Pengertian pembinaan

Dalam kehidupan senari-hari kita kerap mendengar istilah pembinaan atau pemgembangan. Misalnya dalam konteks pembinaan anak, pembinaan bahasa, pembinaan prajurut, atau pembinaan olah raga. Dari istilah ini tampak tersirat bahwa pembinaan adalah suatu usaha atau kegiatan yang mengarah kepada kebaikan hal yang dibina sehingga diharapkan menjadi lenih baik. Pembinaan dapat juga berarti poses melakukan kegiatan membina atau membangun sesuatu, seperti membina  bangsa. Dalam pembinaan ini tampak atau identik dalam perubahan, bergantung obyek yang bina, tentu saja perubahan yang mengacu kepada peningkatan.

Berkaitan dengan hal di atas dalam kamus besar Bahasa Indonesia (Depdikbud,1990: 589) dijelaskan pembinaan “sebagai proses, perbuatan, atau cara membina”. Arti dapat ditelusuri dari kata dasar bina yang mendapat prefiks pen-an sufiks-an sehingga menjadi proses, perbuatan, atau cara. Sementara menurut poerwadarminta, (1984: 141). pembinaan diartikan  “pembangnan dan pembawaan”. Kedua pendapat ini pada hakikatnya tidak berbeda, hanya arti pembinaan itu sendiri yang bersifat luas, bergantung orientasi dan persepsi yang menafsirkannya. Dengan kata lain, pembinaan berarti proses, perbuatan, cara membina juga berarti atau berpadanan dengan pembangunan atau pembawaan.

Bertolak dari kedua konsep di atas dapat dirumuskan bahwa suatu pembinaan mesti mencakup syarat yaitu  ada yang melakukan, sasaran atau obyek, dan hal yang akan dibina. Selain itu, makna pembinaan juga mengacu kepada suatu yang telah ada, tetapi membutuhkan dukungan untuk menjadikannya lebih baik. Dalam hal ini ada suatu yang ingin dicapai dari yang telah ada. Dari segi arah pembinaan dapat dipandang dari tiga aspek yaitu: hal yang dibina bersifat tetap, berubah yang lebih baik, dan berubah yang tidak baik. Namun, makna tersirat berdasarkan pemahaman umum, pembinaan lebih cenderung dimaknai menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Berdasarkan hal di atas dapat disimpulkan bahwa pembinaan adalah suatu proses, kegiatan, atau perbuatan, ataukah cara yang dilakukan dengan harapan menjadi lebih baik terhadap sesuatu. Dalam konteks pembinaan remaja bermakna usaha yang ditempuh oleh seseorang atau kelompok untuk menjadikan remaja lebih baik. Baik dalam arti cara berfikir,  bertindak, bersikap terhadap diri sendiri, olang lain, ataupun masyarakat di sekelilingnya.

Tujuan Pembinaan Remaja

Remaja sebagai salah satu istilah untuk menuju kepada suatu fase dalam kehidupan manusia             perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini disebabkan  oleh remaja adalah masa transisi dan proses pencarian jati diri sebagai manusia. Masa ini apabila tidak diperhatikaan dan dibina dengan baik dapat menjadi manusia yang salah jalan, menghancurkan dirinya sendirinya, dan mengganggu ketertiban masyarajat. Banyak data-data yang menunjukan dampak negatif yang ditimbulkan oleh remaja dengan tidak adanya pembinaan dari orang-orang di sekitarnya.

Secara spesifik tujuan pembinaan remaja menurut beberapa ahli di sajikan ada uraian berikut ini :

1)  Menggali potensi diri remaja sebagai asit bangsa

Masa remaja sebagai masa produktif saat ini disadari dengan baik oleh generasi tua, namun kurang disadari oleh remaja itu sendiri. Hal inilah yang menyebabkan banyak remaja atau generasi mudah menghabiskan sebagian besar waktunya melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat, bahkan cenderung merusak. Misalnya, tawuran, hura-hura, atau membuat kriminal. Dari konsep ini perlu kiranya diadakan pembinaan agar remaja memanfaatkan masa produktifnya untuk berbuat yang bermanfaat karena ditangannyalah tersimpan masa depan dan aset yang sangat prosfektif. Hal ini dipertegas oleh Palengkahu. (1997: 3) yang menyatakan remaja atau generasi muda adalah aset bangsa yang harus dilestarikan. Cara melestarikannya tidak lain adalah membina mereka agar menemukan potensi diri yang sebenarnya. Maksudnya, agar remaja menginvestasikan fikiran, tenaga, keahlian, ilmu, dan kemampuan untuk membangun bangsa dan negara menggantikan generasi tua yang mulai tidak produktif.

2)  Membentuk remaja yang bermoral dan berakhlak mulia

Dalam setiap program pembinaan atau organisasi remaja, salah satu hal yang sangat ditekankan  entah secara lansung atau tidak adalah membantu remaja bermoral dan berakhlak mulia. Ini merupakan tujuan yang memiliki arti penting apapun organisasi  atau program kerja yang dilakukannya. Tentu timbul pertanyaan mengapa hal ini dikedepankan ? jawabnya adalah moral dan akhlak yang mulia selalu menjadi ukuran baik tidaknya seorang individu atau remaja di mata masyarakat (Zailani,1993: 189). Sikap ini selalu menjadi harapan orang tua, masyarakat, dan bangsa terhadap para remaja. Bahkan banyak argumen menyatakan bahwa tampa moral dan akhlak yang  mulia  manusia termasuk remaja tidak berarti apa-apa. Dimilikinya hal tersebut menjadi kekuatan besar yang menjadi pondasi dalam membangun dan menjawab tantangan zaman yang kompleks. Sopan santun, bertanggung jawab, disiplin, pekerja keras, dan rendah hati adalah saran-saran yang ingin dicapai dalam pembinaan remaja  pada aspek moral dan akhlak mulia. (Jalaluddin, 1996: 96).

3) Menjadikan manusia cerdas dan terampil

Tujuan lain dari pembinaan remaja adalah menjadikan remaja tersebut manusia yang cerdas dan terampil. Cerdas dan terampil disini tidak diartikan  sacara sempit tetapi mencakup beragam jenis ilmu pengetahuan dan keterampilan. Seperti cerdas dalam arti berwawasan luas berbagai kehidupan, tampil memanage dirinya, memimpin, memahami orang lain, atau cerdas dan terampil memandang dan menjalani realitas kehidupan. Banyak kita temukan model-model pembinaan remaja secara tidak lansung mengajarkan berbagai hal, termasuk di dalamnya keahlian berkomunikasi dengan orang. Hal ini merupakan dasar penting dalam kehidupan manusia yang jarang diperoleh dalam pendidikan formal. Melalui organisasi-organisasi pembinaan seorang remaja dapat menemukan berbagai pengalaman yang mengarah pada peningkatan kualitas pribadinya. pada akhirnya diterapkan dalam kehidupan keluarga, masyarakat, serta bangsa dan negara.(Zaenuddin, 2004:19).

4) Meminimalisir terjadinya kenakalan remaja

Meskipun diakui bahwa adanya pembinaan remaja tidak menjamin. Akan tetapi, dapat dipastikan dengan beragamnya bentuk pembinaan remaja oleh individu, kelompok, dan organisasi, menamilisir terjadinya kenakalan remaja. Organisasi remaja seperti IRM, IPMI atau kelompok-kelompok kajian  keislaman  dan keilmuan sebagai wadah, menjadikan peluang kenakalan remaja berkurang karena ada patron untuk tidak berbuat tidak terpuji. Di dalam organisasi tersebut didasarkan akan dampak negatif yang bisa ditimbulkan dengan kenakalan remaja. Jadi secara tersirat tidak ada atau berkurang waktu senggang yang dapat memicu perilaku negatif yang kerap muncul di saat tidak ada aktivitas. Menurut Mahie. (1992:31) kenakalan remaja banyak disebabkan oleh banyaknya waktu luang remaja, apalagi kalau sudah terbentuk dalam suatu kelompok-kelompok yang tidak ada kegiatan yang bermanfaat.

Program pembinaan Remaja

Berbicara mengenai program pembinaan remaja, banyak hal yang bisa ditempuh untuk meningkatkan kualitas pribadi remaja. Menurut Ohovianus ( dalam Mahie dkk, 1992:38) usaha atau program pembinaan remaja sebagai berikut :

1)  Membina dan mengembangkan kegiatan para generasi muda yang relevan dengan tujuan membangun sehingga mampu mengapdikan diri kepada masyarakat.

2)   Mengembangkan kebiasaan-kebiasaan pembinaan generasi muda untuk mampu menampung, melaksanakan, atau usaha pembinaan sesuai kebutuhan hakiki, minat dan aspirasinya.

3)   Meningkatkan mutu organisasi-organisasi melalui pelatihan kepemimpinan agar mampu menjadi wadah penyaluran aspirasi dan partisipasi media pembelajaran.

Pada skala kebangsaan, Hanafi (dalam Toputiri, 2004: 68) merumuskan bahwa program pembinan remaja dan generasi muda hendaknya diarahkan kepada:

a). Peningkatan investasi dalam pelatihan keterampilan yang relevan, menekankan pelatihan yang cocok untuk lapangan kerja seperti sektor informal, dan kerja sama antara pekerja dan pembeli training.

b). Mempromosikan kewirausahaan dengan syarat informasi yang lebih baik bagi kesempatan pasar, pelatihan dan keterampilan bisnis, akses terhadap modal, dan jasa pelayanan bisnis lainnya.

c). Program kepemudaan yang memberi peluang lebih besar kepada remaja guna memperkuat jati diri dan potensinya dengan berpertisifikasi aktif dalam pembangunan  termasuk penanggulangan masalah pemuda dan masalah-masalah sosial lainnya.

Dalam perspektif agama Islam program pembinaan remaja menurut Jalaluddin (1996: 16) hendaknya lebih ditekankan pada kegiatan atau organisasi dalam, misalnya, pelaksanaan pengajian atau majelis taqlim yang dilakukan secara rutin melalui wadah remaja mesjid, khutbah dan ceramah di masjid-masijid, kajian-kajian keagamaan, dan pengkaderan organisasi-organisasi sosial keagamaan. Program ini apabila dilakukan dengan kontinu dan partisifatif menjadi program yang jitu terutama dalam menengah munculnya kenakalan remaja, gejolak kejiwaan, dan pengaruh lingkungan yang bersifat negatif.

Dalam bidang sosial dan keluarga  program pembinaan yang dipandang ideal adalah orang tua menata lingkungan fisik, lingkungan sosial, dan lingkungan pendidikan remaja, dialog orang tua dengan anak, penataan suasana psikologis, social budaya, dan perilaku orang tua, kontrol orang tua, dan nilai moral yang dijadikan dasar orang tua yang diupayakan kepada anak. (Shochib, 1998: 57-69). Program ini menurut Shochib harus menjadi satu kesatuan yang tidak bias dipisahkan. Artinya, harus dijalankan secara keseluruhan dengan penyesuaian-penyesuaian  seadanya pada diri anak dan remaja.

Di samping beberapa program di atas, Mahic, dkk. (1992: 40) juga menjilaskan:

Bahwa program pembinaan remaja dalam bentuk aktivitas dalam upaya pencarian jati dirinya dapat dilakukan dengan cara: (1) kegiatan yang bersifat relevan seperti darmawisata, karya wisata, atau widyawisata, (2) kegiatan yang bersifat pengisi waktu luang  seperti hiburan, mendaki gunung, dan hasta karya, (3) kegiatan yang menambah ilmu seperti kelompok belajar, kursus, diskusi, dan kerajinan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpilkan bahwa program pembinaan remaja dapat dilakukan dengan berbagai cara bergantung klasifikasi titik tolaknya. Misalnya program pembinaan remaja secara umum, program pembinaan dalam perspeltif kebangsaan, agama, social, dan keluarga, program dalam bentuk kegiatan-kegiatan lain. Semua ini adalah model pembinaan remaja yang menjadi alternatif bagi remaja model yang akan dipilih .sesuai bakat, minat, dan kemampuannya.

Faktor-Faktor Pendukung Pembinaan Remaja

Belum lagi sifat remaja yang unik dan kadang misterius sehingga membutuhkan penanganan khusus apalagi kebermasalahannya kompleks. Dengan demikian, wajarlah kalau dalam pembinaan remaja membutuhkan faktor pendukung dari berbagai komponen.

1)  Faktor Orang Tua Dan Keluarga

Dalam pembinaan remaja faktor pertama dan  utama yang mendukung keberhasilan pembinaan di samping kesadaran pribadi dari remaja yang bersangkutan juga harus didukung olah orang tua dan keluarga. (Palengkahu, 1997: 14). Alasannya sederhana, karena remaja paling banyak berinteraksi dengan orang tua dan keluarganya. Dengan demikian pembinaan pertama anak dan remaja secara sadar atau tidak dilakukan orang tua di lingkungan keluarga. Faktor  cepat terealisasi dibandingkan sebaliknya (Schaefer 2000: 30). Di samping itu, menurut (Schaefer 2000: 43) dorongan movil, waktu,dan penyedian fasilitas dari orang tua dan keluarga adalah aspek padolog yang sangat membantu dalam membina remaja.

2) Faktor Lingkungan Yang Sekitar

Lingkungan adalah ruang dan waktu tempat berlangsungnya segala kegiatan. Dalam konteks remaja lingkungan sekitar merupakan salah satu penentu suatu pembinaan remaja, suasana yang mendolog, fasilitas, dan sikap masyarakat sekitar yang menginginkan kebaikan dan mau berubah adalah aspek yang tidak bias diabaikan dalam pembinaan remaja. Tanpa hal-hal tersebut, bagaimanapun bagusnya program atau organisasi remaja tidak akan mencapai hasil yang maksimal. Faktor lingkungan ini menurut Shochib (1998:57) terbagi tiga yaitu lingkungan fisik, sosial, dan pendidikan. Ketiga faktor inilah apabila dikelolah dengan baik atau tersedia mempermudah untuk dibina karena  perangkat keras sudah jadi.

3) Faktor Pemerintah

Untuk membina remaja di samping kedua factor di atas juga diperlukan dukungan dari pemerintah. Dukungan tersebut dapat dalam wujud sebagai wadah, mediator, atau sponsor. Misalnya, pembentkan lembaga, remaja anti narkoba, atau seminar-seminar tentang masalah remaja dari unsur pemerintah harus terlibat, seperti mempermudah unsur administrasi pembentukan lembaga atau menjadi pemateri seminar. Selain hal ini, partisipasi pemerintah sebagai wujud dukungan dapat berupa bantuan dana kegiatan-kegiatan pembinaan remaja. Aspek-aspek ini adalah sebagian faktor pendukung pembinaan remaja dari segi pemerintah. Tanpa dukungan dari pemerintah pembinaan remaja dalam berbagai bentuk tidak akan berhasil dengan baik, apalagi secara administratif  hampir semua kegiatan berurusan dengan pemerintah, termasuk dalam pembinaan remaja. (Al-Ghifari, 2004: 12).

Ketiga faktor di atas hendaknya dilihat sebagai  suatu mata rantai yang saling berkaitan, ketidakadaan salah satu faktor berarti mata rantai yang putus sehingga tidak dapat berjalan pembinaan dengan baik. Ketiga faktor ini harus ada kerjasama yang baik untuk mencapai keberhasilan pembinaan remaja. Sehingga ada peluang saling menutupi kekurangan. Namun, karena posisinya sebagai subyek dan obyek pembinaan.

Salam …