Belajar Menerapkan Disiplin di Sekolah

Disiplin Sekolah

Setelah menentukan beberapa unsur moralitas, sekarang kita akan menyelidiki bagaimana unsur-unsur tersebut bisa dibentuk atau dikembangkan dalam diri si anak. Kita mulai dengan unsur pertama sebagaimana telah kita tentukan, yakni semangat disiplin.

Cara menjawab suatu pertanyaan tergantung pada hakikat pertanyaan tersebut. Kita tahu sasaran yang mau kita capai, yakni tujuan ke arah mana kita harus membimbing si anak. Namun cara yang paling tepat untuk membawa si anak ke sana, jalur yang akan kita tempuh, sangat tergantung pada titik tolak kita. Pengaruh pendidikan tidak diterangkan pada suatu tabula rasa (sesuatu yang putih bersih, belum ada isinya). Si anak mempunyai kodratnya sendiri, dan untuk dapat bertindak secara cermat terhadap kodrat tersebut, pertama-tama kita harus berusaha untuk memahaminya. Jadi, pertama kita harus mengetahui dengan cara bagaimana dan sejauhmana si anak dapat dimasuki, agar kita bisa membentuknya. Di antara sekian banyak sikap kodratinya, sikap manakah yang akan kita bentuk agar hasil yang kita inginkan tercapai? Jadi sudah waktunya kita harus memahami psikologi anak secara mendalam, satu-satunya cara untuk bisa memperoleh informasi penting mengenai pokok persoalan ini.

Dalam bab pertama telah kita kemukakan bahwa keadaan mental yang harus ditumbuhkan oleh pendidikan dalam diri si anak hanya berupa kondisi-kondisi yang sangat umum, yang benar-benar jauh dari bentuk spesifik kondisi yang terjadi. Proposisi ini akan diverifikasi khususnya yang menyangkut semangat disiplin. Orang sesungguhnya bisa berkata bahwa tak satupun dari unsur-unsur yang membentuk disiplin sepenuhnya terbentuk dalam kesadaran si anak.

Ada dua unsur semangat disiplin. Pertama, keinginan akan adanya keteraturan. Karena kewajiban dalam keadaan yang sama akan selalu sama, dan karena kondisi-kondisi pokok kehidupan banyak yang telah pasti dan berlaku bagi setiap orang, seperti misalnya: jenis kelamin, status, pekerjaan dan situasi sosial kita maka tapaknya akan mustahil bahwa seseorang akan merasa senang bila ia bisa memenuhi kewajibannya tetapi menolak hal-hal yang sifatnya teratur dan terbiasa. Keseluruhan tatanan moral bertopang pada keteraturan ini.

Kedua, semangat disiplin mengandung apa yang telah kita sebut keinginan yang tidak berlebihan dan penguasaan diri. Pengalaman sehari-hari kita cukup membuktikan bahwa hal tersebut sama sekali tidak ada sampai seorang anak mencapai usia dewasa. Seorang anak tidak mempunyai perasaan bahwa kebutuhan-kebutuhannya mempunyai hambatan yang wajar. Kalau ia menyukai sesuatu, ia ingin agar dipuaskan sepenuhnya. Dia tidak mengekang keinginan itu dan juga tidak mau apabila seseorang membatasi keinginan tersebut. Dia tidak akan berusaha untuk menyesuaikan dengan konsep yang dimiliki orang dewasa mengenai keharusan adanya hukum-hukum alam; dia bahkan tidak mengerti bahwa hal-hal tersebut ad. Ia tidak dapat membedakan apa yang mungkin dan apa  mustahil. Akibatnya ia tidak mengerti bahwa realitas menetapkan berbagai kendala terhadap keinginan-keinginan yang tidak mungkin diatasinya.

PENERAPAN HUKUM DI SEKOLAH

Dalam bab yang lalu telah kita lihat bahwa metode hukuman badan tidak lahir dalam keluarga lalu kemudian berpindah ke sekolah. Hal ini justru dimulai di sekolah dan setelah beberapa waktu lalu menjadi kebiasaan yang makin meluas ketika sekolah sebagai tempat pendidikan formal juga makin dikenal luas. Kita telah membahas sebab musabbab dari hubungan yang menarik ini. Tentu dapat kita pahami bahwa pada saat budaya manusia mencapai suatu tingkat perkembangan tertentu, metode-metode yang gunakan untuk meneruskan pengetahuan budaya tentu dibarengi dengan tingkat kekerasan yang makin besar. Karena pengetahuan budaya semakin kompleks, maka pengalihannya tidak mungkin lagi diperayakan hanya pada keadaan dan penemuan secara kebetulan. Kini orang harus mengejar waktu, bergerak dan dengan cepat dan campur tangan manusia menjadi suatu hal yang mutlak. Prosedur ini tentu saja akan menimbulkan pemaksaan terhadap kodrat, karena tujuannya memang untuk mempercepat kedewasaan. Jadi kita berbicara mengenai metode yang bersifat memaksa agar bisa mencapai hasil yang diinginkan. Karena kesadaran masyarakat ketika itu tidak begitu mempedulikan adanya prosedur-prosedur keras semacam itu dan karena kesadaran masyarakat merupakan satu-satunya faktor yang bisa mempengaruhi sifat-sifat yang kasar ini, maka kita dapat mengerti mengapa hal itu bisa terus berlangsung. Jadi metode hukuman badan baru terbentuk setelah orang meninggalkan kebiadabannya semula, setelah sekolah didirikan. Sekolah dan peradaban adalah dua hal yang muncul bersamaan dan saling berkaitan dengan erat.

Namun, dengan demikian kita belum dapat menerangkan mengapa metode disiplin semacam ini bisa berkembang dan semakin mantap selama beberapa abad dan bahkan pada masa peradaban maju pesat dan tingkah laku manusia menjadi semakin halus. Karena keharusan tingkah laku seharusnya bisa membuat kebiasaan kasar dianggap tak pantas lagi.

PENGARUH LINGKUNGAN SEKOLAH

Pada bab yang lewat, saya menunjukkan bahwa salah satu masalah nasional yang khas Perancis adalah melemahnya semangat asosiasi di negeri ini. Kehidupan kolektif tidak begitu menarik bagi kita; sebaliknya, kita sangat merasakan kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan dalam kehidupan kolektif. Sebagai akibatnya, kita hanya mau menjalankan aspek-aspek diri kita yang paling luas bagi kehidupan kelompok. Dalam kenyataannya, kita terlibat di dalam kehidupan kelompok sesedikit mungkin. Bukti paling jelas tentang ketidaksukaan terhadap berbagai kelompok perantara yang berada di antara keluarga dan negara adalah banyaknya rintangan yang hingga akhir-akhir ini terdapat dalam hukum Perancis bagi kelompok-kelompok tersebut. Karakter nasional Perancis ini lebih dalam berakar pada diri kita karena sifat tersebut berasal dari sumber-sumber sejarah yang dalam dan jauh. Memang, sifat ini disebabkan oleh seluruh gerakan konsolidasi dan penyatuan moral yang dimulai oleh monarki Perancis segera setelah ia menjadi sadar akan dirinya dan akan peranannya, dan yang diteruskan seta disempurnakan oleh Revolusi Perancis. Untuk menanamkan kesatuan moral yang menjadi ciri khas Perancis. Untuk menanamkan kesatuan moral yang mnjdi ciri khas Perancis, maka dianggap perlu untuk memberantas semua bentuk kekhususan bentuk homunal, propinsi dan korporasi. Mengakui kenyataan bahwa masyarakat, seperti halnya makhluk hidup pada umumnya, akan jauh lebih berkembang bila ia bersatu, orang tidak dapat menyesalkan gerakan dipersatukan di Eropa. Meskipun demikian, hilangnya secara radikal kelompok-kelompok menengah (intermediate group) telah merusak moralitas umum pada salah satu seginya yang paling vital. Dalam suasana seperti ini, bentuk-bentuk utama aktivitas manusia dikembangkan di luar setiap kelompok; orang mempunyai kesempatan yang semakin kecil untuk ambil bagian dalam kehidupan bersama, karena kurang pengalaman dalam kehidupan  bersama ia akan kurang menyukainya. Orang yang semakin tidak bisa menghargai daya tariknya dan akan merasa kerugiannya semakin besar dan semakin menyakitkan.

MENGAJAR ILMU PENGETAHUAN

Pada bab yang baru lewat saya mencoba menunjukkan bagaimana konsepsi intelektual tertentu bisa mempengaruhi orientasi moral bangsa dan individu. Khususnya, kita membahas perubahan pemikiran tertentu yang saya sebut rasionalisme yang terlalu disederhanakan (oversimplified rationalism). Secara umum, dapat dikatakan bahwa kita mengerti sesuatu menurut proporsinya bila ia sederhana. Jika kita dapat mengerti soal-soal matematika secara sempurna, itu karena soal-soal tersebut sangat sederhana. Di lain pihak, hal-hal yang kompleks hanya dengan alasan bahwa ia kompleks, hanya dapat dikonsepsikan secara kabur dan membingungkan. Konsekuensinya, timbul kecenderungan untuk menyangkal realitas dari segala sesuatu yang kompleks sebagai suatu ilusi, padahal penyebab satu-satunya adalah lemahnya kemampuan intelektual kita. Hal yang kompleks kelihatan seperti demikian bagi kita, hanya karena kita tidak mampu membedakan unsur-unsurnya yang sangat sederhana. Akan tetapi sikap ini sebenarnya hanya membuat sesuatu yang kompleks menjadi suatu gabungan dari hal-hal yang sederhana, dengan demikian menghindarkan masalah untuk mengetahui bagaimana hal itu dapat diterjemahkan dalam bahasa yang dapat dimengerti. Jadi, bagi Descartes misalnya semua kualitas sekunder zat bentuk warna dan bunyinya tanpa suatu dasar dalam realitas; oleh karena itu tidak ada yang riil, demikian dugaannya, kecuali perluasan dari matematika dan tubuh tersusun hanya dari bagian-bagian perluasan tersebut.