegan menari dan bermain musik.
  4. Zaman Islam. Zaman ini memperlihatkan suatu masukan tersendiri dalam perkembangan seni pertunjukan di Indonesia, khususnya dalam seni musik dengan ciri khasnya berupa permainan rebana. Dalam hal ini unsur-unsur budaya masa Hindu Budha itu banyak yang terbawa terus meski didalam ekspresi budaya terlihat unsur islami yang jelas
  5. Zaman kolonial. Bersamaan kedatangan orang Eropa, Belanda, dan Inggris bangsa Indonesia diperkenalkan dengan gagasan-gagasan baru, seperti prinsip-prinsip keilmiahan, sistem pendidikan formal, serta juga bentuk-bentuk kesenian Eropa. Dalam seni pertunjukan ragam baru yang diperkenalkan adalah apa yang disebut toneel dan musik diatnik.
  6. Zaman kemerdekaan sebagai Republik Indonesia. Zaman Indonesia merdeka ini memperlihatkan kekhasan dalam perkembangan seni, termasuk seni pertunjukan; disatu sisi bentuk baru yang khususnya diambila alih dari kebudayaan Eropa digunakan untuk memperkembangkan suatu ragam baru kesenian yang sekaligus juga menjadi suatu kesenian nasional.

Fungsi Pertunjukan

Berbagai fungsi seni pertunjukkan yang dapat dikenali, baik lewat data masa lalu maupun data etnografik masa kini, meliputi fungsi-fungsi religious, peneguhan integrasi sosial, edukatif, dan hiburan. Yang berubah dari zaman ke zaman adalah penekanan pada fungsi (fungsi) tertentu maupun bentuk-bentuk pernyataannya. Kadang-kadang muncul fungsi baru yang sebelumnya tidak dikenal, atau dikenal secara implicit saja, misalnya seni pertunjukkan sebagai saluran dakwah yang dikenal dalam masa Islam. Seni pertunjukkan, seperti disiratkan dalam karya-karya sastra, dijelaskan juga sebagai sarana pendidikan untuk memperkuat atau memperlengkap kekuatan kepribadian.

Fungsi penikmatan estetik, jadi pemenuhan kebutuhan estetik, mengharuskan upaya kesenian juga tidak dilepaskan dari pemikiran atau konseptualisasi berkenaan dengan hakikat kesenian maupun kaidah-kaidah seni, serta lebih detail lagi pencermatan akan teknik-teknik yang memungkikna tampilnya keunggulan. Fungsi peneguhan struktur  dan integrasi sosial tersirat dari adanya; tari tertentu untuk ditarikan oleh raja; tari tertentu yang hanya boleh dimiliki oleh raja; tarian bersama secara berkeliling oleh para tetua desa, lelaki dan perempuan; dan lain-lain. Adapun seni pertunjukkan juga dapat mempunyai fungsi pemenuhan kebutuhan ekonomi, seperti tertera dari adanya kelompok pertunjukkan yang ngamen.

Seni Pertunjukan dan Seni Rupa

Data masa hindu-budha  menunjukkan adanya keterkaitan kaidah cara berungkap antara seni pertunjukkan bercerita dan seni seni pahat relief bercerita.

Sejarah

Sejarah Perkembangan bangsa

Bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa baru yang terdiri  dari berbagai suku bangsa, yang semua pada dasarnya adalah pribumi, artinya semua suku-suku bangsa yang meskipun dahulu kala berimigrasi dari tempat lain, secara turun temurun telah tinggal di wilayah geografis Indonesia sekarang ini, dan merasa  bahwa itu adalah tanah airnya. Bangsa baru ini terbentuk karena suatu kemajuan politik untuk menyatakan diri, dan dengan itu membangun sebuah negara serta membebaskan diri dari segala bentuk penjajahan oleh bangsa  lain. Dalam paparan berikut ini akan diberikan suatu kilas balik, untuk memperdalam pemahaman mengenai dari mana kita berasal, dan pengalaman sejarah apa yang ada pada bangsa kita ini.

Pada masa-masa yang lalu, baik yang jauh (berabad-abad) maupun yang dekat, masing-masing suku bangsa di Indonesia ini berdiri sendiri dan terpisah-pisah, baik secara sosial, budaya maupun politik. Setiap satuan itu mengurusi kepentingannya sendiri masing-masing. Jenis satuan organisasi kemasyarakatan atau kenegaraannya pun berbeda-beda, dari yang relative dan berpindah-pindah sehingga tidak terlalu terkait oleh kawasan hunian yang tetap, hingga yang amat besar, menetap, dan bahkan berekspansi, serta berstratifikasi pula. Namun demikian, dari waktu ke waktu terbentuk juga ikatan-ikatan persekutuan  antara dua atau lebih satuan masyarakat atau negara. Tidak jarang ikatan-ikatan seperti itu membentuk jaringan hubungan yang membaku dan mentradisi, seperti raja Ampat di Maluku. Dalam kasus Singasari, Majapahit, dan Mataram yang berpusat di jawa, bahkan terbentuk organisasi kenegaraan yang bersifat imperium. Adapun bentuk kenegaraan Sriwijaya yang berpusat di Sumatera itu hingga kini belum jelas benar, walaupun sudah banyak dikembangkan interpretasi bahwa Sriwijaya adalah suatu kerajaan yang luas cakupan pengaruhnya, dan mempunyai dasar kekuatan yang luas cakupan pengaruhnya, dan mempunyai dasar kekuatan integrasinya pada jaringan kekuatan maritime, baik dalam bentuk Bandar-bandar (pada pantai dan muara sungai) maupun armada kapal layar.

Kebudayaan yang dimiliki oleh manusia Indonesia hingga dewasa ini secara keseluruhan dapat digambarkan sebagai tumpukan pengalaman budaya dan pembangunan budaya yang terdiri dari lapisan-lapisan budaya yang terbentuk sepanjang sejarahnya. Adanya pilahan lapisan-lapisan tersebut dikesankan oleh terdapatnya perubahan-perubahan sistemik pada periode tertentu, yang disebabkan oleh proses akulturasi. Tiga pengalaman  besar dalam akulturasi di Indonesia adalah; yang pertama, ketika menyerap agama Hindu dan Budha beserta kompleks kebudayaan India secara selektif, kemudian yang kedua adalah akulturasi dengan peradaban Islam, dan yang terakhir adalah akulturasi dengan kebudayaan Eropa yang terjadi bersamaan dengan proses kolonisasi dan penjajahan oleh bangsa-bangsa Eropa. Perubahan-perubahan yang amat kentara adalah dalam perkembangan bahasa, penggunaan aksara, dan pada batas-batas tertentu tata masyarakat. penyerapan unsur-unsur asing tersebut tidaklah sama dalam jumlah dan intensitas pada masing-masing suku bangsa di Indonesia. Di samping itu, unsur-unsur budaya baru dari luar itu berbeda-beda pula daya jangkau teritorialnya. Konfigurasi historis dengan segala keragaman perbedaan budaya sebagai perwujudannya itu perlu dipahami lebih baik oleh seluruh warga negara Indonesia di masa kini, sehingga wawasan kebangsaan kita dapat menjadi lebih mendalam dan tidak semata-mata terbelenggu oleh kondisi-kondisi temporer di masa kini saja.

Sepanjang sejarah agama budha di Indonesia, terdapat pertunjukan bahwa disini pernah dikenal berbagai aliran dari agama tersebut. Sejumlah data tekstual, maupun artefaktual candian, arca dan relief serta materai tanah liat dengan teks atau representasi yang bersifat baudda merupakan petunjuk-petunjuk ke arah interpretasi akan dikenalnya berbagai aliran atau setidaknya kecenderungan pemikiran dan atau peribadatan setidaknya kecenderungan pemikiran dan atau peribadatan, di dalam sejarah agama budha di Indonesia.

Namun, apa yang terjadi di Indonesia adalah lebih dari pada sekadar peminjaman tanda-tanda ikonografik dan penyamanan tokoh-tokoh kedewatan. Data jawa tengah abad VIII-X masehi menunjukkan adanya suatu masa agama Budha menonjol sebagai agama yang didukung negara (terlihat pada peninggalan di jawa seperti Borobudur, Mendut, Ngawen, Kalasan, Sari, Sajiwan, Plaosan, Sewu; serta juga sejumlah percandian di Sumatera).

Itu hanyalah sekelumit dari pengalaman sejarah budaya bangsa Indonesia, dan yang menyangkut hanya sebagian dari bangsa ini dan hanya berkaitan dengan perkembangan agama Budha di Indonesia.

  1. Sejarah kebudayaan Indonesia dan keanekaragaman budaya

Suatu kajian sejarah kebudayaan dapat menyoroti keseluruh perkembangan kebudayaan di suatu daerah atau negara, namun dapat juga secara khusus memberikan sorotan terhadap salah satu aspek sejarah kebudayaan, ataupun salah satu komponen kebudayaan. Komponen suatu kebudayaan adalah apa yang disebut juga sebagai unsur kebudayaan, seperti sistem kepercayaan, sistem pengetahuan, sistem perekonomian, sistem kesenian, sistem komunikasi, sistem organisasi sosial dan seterusnya. Suatau gambaran sejarah kebudayaan yang menyeluruh akan memberikan paparan mengenai perkembangan budaya dengan segala unsurnya itu.

Penyusunan suatu sejarah kebudayaan sangat bergantung pada data budaya dari masa-masa lalu. Atas data tersebutlah dilakukan interpretasi. Data masa lalu itu ada yang berupa benda, ada pula yang berupa teks, ataupun bekas-bekas kehidupan non benda seperti bekas parit, bekas lubang tiang, dan lain-lain. Di samping tinggalan masa lalu yang bersifat hasil budaya terdapat juga tinggalan alamiah seperti bekas garis pantai kuno, bekas timbunan lava, dan lain-lain yang dapat bermanfaat untuk penulisan sejarah kebudayaan karena hal-hal tersebut memberikan data mengenai lingkungan atau keadaan alam tertentu yang dapat mempunyai pengaruh keadaan alam tertentu yang dapat mempunyai pengaruh yang berarti terhadap kebudayaan yang berasosiasi dengannya.

Di masa-masa yang lalu terdapat berbagai negara yang pernah hidup di atas tanah air Indonesia ini, masing-masing dengan batas-batas wilayahnya, yang ada kalanya jelas namun lebih sering samar-samar. Namun tidak jarang pula kita memperoleh data tentang keanekaragaman penduduk suatu negara. Ada kalanya dua atau lebih bangsa menyatu dalam kesetaraan di dalam sebuah negara, tetapi ada kalanya pula sejumlah bangsa yang hidup di sebuah negara tetap digolongkan sebagai bangsa asing.

Kehidupan pada masa prasejarah dalam satuan-satuan kemasyarakatan yang relative terpisah satu sama lain telah memberikan peluang besar untuk tumbuhnya kebudayaan dengan ciri-ciri khasnya masing-masing. Keunikan budaya masing-masing tersebut mendapat momentum untuk pemantapan ketika masyarakat yang bersangkutan telah menginjak pada kehidupan menetap dan dalam modus kehidupan yang demikian mengembangkan konsep tentang kepemimpinan dan tata masyarakat yang lebih rumit.

Kekuatan di dalam  masyarakat juga dapat dilihat peranannya dalam menentukan hubungan-hubungan yang dapat dilakukan dengan bangsa atau negara lain. Hubungan antarbudaya itulah yang pada dasarnya dapat berakibat pada terjadinya pengambilalihan elemen-elemen budaya asing tertentu, atau sebaliknya, pada penyebaran elemen budaya setempat  ke luar dan diambil alih oleh bangsa lain. Pada pertemuan buday yang tidak simetris, yang terjadi adalah akulturasi.

Semua proses itu, baik perkembangan internal maupun pengaruh mempengaruhi bangsa, telah mewujudkan pula keanekaragaman yang lebih bervariasi lagi diantara berbagai suku bangsa di Indonesia ini. Keanekaragaman budaya itu kita dudukkan sebagai asset bangsa, yang dapat membuat kehidupan budaya kita hangat dengan interaksi budaya yang senantiasa actual.

Menumbuhkan kesadaran budaya dan kesadaran sejarah adalah tugas kita bersama, para guru dan para pengisi media massa pada masyarakat luas. Adanya kesadaran budaya ditandai pertama pengetahuan akan adanya berbagai kebudayaan suku bangsa yang masing-masing mempunyai  jati diri beserta keungulannya; kedua sikap terbuka untuk menghargai dan berusaha memahami kebudayaan suku-suku bangsa  diluar suku bangsa sendiri, dengan kata lain, kesediaan untuk saling kenal; ketiga pengetahuan akan adanya berbagai riwayat perkembangan budaya di berbagai tahap masa silam; keempat pengertian bahwa disamping merawat dan mengembangkan unsur-unsur warisan budaya, kita sebagai bangsa Indonesia yang bersatu juga sedang memperkembangkan sebuah kebudayaan baru, yaitu kebudayaan nasional, yang dapat mengambil sumber dari manapun yaitu dari warisan budaya kita sendiri maupun dari unsur budaya asing yang dianggap dapat meningkatkan harkat bangsa.

Pada dasarnya kesadaran sejarah mempersyaratkan beberapa hal, pertama pengetahuan akan peristiwa-peristiwa sejarh yang mewujudkan bangsa inna, kemudian membawa bangsa Indonesia ini menuju kemerdekaannya dari penjajahan; kedua pengetahuan akan rekadaya kekuasaan dari luar Indonesia untuk menguasai negara-negara di Indonesia dengan usaha-usaha dominasi ekonomi dan militer, serta mengadu domba atau mempertajam pertikaian yang sudah ada sehingga akhirnya kekuasaan untuk menentukan segala sesuatunya berada  di tangan penjajah; ketiga pemihakan yang kuat untuk martabat dan kewibawaan negara dan bangsa Indonesia di hadapan bangsa lain.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

  • Arkeologi sebagai sebuah bidang ilmu, dimanapun itu dilaksanakan tidak akan dapat dan tidak boleh menyalahi kaidah-kaidah keilmuan modern yang transparan dan senantiasa siap untuk diuji. Arkeologi Indonesia adalah pengetahuan arkeologi tentang Indonesia.
  • Pembahasan seni pertunjukan itu tidak dapat terbatas pada permasalahan disekitar gaya dan teknik kesenian saja, tetapi juga harus menyentuh masalah-masalah yang terkait dengan nilai-nilai dan konsepsi-konsepsi budaya yang melingkupinya.
  • Kalau kita bicara tentang sejarah kebudayaan Indonesia, sudah tentu pembatas cakupan wilayahnya adalah batas-batas geograf Indonesia dewasa ini. Dengan kata lain Indonesia dalam sejarah kebudayaan Indonesia itu adalah sebenarnya batasan geografis, bukan batasan kebangsaan atau budaya.

Saran

Saya sangat bersyukur atas adanya tugas makalah yang diberikan oleh dosen karena banyak yang saya dapatkan pengetahuan didalamnya  tentang kajian arkeologi seni dan sejarah dan juga harapan saya kepada teman-teman dan bapak pembimbing yang sudah membaca isi makalah ini mohon kritikan, tanggapannya kalau ada kesalahan dan kekeliruan maka saya meminta kepada teman-teman dan bapak pembimbing kritik dan sarannya supaya tidak ada kesalahan besar dihari kemudian.