Khutbah Idul Adha

Khutbah Idul Adha. Setelah kemarin saya memberikan sebuah artikel tentang Khutbah Idul Adha 2011, kini saya masih akan berbagi lagi tentang khutbah idul adha. Yah, momen lebaran haji memang merupakan salah satu momen penting bagi umat Islam. Sebagai salah satu dari 2 hari raya, Idul Adha patut menjadi sebuah tonggak untuk introspeksi diri, menumbuhkan semangat berqurban lebih banyak. Selamat membaca.

Khutbah Idul Adha

Kaum Muslimin Rahimakumullah yang berbahagia.

Allahu akbar 3x walillahil Hamdu

Kurang lebih dua bulan yang lalu, tepatnya 66 hari dari sekarang, kita hadir di Masjid ini untuk melaksanakan Hari Raya Idul Fitri, hari raya pertama dalam Islam yang melambangkan kemenangan orang-orang Islam dalam perjuangan melawan hawa nafsu melalui ibadah puasa. Sekarang, di pagi hari yang cerah ini, kita kembali hadir di Masjid ini, duduk tafakur, bermunajat kepada Allah, mengumandangkan takbir dan tahmid, mengalunkan tasbih dan tahlil, memuji kemahabesaran dan kemahamuliaan Allah, mengagungkan kemahakuasaan dan kemahasucian-Nya, mensyukuri nikmat karunia-Nya sambil melaksanakan shalat dua rakaat kemudian mendengarkan khutbah, sebagai pelaksanaan hari raya kedua Islam, Idul Adha, hari raya Qurban.  Khutbah Idul Adha

Nun jauh di sana, di Tanah haram, bumi Allah yang kudus dan dihormati, Makkah al-Mukarramah, jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia sedang tenggelam dalam alunan talbiah sambil melaksanakan rukun Islam kelima, ibadah haji. Hari ini, tanggal 10 Zulhijjah, mereka serempak bergerak dalam formasi raksasa menuju Kota Mina untuk melontar jamarat (jumrah-jumrah) setelah mereka melaksanakan puncak ibadah haji, yakni wuquf tanggal 09 Zulhijjah di Padang Arafah. Sedangkan di tempat-tempat lain, di seluruh pelosok dunia, umat Islam yang berjumlah ± 1,1/4 milyar secara bersama-sama melaksanakan shalat Idul Qurban seperti yang kita laksanakan di Masjid ini. Semua itu menggambarkan dengan amat gamblang adanya kesatuan umat Islam yang kokoh kuat karena diikat oleh tali akidah tauhid yang suci murni, dibingkai oleh prinsip-prinsip syariah yang agung, dan direkat oleh nilai-nilai moral-akhlak yang universal dan abadi karena bersumber dari Allah Azza wa Jall, Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Perkasa.

Ajaran dasar dan agung dari Islam ini mestinya dapat kita hayati bersama dan mestinya dapat kita terapkan dengan baik dalam keseharian kita, baik dalam kehidupan keluarga dan masyarakat yang terkecil yaitu bertetangga, maupun dalam kehidupan masyarakat yang lebih besar yaitu berbangsa dan bernegara; bahkan lebih besar lagi dari itu yakni, hubungan kemanusiaan tanpa mempersoalkan latar belakang primordial, suku, bangsa, agama, ras, dan sebagainya. Inilah makna kerahmatan Muhammad saw. dan inilah kandungan dari universalitas Islam untuk semua manusia.

Artinya:

(Dan tidaklah kami mengutus engkau [Muhammad] melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam).(Q.S. al-Anbiya’:107).

(Dan tidaklah kami mengutus-mu [Muhammad] kecuali untuk seluruh manusia [dan kemanusiaan] sebagai pembawa berita gembira dan ancaman.). (Q.S. Saba’:27). Khutbah Idul Adha

Kaum Muslimin Rahimakumullah yang berbahagia. Allahu akbar 3x walillahil Hamdu

Persatuan dan kesatuan, persaudaraan dan kebersamaan selalu diidamkan kehadirannya, selalu didambakan perwujudannya di antara sesama umat manusia. Dan umat beragama, terutama sekali umat Islam, haruslah menjadi pelopornya yang pertama dan utama. Persatuan dan persaudaraan dibutuhkan dalam suka dan duka, didambakan dalam senang dan susah. Tetapi persatuan dan persaudaraan yang sejati akan lebih dibutuhkan lagi dalam keadaan susah dan duka, dan dalam suasana yang terakhir inilah akan terlihat kesejatian dan kemurnian dari persatuan dan persaudaraan itu. Ketika Anda dalam senang dan gembira, ketika Anda sedang berada di singgasana kesuksesan, begitu mudah mencari teman dan saudara. Tetapi di kala Anda dalam duka dan derita, ketika Anda jatuh terpuruk dalam hina dan nista begitu sulit mencari karib dan keluarga. Sebabnya tidak lain karena manusia sangat sulit melepaskan diri dari interest dan pamrih pribadi bahkan tidak jarang ada manusia yang tega membiarkan saudaranya menderita tanpa mengulurkan tangan membantunya meskipun ia berkemampuan dan berkesempatan melakukannya. Apa yang sering digemborkan sebagai kepedulian sosial atau kesetiakawanan sosial lebih banyak bersifat retorika daripada fakta dan realita.

Tentu saja hal ini tidak berlaku bagi umat Islam yang benar-benar konsisten pada nilai-nilai Islam yang sangat mementingkan aspek-aspek moral dan sosial dari ajaran-ajarannya. Setiap aspek ajaran Islam pasti mempunyai kaitan langsung maupun tidak langsung dengan aspek moral dan sosial, sehingga istilah hablum min-Allah dan hablun min al-nas merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dalam istilah lain, aspek ritual atau peribadatan yang biasanya sangat diutamakan oleh orang-orang Islam sesungguhnya mempunyai kaitan yang sangat erat dengan aspek moral dan sosial. Keberislaman yang terfokus hanya pada aspek peribadatan dengan melalaikan aspek sosial dan moral sungguh-sungguh merupakan praktek keagamaan yang masih jauh dari Islami. Bahkan al-Qur’an mengancam orang-orang yang rajin bershalat tetapi lalai dalam memperhatikan kaum dhuafa’ dan fuqara’, termasuk anak-anak yatim, dengan ancaman neraka wayl (api yang sangat dahsyat nyalanya) sebagaimana tercantum dalam Q.S.al-Ma’un. Khutbah Idul Adha

Khutbah Idul Adha

Kaum Muslimin Rahimakumullah yang berbahagia. Allahu akbar 3x walillahil Hamdu

Ibadah haji dan qurban yang dewasa ini dilaksanakan oleh umat Islam juga sangat sarat dengan nilai-nilai sosial dan moral. Ibadah haji di samping menjadi simbol persatuan dan persaudaraan umat Islam sedunia seperti yang telah disebutkan tadi, juga mengandung aspek sosial, moral, bahkan etos kehidupan yang diperlukan untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Haji penuh dengan simbol-simbol yang mengandung makna yang dalam.

Ihram dengan mengenakan dua helai kain putih tanpa jahit antara lain melambangkan kembalinya kita ke fitrah, ke posisi semula dari diri kita yang terlahir suci dan tidak memiliki apa-apa. Dengan ber-ihram, kita menanamkan dalam diri kita nilai-nilai kesucian, nilai kerendah-hatian, nilai kebersamaan dan kesetaraan dengan setiap manusia dari manapun asalnya dan apapun status sosialnya. Dengan ber-ihram, kita mengenyahkan sifat-sifat yang mengotori jiwa kita, menjauhkan sifat-sifat kesombongan dan keangkuhan, membuang jauh-jauh rasa superioritas yang menganggap diri lebih hebat, lebih pintar, lebih kaya, lebih mulia, dan lebih dalam segala-galanya dibanding orang lain.

Thawaf di Ka’bah melambangkan spiritualisme yang tinggi, menyimbolkan bahwa sumbu dari roda kehidupan yang kita lakoni di dunia ini adalah pemilik Ka’bah, Allah swt. Di situlah kita berputar dalam seluruh dimensi dan aktifitas kehidupan kita sehingga tidak sedikit pun dari waktu dan kesempatan hidup yang dianugerahkan kepada kita, boleh kita lewatkan tanpa mengingat-Nya.

Sa’i, yang secara harfiah berarti berusaha dan bekerja, jelas sekali menyimbolkan etos kerja yang tinggi untuk mencari kehidupan, menggapai kesejahteraan dan kemakmuran di dunia ini. Ibunda Ismail, Hajar, berlari-lari antara bukit Shafa’ dan Marwah untuk mencari air kehidupan buat anaknya Ismail yang masih bayi. Kita melestarikan tradisi ini dalam bentuk Sa’i sebagai simbol dari kerja keras yang harus dimiliki oleh setiap muslim, apalagi mereka yang sudah haji.

Wuquf di Arafah sebagai puncak ibadah haji menyiratkan kefanaan dan kesementaraan hidup di dunia. Wuquf yang secara harfiah berarti stop atau berhenti sebentar memberi kesadaran yang dalam kepada kita bahwa hidup di dunia benar-benar hanya sebentar dan temporer. Perbandingan waktu di dunia dengan akhirat adalah 1 hari akhirat berbanding 1000 tahun sampai 50.000 tahun di dunia. Itulah sebabnya kita tidak bisa berleha-leha dan menyia-nyiakan kesempatan berhenti yang hanya sebentar ini guna mempersiapkan bekal berupa investasi akhirat yang akan dijalani dalam rentang waktu yang amat-amat panjang sehingga dianalogikan sebagai keabadian (al-khulud), kendatipun yang benar-benar abadi (baqa’) hanyalah Allah SWT.

Wuquf di Arafah juga menyiratkan kepada kita bahwa kita harus senantiasa berusaha mengenal (makrifat) kepada jati diri kita masing-masing untuk lebih memperteguh makrifat kita kepada sang Khaliq, Allah SWT. Di sinilah ungkapan yang populer di masyarakat Islam, khususnya kaum sufi atau mistikus Islam  bahwa   barangsiapa  mengenal  jati  dirinya  maka  ia  telah  mengenal  Tuhannya

Pengenalan kesejatian diri dan pengenalan yang benar mengenai Tuhan Allh SWT, sangat esensial dalam rangka membentuk pandangan hidup dan tujuan hidup yang pasti bagi setiap insan muslim. Dengan tujuan dan pandangan hidup yang pasti, setiap muslim dapat mengarungi kehidupannya di dunia ini dengan penuh ketegaran, optimisme, dan ketenangan batin meskipun harus menghadapi badai dan ombak yang seringkali ganas dan menakutkan. Kepastian akan tujuan hidup juga akan menjadi dinamisator dan sekaligus katalisator bagi kehidupan muslim sehingga ia tidak akan pernah memperlihatkan keangkuhan dan kesombongan apalagi bersikap dhalim ketika ia berada pada posisi puncak. Dan sebaliknya ia tidak akan pernah mengalami pesimisme apalagi putus harapan ketika ia berada pada posisi bawah ataupun ketika diterpa badai kehidupan.

Dalam kaitan inilah, Al-Qur’an senantiasa memberikan motivasi dan dorongan-dorongan agar setiap mukmin selalu memandang ke masa depan dengan penuh optimisme sambil bekerja keras.  Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

Artinya.

Hai orang –orang yang beriman bertawakkallah kamu kepada Allah dan hendaklah sertiap orang memikirkan apa yang akan diperbuat untuk hari esok (masa depan), dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah sangat mengetahui apa yang kamu perbuat (al-hasyar 18)

Di dalam ayat yang lain Allah berforman:

Artinya:

Sesungguhnya tidak akan ada yang diperoleh mnausia kecuali apa yang telah diusahakannya sendiri, dan sesungguhnya hasil jerih payahnya pasti akan dilihatnya kelak (al-An’am 39-40)

Kaum Muslimin Rahimakumullah yang berbahagia. Allahu akbar 3x walillahil Hamdu

Amaliah haji yang juga mempunyai makna yang sangat dalam adalah melontar jumrah di Mina baik pada Junrah al-Ula; jumrah al-wustha; dan jurah al-aqabah, karena yang menjadi obyek lemparan para jamaah haji adalah tidak lain adalah simbol Iblis. Syethan, dan setiap bentuk kejahatahan yang dapat menjerumuskan  manusia kepada kesengsaraan duniawi dan ukhrawi. Termasuk dalam hal ini adalah dorongan doroangan nafsu jahat yang ada dalam diri setiap manusia.

Kaum Muslimin Rahimakumullah yang berbahagia. Allahu akbar 3x walillahil Hamdu

Ibadah qurban yang juga diwarisi dari Bapak para Nabi Ibrahim as. mengandung nilai-nilai moral dan sosial yang tinggi. Orang Muslim yang memiliki kemampuan material sangat dianjurkan memotong hewan kurban sebagai wujud pengabdian dan rasa syukur yang dalam kepada Allah swt. sekaligus sebagai wujud dari rasa persaudaraan, kebersamaan dan kepedulian terhadap umat Islam yang kebetukan kurang beruntung. Ketika kita memotong hewan kurban, aspek ritualnya adalah mendekatkan diri kepada Allah. Itulah sebabnya ibadah ini disebut qurban yang berasal dari kata qurban – qoribun, yang secara harfiah berarti dekat. Oleh karena itu Tuhan menegaskan dalam firman-Nya bahwa bukan daging dan darahnya yang sampai kepada Allah, akan tetapi ke ikhlasan hati dan ketaqwaan yang ada di dalalm dada itulah yang diterima oleh Allah. Dalam al-Qur’am Allah berfirman:

Di sinilah sesungguhnya hakikat qurban yang kita lakukan patut kita renungi kembali, agar kita tidak terjebak ke dalam rutinitas ibadah, yang kemudian berlalu tampa  makna bagi kehidupan kita kini dan akan datang. Dan semoga dengan peristiwa qurban, kita bisa menjadikan diri kita menjadi manusia-manusia paripurna menjadi diri yang sesungguhnya.

Kaum Muslimin Rahimakumullah yang berbahagia. Allahu akbar 3x walillahil Hamdu

Jika kita kembali menelusuri apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim terhadap anaknya Ismail as., bermula dari suatu isyarat mimpi yang benar dari Allah swt. sebagaimana yang dikisahkan dalam Alquran:

Artinya:

102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata;” Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu.” Ia menjawab:”Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang yang sabar”.

Tidak dapat kita bayangkan betapa goncangnya jiwa Ibrahim as. ketika menerima wahyu itu. Ia mengalami konflik di dalam bathinnya. Siapakah yang lebih disayangi Ismail atau Allah? Ego atau super-ego? kesenangan, keyakinan, dan perjuangan? Kepatuhannya benar-benar diuji di puncak kesempurnaan kenabiannya melalui ujian yang ternyata lebih sulit daripada semua perjuangannyai yang terdahulu. Bila gagal menempuh ujian tersebut, maka kegagalannya ibarat kejatuhan dari puncak tertingrgi, padahal kejatuhan dari puncak yang paling tinggi adalah kejatuhan yang paling mencelakakan dan paling menyedihkan. Dan ternyata Ibrahim, juga  Islmail as. telah melampaui ujian tersebut dengan gemilang. Firman Allah dalam  al-Qur’ansuratAsh Shafaat (37) ayat : 106-107:

Artinya :

(106) Sesungguhnya in benar-benar suatu ujian yang nyata. (107) Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembilahan yang besar.

Keberhasilan Ibrahim dan Ismail yang gemilang ini sesungguhnya tidak terlepas dari kesadaran akan makna suatu penyerahan diri dengan menyelami dengan sangat dalam makna dari Innalillahi wa Inna ilaihi rajiun  “sesungguhnya kita ini adalah milik Allah dan kepada-Nya kita kembali”.

Dengan memahami makna “Innalillah” Ibrahim menyadari bahwa walau Ismail ini adalah puteranya yang sangat ia cintai, ia tidak lebih dari hanya suatu titipan dari Allah dan bukan miliknya. Sementara itu, Ismail itu, Ismail menyadari pula bahwa ia tidak pernah memiliki dirinya sendiri serta apapun yang lain dalam kehidupannya. Ia tidak pernah merancang bahkan uga tidak berniat untuk lahir dan menjadi seorang anak manusia, termasuk menjadi putera Ibrahim. Ia ada karena Allah Swt, yang memungkinkan dan mengizinkannya untuk ada. Dalam pemahaman yang demikian, berarti pengurbanan yang dilakukan oleh Ibrahim dan Ismail, hanyalah bersifat pengembalian hak Allah kepada Allah,  sebagai  aktualisasi  atas  kesadaran  mereka   berdua   akan  makna Innalillahi wa Inna ilaihi rajiun  (sesungguhnya kepada-Nya lah kita akan kembali).

Dengan demikian tidak ada sesuatupun yang hilang dari keduanya dengan penyembelihan hewan qurban, karena memang asalnya mereka tidak memiliki apapun juga tidak terhadap dirinya sendiri. Khutbah Idul Adha

Dari pemahaman di atas, berwurban berarti menyerahkan atau menyampaikan sesuatu yang sementara merupakan milik kita kepada sesuatu, orang, atau kepada Tuhan, yang memang berhak atas sesuatu itu.

Untuk itulah, ketika Ibrahim menyembeli Islmail, dan Ismail merelakan nyawanya, tidaklah berarti Ibrahim mengorbankan anaknya, dan Ismail mengorbankan hidupnya, akan tetapi keduanya mengebalikan hak Allah kepada Allah.

Pengembalian hak itu ditempuh Ibrahim as. dengan cara melepaskan, menaklukkan dan memusnahkan kepentingan pribadinya, yaitu rasa memiliki anaknya, sementara Ismail as. menempuh dengan cara menaklukkan rasa memiliki diri sendiri.

Hadirin yang berbahagia

Rasa memiliki anak, memiliki diri sendiri, hanyalah contoh dari sikap mementingkan diri sendiri. Di sekitar kita, bahkan pada diri kita sendiri, betapa terdapat banyak contoh dari sikap mementingkan diri sendiri, baik yang ia sadari maupun yang tidak disadari, seperti obrolan atau gosip di tengah suatu acara yang semestinya hidmat, membuang sampah di semberang tempat. Di tengah jalan raya, hanya demi kebersihan kendaraan kita, ugal-ugalan pengemudi kendaraan di jalan raja, egosentrisme spekulan dollar yang mempermainkan pasar bursa saham, konsentrasi pedagang, pengusaha atau direktur sebuah perusahaan pada keuntungan sepihak yang merugikan konseumen, dan bahkan merugikan karyawan karena upah yang tidak naik, egosentrisme kekuasaan yang phobi terhadap kontrol dan kritik serta tidak memperhatikan nasib rakyat pada umumnya, ekslusifisme kelompok sosial perburuan simbol-simbol status sosial, pakaian, mobil, rumah, gaya hidup, karir, pangkat, dan masih banyak lagi dalam kehidupan kita, kehidupan masyarakat kita. Khutbah Idul Adha

Bukankah ini semua contoh-contoh konkrit dalam kehidupan kita yang merupakan sifat-sifat kebinatangan yang harus kita sembelih dan harus kita qurbankan demi penyatuan dengan kehendak Allah Swt. sang Pemilik Tunggal diri kita dan jagad raya ini.

Sanggupkan kita menyembeli sifat dan sikap yang tercelah pada diri kita?. Sanggupkah kita mengurbankan sikap-sikap kita yang banyak mementingkan diri sendiri? Kunci kesanggupan kita menyembeli sifat-sifat kebinatangan kita terletak pada keadaran ita akan makna pandangan hidup “Inna lillah wa inna Ilaihi raji’un”, beserta dengan aktualisasinya, yaitu perubahan sikap dari pola hidup memiliki ke pola hidup menjadi. Khutbah Idul Adha

Jika kita merasa bahagia karena memiliki mobil bagus, rumah yang indah dan mewah, deposito rupiah/dollar jutaan, kedudukan yang basah, status sosial yang tinggi, berarti kita masih memiliki dan memilih pola hidup memiliki, dan alangkah rendahnya kita pada berbagai persoalan bila hati kita diletakkan pada benda-benda yang kita miliki, menyebabkan kita bisa merasa kecewa saat kita gagal meraih dan mempertahankan kedudukan, marah pada saat yang kita miliki dirusak atau diambil oleh orang, bermuram durja ketika teman dan keluarga menjauhi. Bila demikian, betapa kebahagiaan ini kita gantunge pada orang lain, sehingga kebahagiaan itu sangat ditentukan oleh apa-apa di luar diri kita, dan bukan oleh diri kita sendiri. Sehingga tanpa kita sadari diri kita jadikan robot iyang sepenuhnya sangat tergantung dan ditentukan oleh lingkungan dimana kita hidup dan berada.

Untuk inilah Allah dalam Al-Qur’an memperingatkan kepada kita untuk tidak merasa memiliki karena semua unsur yang kita miliki adalah ujian dan cobaan bagi kita. Seperti firman Allah Dalam Al-Qur’an surah At Atghaabun ayat 15.

Artinya:

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), di sisi Allahlah pahala yang besar

Hadirin jamaah id yang berbahagia

Seorang yang berpola hidup menjadi, tidaklah membuang semua yang dimilikinya, tetapi menggunakan semua itu untuk mengembangkan dirinya, kebahagiaannya tidak terletak pada benda-benda mati, tetapi pada pengangkatan kualitas hidupnya, baik psikologis maupun spiritual. Ia bahagia karena ia berhasil menjadi apa yang ia dapat menjadi demi meraih ridha Allah.

Dengan demikian, sungguh betapa relevannya Idul Qurban bila kita mau menggalinya dengan apa yangr kita perlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kita mengalami hidup sebagai umat yang beragama maupun sebagai warga bangsa untuk hidup di tengah-tengah kehidupan sejahtera, dalam wadah Indonesia Baru, marilah kita melakukan penyembelihan qurban yang tidak berhenti pada segi upacara ritualnya saja demi memuaskan hubungan subjektif kita dengan Tuhan Allah Swt. tetapi dilanjutkan dengan pencarian hakikatnya, maknanya, dan kemudian kita refleksikan dalam kehidupan kita dalam keseharian. Dengan merubah pola hidup memiliki kepada pola hidup menjadi, sebagai makna qurban yang dapat kita gali, betapa banyak sikap dan tindakan mementingkan diri sendiri dapat kita hindari dan cegah, dan betapa banyak sikap dan tindakan keserakahan dapat kita jauhi, sehingga kehidupan yang berkeadilan penuh cinta dapat kita realisasikan dalam kehidupan, baik sebagai umat yang beragama maupun sebagai warga negara.

Jika nilai-nilai haji dan qurban diimpelemtasikan dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, maka akan terciptalah kehidupan yang penuh dengan kedamaian dan ketentraman.

Rusaknya simpul-simpul kehidupan sosial di tengah-tengah masyarakat, yang kemudian merambah ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, demikian puka rusaknya ekosistem alam dan lingkungan kehidupan yang mengakibatnya terjadinya banjir, tanah longsor, dan bencana alam yang lainnya, yang hampir melanda seluruh wilayah nusantara adalah akibat dari ketidak mampuan menusia menguasai dan mengendalikan sifat kebinatangan yang ada pada dirinya. Sehingga muncullah sikap penistaan terhadap hak-hak kemanusiaan yang agung, demikian pula terhadap lingkungan kehidupan, yang kemudian menghancurkan eko sistema alam.

Dan sebaliknya manakala yang senantiasa dimunculkan hakikat haji dan qurban  ke dalam hidup keseharian dengan penghayatan akan makna qurban (kedekatan) kepada Zat Yang Maha Suci, secara intensif, akan membuka jalan dalam dirinya bagi nilai-nilai luhur dan suci itu untuk di internalisasi, sehingga dengannya tumbuhlah manjadi manusia yang sesungguhnya (manusia yang hakiki), manusia akhlaqi yang luhur, yang meresapi unsur-unsur kualitas Ilahi, bahkan mengantarkannya berakhlaq dengan akhlaq Allah (al-takhalluqu bi akhlaqillah).

Dengan itu manusia akan mengaktualisasikan diri dalam sikap hidup yang menempatkan diri sebagai bagian dari kemanusiaan universal, dan dengan nyata ia menunjukkan kepeduliannya kepada kehidupan manusia yang lain, ia akan senantiasa menjaga dan merajut tali hubungan yang intensif dengan Allah (hablum minallah), tali hubungan dengan sesama manusia, (hablum minannaas), serta hubungan serasi terhadap alam dan lingkungan sekitar, sehingga dirinya kemudian tidak hanya menjadi rahmat bagi sesamanya manusia, tapi juga menjadi rahmat bagi semesta alam.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan dalam khutbah yang singkat ini, mudah-mudahan dengan idil Kurban kita pada hari ini, mengantarkan kita menjadi manusia yang hakiki, yang senantiasa dekat dan dekat kepada Allah sebagaimana hakikat makna qurban itu. Semoga Allah swt. senantiasa menyertai kita semua.  Amin. Khutbah Idul Adha