Contoh Instrumen Penelitian Kualitatif Berupa Tes

Contoh Instrumen Penelitian Kualitatif. Untuk penelitian dengan objek manusia yang di dalamnya mencakup unsur variabel yang terkait dengan manusia, tes merupakan alat ukur yang sering ditemui di bidang penelitian pendidikan, psikologi maupun sosiologi. Dengan tes, seorang peneliti dapat mengukur konstruk yang diinginkan.
Melalui indikator yang dipilih oleh mereka sendiri, seorang peneliti kemudian dapat mengidentifikasi konstruk yang hendak diukur. Diidentifikasinya konstruk objek melalui indikator dan digunakannya sebagai perkiraan konstruk atas dasar kajian ilmiah yang ada, tes merupakan aspek pengukuran penelitian yang mempunyai peranan penting.Di penelitian pendidikan, komponen konstruk yang terkait dengan variabel subjek yang hendak diteliti, sering diidentifikasi sebagai variabel penting dalam pendidikan seperti misalnya, keterampilan, motivasi, pencapaian hasil belajar, bakat dan kemampuan, sikap, hubungan manusia dengan manusia lainnya dan interes individu maupun kelompok. Variabel tersebut menjadi objek perhatian yang selalu menarik para peneliti pendidikan.

Batasan operasional mengenai pengertian suatu tes (Ary dkk., 1985:189) menyebutkan seperti berikut.

A test is a set of stimuli presented to individual in order to elicit responses on the basis of which a numerical score can be assigned.
Tes tidak lain adalah satu set stimuli yang diberikan kepada subjek atau objek yang hendak diteliti, sedangkan (Kerlinger, 1986), juga menyatakan bahwa

A test is a systernatic procedure in which the individuals tested are presented with a set of constructed stimuli to which they respond, the responses enabling the tester to assign the testes numerals.


Tes merupakan prosedur sistematik di mana individual yang dites direpresentasi¬kan dengan suatu set stimuli jawaban mereka yang dapat menunjukkan ke dalam angka. Subjek dalam hal ini, harus bersedia mengisi item-item dalam tes yang sudah direncanakan sesuai dengan pilihan hati dan pikiran guna menggambarkan respons subjek terhadap item yang diberikan. Respons yang telah diberikan oleh subjek, kemudian diolah oleh si peneliti atau tester secara sistematis menuju suatu arah kesimpulan yang menggambarkan tingkah laku subjek tersebut. Sesuai dengan jenis penelitian yang hendak digunakan, respons subjek pada umumnya melalui angka untuk penelitian kuantitatif, dan tidak melalui angka jika pilihan adalah melalui penelitian kualitatif.
Dalam memilih atau memberikan respons, subjek biasanya akan mengikuti petunjuk atau instruksi peneliti yang sebelumnya diberikan sebagai bagian pengantar pengerjaan tes. Apakah tes tersebut menjadi tes pencapaian belajar, tes bakat atau inventori tergantung dari tujuan peneliti dalam mendesain tes.

Contoh Instrumen Penelitian : Tes Psikologi (TP)


Tes ini merupakan instrumen yang dirancang untuk mengukur aspek-aspek tertentu dari tingkah laku manusia (Best, 1982:216). Tes psikologi menghasilkan deskripsi yang objektif yang diukur dengan menggunakan skor atau angka. Dalam tes psikologi, seorang peneliti dapat membedakan menjadi dua, yaitu tes prestasi dan tes bakat atau inteligensi.
Pemberian skor dalam tes psikologi pada umumnya didasarkan pada sampel yang memiliki karakteristik mewakili populasi. Di samping itu, tes psikologi juga mendasarkan pada jawaban dari subjek secara individual. Skor pada tes psikologi juga merupakan indikator yang merefleksikan karakteristik yang dimiliki oleh subjek yang diukur.

Seperti halnya bentuk tes lainnya tes psikologi sebaiknya juga harus memiliki tiga persyaratan, yaitu validitas, reliabilitas, dan objektivitas. Pengertian tentang validitas dan reliabilitas pada prinsipnya sudah dibahas pada bab terdahulu, sedangkan yang dimaksud dengan objektivitas suatu tes tidak lain adalah kesesuaian dengan kenyataan atau ketidakberpihakan penilai pada subjek yang diteliti. Suatu tes dikatakan objektif apabila tes tersebut mampu merefleksikan keadaan yang senyatanya yang biasanya ditunjukkan dengan tingkat kesesuaian antara subjek dengan para penilai.

Contoh Instrumen Penelitian : Tes Prestasi


Dalam penelitian pendidikan yang berkaitan dengan efektivitas program, metode pengajaran, dan kegiatan yang berkaitan dengan proses belajar-mengajar sering direfleksikan sebagai variabel terikat di antaranya adalah pencapaian hasil belajar. Untuk mengetahui apakah materi yang diberikan oleh seorang guru kepada peserta didik sudah dikuasai mereka, salah satu caranya adalah guru melakukan pengukuran dengan menggunakan tes prestasi. Oleh karena itu, hal yang wajar sekali apabila tes prestasi banyak digunakan dalam penelitian maupun dalam pembahasan yang berkaitan erat dengan proses belajar-mengajar dalam sistem pendidikan.
Tes prestasi pada umumnya mengukur penguasaan dan kemampuan para peserta didik setelah mereka selama waktu tertentu menerima proses belajar¬ mengajar dari guru. Tes tersebut umumnya untuk mengukur tingkat penguasaan dan kemampuan peserta didik secara individual dalam cakupan dan ilmu pengetahuan yang telah ditentukan oleh para pendidik.

Tes prestasi secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua macam bentuk tes, yaitu tes standar dan tes buatan guru. Tes buatan guru ini juga sering disebut sebagai tes yang belum distandardisasi. Tes standar merupakan tes yang sudah dipublikasikan keberadaannya dalam jurnal atau di media formal lainnya yang relevan. Tes standar tersebut biasanya dihasilkan melalui proses panjang yang merupakan usaha terencana, intensif dan sistematis oleh para pembuatnya dengan memperhatikan faktor-faktor penting termasuk substansi akademik yang luas dari sistem sekolah. Tes standar biasanya sudah dikomparasikan secara normatif dengan bentuk yang ada, termasuk uji validitas dan tingkat reliabilitas tes.

Membuat tes standar biasanya memerlukan proses yang panjang. Untuk mencapai tujuan tersebut pembuat tes harus mengadministrasi tes kepada subjek sasaran atau testcase yang berfungsi sebagai sampel. Di samping itu, grup norma juga perlu dipilih untuk menjadi populasi, misalnya provinsi, kabupaten, ranting atau sekolah. Rerata dari sampel biasanya menjadi norma untuk tingkat tersebut. Penggunaan grup norma tersebut penting bagi peneliti, utamanya untuk menjadi dasar pembanding antara rerata grup norma dengan rerata estimasi semua subjek pada kelas yang sama. Tes standar pada umumnya diadakan untuk mata pelajaran (subject matter) tertentu, misalnya mata kuliah matematika, ilmu pengetahuan alam atau fisika dan juga dalam bentuk tes komprehensif yang secara simultan mengukur beberapa pencapaian prestasi belajar. Contoh tes komprehensif ini misalnya tes kemampuan untuk masuk perguruan tinggi atau tes kemampuan akademik (TIKI), dan juga California Achievement Test (CAT) yang mencakup kemampuan para calon mahasiswa dalam hal membaca, bahasa, dan aritmatik.

Dalam memilih tes yang hendak digunakan, peneliti hendaknya perlu hati¬-hati. Tes yang dipilih sebaiknya sudah mengukur terhadap tujuan mata kuliah yang hendak diukur. Jika tes standar belum ada di lembaga maka peneliti dapat menggunakan tes yang ada di sekolah atau tes buatan sendiri. Tes buatan sendiri ini biasanya lebih sesuai dengan tujuan proses belajar-mengajar (PBM) dari guru atau si pembuat tes itu sendiri. Jika dibandingkan antara tes standar dengan tes buatan sendiri, dalam hal kesesuaiannya dengan tujuan mengajar, keberadaan tes belum standar atau buatan guru sendiri adalah lebih baik. Karena dengan adanya tes yang dibuat oleh guru yang bersangkutan, manajemen proses belajar yang mencakup di antaranya perencanaan, implementasi dan evaluasi mengajar lebih dapat terpenuhi.

Yang perlu diperhatikan bagi para peneliti berkaitan dengan tes yang belum standar adalah bahwa para peneliti harus tetap memperhatikan persyaratan tes pada umumnya, yaitu validitas, tingkat reliabilitas, dan objektivitas tes tersebut sebelum tes yang belum standar hendak digunakan. Di samping persyaratan di atas, alangkah baiknya bila pembuat tes juga mempunyai variasi literatur sebagai bahan acuan yang relevan.

Dilihat dari aspek interpretasi yang dibuat oleh peneliti, tes dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu tes normatif dan tes kriteria. Tes normatif dimungkinkan peneliti untuk:

Membandingkan performa individual satu dengan individual lain dalam penyelenggaraan tes yang sama.

Di samping itu, juga peneliti dapat menginterpretasikan performansi individual dalam posisinya sebagai anggota kelompoknya atau dalam group normatif.

Tes criterion atau kriteria sebaliknya, berprinsip pada penggambaran apa yang telah dibuat oleh seseorang sesuai dengan kapasitasnya tanpa menggunakan acuan orang lain. Oleh karena itu, sudah sewajarnya bila bentuk tes dapat mendeskripsikan apa yang telah dikerjakan oleh seseorang, karena performa dalam tes kriteria, pada prinsipnya dibuat atas dasar persyaratan yang telah ditentukan lebih dahulu. Performa individual dalam tes ini, direfleksikan melalui tingkat penguasaan beberapa ranah pengetahuan atau keterampilan yang dapat dicapai oleh orang tersebut melalui jawaban yang benar pada tes yang telah direncanakan. Performa hasil tes ini, kemudian dilaporkan dalam bentuk persentil, skor baku, varians, dan sebagainya.

 


Tes normatif maupun tes criterion dapat dibuat dengan tingkat kemudahan maupun kesulitan yang bervariasi, tergantung pada apa yang hendak peneliti ukur, sehingga dengan membuat tes yang bervariasi tingkat kesulitannya diharapkan performa seseorang dalam tes dapat digambarkan secara langsung melalui pengetahuan yang spesifik dalam cakupan yang proporsional dengan banyak orang masih dapat mencapainya.