Sejarah Awal Penggunaan Metode Halaqah

Pada awal Islam diturunkan, bangsa Arab dikenal dengan sebutan “kaum jahil”. Kaum Quraisy penduduk Mekah sebagai bangsawan di kalangan bangsa Arab hanya memiliki 17 orang yang pandai baca tulis. Suku Aus dan khozroj penduduk Yastrib (Madinah) hanya memiliki 11 orang yang pandai membaca.[1] Hal inilah yang menyebabkan bangsa Arab sedikit sekali yang mengenal ilmu pengetahuan. Hidup mereka dipenuhi dengan sifat kebengisan dan kenistaan, mereka hanya mengikuti hawa nafsu, yang kuat menindas yang lemah, yang kaya memeras yang miskin, yang kuasa menginjak-injak yang disukainya, hingga persaudaraan menjadi permusuhan, mereka menyembah  berhala, api, binatang dan lain-lainnya.

Menghadapi kenyataan itu Rasulullah, diutus Allah dengan tujuan memperbaiki akhlak, baik akhlak untuk berhubungan dengan Tuhan maupun sesama manusia. Dalam masalah ilmu pengetahuan Rasulullah sangat besar pengaruhnya. Pola pendidikan yang dilakukan oleh Rasulullah yaitu dengan tiga tahap.

  1. Tahap rahasia dan perseorangan yaitu sejak turunnya wahyu yang pertama Q.S. 96, ayat 1-5, dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi dengan memulai dari dirinya sendiri dan keluarga dekatnya. Mula-mula Rasulullah mendidik istrinya, khadijah untuk beriman kemudian diikuti oleh anak angkatnya Ali bin Abi Thalib dan Said bin Haritsah selanjutnya diikuti oleh sahabat-sahabat karib Rasullulah. Sebagai lembaga pendidikan dan pusat pendidikan Islam yang pertama pada era awal ini adalah, rumah Arqam ibn Arqam.
  2. Tahap terang-terangan yaitu berselang tiga tahun sampai turunnya wahyu berikutnya, yang memerintahkan dakwah secara terbuka dan terang-terangan. Perintah dakwah secara terang-terangan  tersebut seiring dengan jumlah sahabat yang semakin banyak dan untuk meningkatkan jangkauan saluran dakwah, di samping itu keberadaan rumah Arqam bin Arqam sebagai pusat lembaga pendidikan Islam sudah diketahui oleh Quffar Quraisy.
  3. Tahap untuk umum yaitu seruan dalam skala internasional tersebut, didasarkan kepada perintah Allah, surat al-Hijr Ayat 94-95. Sebagai tindak lanjut dari perintah tersebut, Pada musim haji Rasulullah mendatangi kemah para jemaah haji. Pada awalnya tidak banyak yang menerima, kecuali kelompok jemaah haji dari Yastrib, yang menerima dakwah secara antusias. Dari sinilah sinar Islam memancar keluar Mekkah. Inilah bentuk dakwah Rasulullah secara umum, dakwah kepada setiap ummat manusia yang datang dari seluruh penjuru bumi berhaji ke Mekkah.[2]

Perjuangan Rasulullah menyebarluaskan ajaran agama Islam di dukung dengan dijadikannya rumah Arqam bin Arqam sebagai pusat untuk mempelajari al-Qur’an. Mereka berkumpul membaca al-Qur’an, memahami kandungan setiap ayat yang diturunkan. Rasulullah selalu menganjurkan kepada para sahabatnya supaya al-Qur’an dihafal dan selalu dibaca, sehingga kebiasaan membaca al-Qur’an tersebut merupakan bagian dari kehidupan mereka sehari-hari.

Lembaga pendidikan dan sistem pembelajaran masa Rasulullah  pada fase Mekkah, ada dua macam yaitu : rumah Arqam bin Arqam dan Kuttab. Dalam sejarah pendidikan Islam Istilah Kuttab telah dikenal di kalangan bangsa arab pra-Islam.[3]

Dalam buku karangan Bahaking Rama menjelaskan bahwa : kata Kuttab atau maktab, berasal dari kata dasar “kataba” yang berarti menulis. Jadi, kuttab adalah tempat belajar menulis. Pengertian lain, kuttab diambil dari kata “taktib” yaitu belajar menulis; dan mengajar menulis itulah fungsinya kuttab. Selain belajar menulis, pada perkembangan selanjutnya, di kuttab diajarkan pula Alquran, baik bacaan maupun tulisan dan pokok-pokok ajaran islam.[4]

Pada fase Mekkah ini, Rasulullah beserta para sahabatnya menghadapi sejumlah tantangan dan ancaman dari kaum Quraisy. Menghadapi ancaman dan tantangan tersebut, Rasulullah saw dan para sahabatnya memutuskan untuk berhijrah ke Madinah. meskipun begitu, hijrah kaum muslim dari Mekkah ke Madinah bukan saja dikarenakan tekanan dan ancaman Kuffar Quraisy, akan tetapi merupakan satu momentum strategis untuk membentuk formasi baru dalam pengembangan dakwah dan pendidikan Islam. Salah satu program beliau yang pertama dilakukan adalah membangun sebuah mesjid.

Dalam sejarah, mesjid yang pertama kali dibangun Nabi adalah Mesjid At-Taqwa di Quba pada jarak perjalanan kurang dari 2 mil dari kota Madinah ketika Nabi berhijrah dari Mekkah. Nakoesten sebagai mana yang dikutip Samsul Nisar Mengatakan bahwa pendidikan Islam yang berlangsung di mesjid adalah pendidikan yang unik karena memakai system halaqah (lingkaran). Sang syekh biasanya duduk di dekat dinding atau pilar mesjid, sementara siswanya duduk di depannya membentuk lingkaran dan lutut para siswa silang bersentuhan. Bila ditinjau lebih lanjut, bahwa system halaqah seperti demikian, adalah bentuk pendidikan yang tidak hanya menyentuh perkembangan dimensi intelektual, akan tetapi lebih menyentuh dimensi emosional dan spiritual peserta didik. Adalah merupakan kebiasaan dalam halaqah bahwa murid yang lebih tinggi pengetahuannya duduk di dekat syekh. Murid yang level pengetahuannya lebih rendah dengan sendirinya akan duduk lebih jauh, serta berjuang dengan keras agar dapat mengubah posisinya  dalam halaqahinya, sebab dengan sendirinya posisi dalam halaqah menjadi sangat singnifikan. Meskipun tidak ada batasan resmi, sebuah halaqah biasanya terdiri dari sekitar 20 orang siswa.[5]

Seseorang bias masuk dari satu halaqah ke halaqah lainnya sesuka hati, artinya tidak ada ikatan administratif dengan halaqah atau dari syekhnya. Metode diskusi dan dialoq yang banyak dipakai dalam berbagai halaqah. Dikte (imla) biasanya memainkan peran pentingnya, tergantung pada kajian dan topik bahasan. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan syekh atas materi yang telah didiktekan. Uraian disesuaikan dengan kemampuan  peserta halaqah. Menjelang akhir kelas, waktu akan dimanfaatkan oleh syekh untuk mengevaluasi kemampuan peserta halaqah. Evaluasi bias dalam bentuk tanya jawab, dan  terkadang syekh menyempatkan untuk memeriksa catatan murid-muridnya, mengoreksi, dan menambah seperlunya.[6]

Sejak Rasulullah membangun mesjid sebagai pusat pendidikan Islam setelah rumah Arqam bin Arqam merupakan bukti perjuangan Rasulullah menyebarkan ajaran Allah saw, yang selanjutnya dikembangkan oleh Khulafaur Rasyidin, Bani Umayyah, Abbasiyah hingga sampai ke Indonesia.

Selanjutnya bagaimanakah pendidikan di Indonesia apakah masih tetap mempertahankan metode pengajaran yang diterapkan oleh Rasulullah, ataukah pendidikan dalam hal metode pengajaran yang diterapkan Rasulullah telah pudar dan tidak ada, di pembahasan selanjutnya penulis akan memberikan pemaparan tentang perkembangan pendidikan di Indonesia.

1)      Sejarah Masuknya Pendidikan Islam di Indonesia

Sejarah telah mencatat bahwa semua agama baik agama Samawi atau agama Wadl’i disiarkan dan dikembangbiakkan oleh para pembawanya yang disebut utusan Tuhan oleh para pengikutnya. Mereka yakin bahwa kebenaran dari Tuhan itu harus disampaikan pada umat manusia untuk menjadi pedoman hidup. Para penyiar agama banyak yang menempuh perjalanan jarak jauh dari tempat kelahirannya sendiri demi untuk menyampaikan ajarannya.[7]

Setiap usaha penyiaran agama yang dilakukan mempunyai rintangan dan hambatan bahkan ancaman yang datang silih berganti, akan tetapi tidak dianggap menyulitkan bagi para penyiar agama khususnya agama Islam untuk menyampaikan kebenaran dari Allah swt. Hal ini pulalah yang menyebabkan penyiaran agama berjalan lancer dan kadang-kadang mengalami kemacetan walaupun tidak berhenti total.

Pengembangan dan penyiaran agama Islam termaksud paling dinamis dan cepat dibandingkan dengan agama-agama lainnya. Hal itu diukur dengan kurun waktu yang sebanding dengan sikon, alat komunikasi dan transformasi yang sepadan. Catatan sejarah telah membuktikan bahwa Islam dalam waktu 23 tahun dari kelahirannya sudah menjadi tuan dinegerinya sendiri, yaitu Jazirah Arab.[8]

Di saat Umar bin Khattab memegang pemerintahan sebagai khalifah kedua, Islam sudah mampu menembus dan masuk secara potensial di Syam Palestina, Mesir dan Irak. Pada zaman Usman bin Affan Islam telah menyebar lebih jauh lagi, bahkan hanya dalam waktu kurang dari 30 tahun atau tepatnya tahun 29 H, Islam sudah sampai di Tiongkok Cina yaitu dengan adanya perutusan dari Arab ke Cina yaitu pada tahun 651 H.[9] Begitu pula di wilayah-wilayah lain, Islam masuk secara potensial hingga sampai ke Indonesia.

Ada Dua faktor yang menyebabkan masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia dan yang menyebabkan Indonesia mudah dikenal oleh bangsa-bangsa lain, khususnya oleh bangsa-bangsa di Timur Tengah dan Timur jauh sejak dahulu kala yaitu :

  1. Faktor letak geografisnya yang strategis. Indonesia berada di persimpangan jalan raya Internasional dari jurusan Timur tengah menuju Tiongkok, mulai dari lautan dan jalan menuju benua Amerika dan Australia.
  2. Faktor kesuburan tanahnya yang menghasilkan bahan-bahan keperluan hidup yang dibutuhkan oleh bangsa-bangsa lain, misalnya rempah-rempah.[10]

Seperti diketahui dalam sejarah bahwa agama Islam masuk di Indonesia dibawa oleh para muballiq dan inilah faktor yang menunjang keberhasilan dan kecepatan pengembangan Islam, dengan bermodalkan kepribadian para muballiq Islam berdakwah kepada rakyat awam dan kepada para penguasa pemerintahan sekaligus demi untuk menyebarluaskan agama Islam tersebut. Hal ini pula yang menyebabkan pendidikan di Indonesia menyebar luas, perkembangan pendidikan Islam dapat dilihat dan ditandai dengan munculnya berbagai lembaga-lembaga pendidikan secara bertahap, mulai yang amat sederhana sampai dengan tahap yang sudah terhitung modern dan lengkap.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang mempunyai sejarah panjang dan unik. Secara histories, pesantren termasuk pendidikan Islam yang paling awal dan masih bertahan sampai sekarang. Berbeda dengan lembaga-lembaga pendidikan yang muncul kemudian, pesantren telah banyak berjasa dalam mencetak kader-kader ulama; dan kemudian berperan aktif dalam penyebaran agama Islam dan transfer ilmu pengetahuan.

Dalam hal metode pembelajaran yang diterapkan di pesantren tidak jauh beda dengan zaman Rasulullah yaitu masih mempertahankan metode pengajaran halaqah. Salah satu contoh pesantren yang menggunakan metode halaqah adalah seluruh Jawa dan Madura yang di istilahkan dengan pengajaran system sorogan dan bandongan.

Hal ini dijelaskan dalam buku karangan Zamakhsyari Dhofier bahwa, kitab yang diajarkan di pesantren di seluruh Jawa dan Madura pada umumnya sama. Sistem pengajaran pun, yaitu sorogan dan bandongan demikian juga bahasa jawa (yang spesifik pesantren) yang dipakai sebagai bahasa penerjemah.[11]

Dari pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa metode pengajaran yang dilaksanakan di Indonesia tidak jauh berbeda dengan pengajaran yang diterapkan Rasulullah. Meskipun kebanyakan pesantren telah memasukkan pengajaran pengetahuan umum sebagai bagian penting dalam pendidikan pesantren, namun pengajaran kitab-kitab Islam klasik tetap diberikan sebagai upaya untuk meneruskan tujuan utama pesantren mendidik calon-calon ulama, yang setia terhadap faham Islam tradisional.

Pesantren sebagai lembaga yang tetap mempertahankan ketradisionalan pengajaran yaitu metode halaqah, merupakan bukti untuk memperkuat pemahaman tentang pengajaran agama. Begitu pula dengan pesantren As’adiyah tetap mempertahankan metode pengajaran halaqah, sebelum lebih jauh membahas bagaimana penerapan metode halaqah terlebih dahulu penulis membahas tentang latar belakang berdirinya.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktek). Cet. XII ; Jakarta : Rineka Cipta, 2002.

Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. Ensiklopedi Islam. Cet 4 ; Jakarta : PT Ichtiar Baru Van Howeve, 1997.

Dhofier. Zamakhsyari. Tradisi Pesantren (Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai). Jakarta : LP3ES, 1982.

Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Islam. Sejarah pendidikan Islam. Jakarta: Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama/ IAIN, 1985.

Ghazali, Imam. Ihya’ Ulumnddin. Jilid 1 ; Singapura : Pustaka Nasional Pte Lte. 1998.

Hamalik, Oemar. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT Bumi Aksara, 2001.

Hasbullh. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2001.

Mappa, Syamsu. Apresiasi Pendidikan dalam Pendidikan Sosial dan Prestasi Belajar Mengajar. Makassar : FIP IKIP, 1987.

Mappanganro. Eksistensi Madrasah Dalam Sistem Pendidikan nasional. Ujungpandang : Yayasan Ahkam,1996.

Masdalis, Merodologi Penelitian (Suatu Pendekatan Proposal). Jakarta: Bumi Aksara, 1993.

Muthor, Ar. Ahmad. Idiologi Pendidikan Pesantren (Pesantren ditengah Arus Idiologi-Idiologi Pendidikan). Semarang : Pustaka Reski Putra, 2007.

Nizar. Samsul. Sejarah Pendidikan Islam (Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia). Jakarta : Kencana 2007.

Qomar, Mujamil. Pesanren Dari Trasformasi  Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi. Jakarta : Erlangga, 2006.

Rama, Bahaking. Pendidikan Pesantren (Kajian Pesantren As’adiyah Sengkang Sulawesi). Jakarta : Paradotama Wiragemilang, 2003

________., Sejarah Pendidikan Islam (Pertumbuhan dan Perkembangan Hingga Masa Khulafaurrasyidin). Jakarta : Paradotama Wiragemilang, 2002.

Ruslan, Muhammad & Waspada Santing. Ulama Sulawasi Selatan; Biografi pendidikan dan Dakwah. Makassar : Komisi Informasi & Komisi MUI Sulawesi Selatan, 2007

Sabri, Ahmad. Strategi Belajar Mengajar Micro Teaching. Cet II ; Ciputat : Quantum Teaching, 2007.

Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Cet IV ; Jakarta : PT Rineka Cipta, 3002.

….., Pengertian Belajar dan Prestasi Belajar. Diakses dari Internet, 18 Januari 2008., http://www.bloger.com.

Sugiyono. Metodologi Penelitian Administrasi (Dilengkapi dengan Metode R&D). Cet ke 14 ; Bandung : Alfabeta, 2006.

Sunanto, Musyrifah. Sejarah Islam Klasik(Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam). Bogor : Kencana, 2003.

UUD’45 yang Sudah Diamandemen. Surabaya : Apollo, 2002.

Zuhairini, dkk. Sejarah Pendidikan Islam. Cet IV ; Jakarta : Bumi Aksara, 1995.

[1] Musyrifah Sunanto. Sejarah Islam Klasik (Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam), (Bogor : Kencana, 2003), h. 13.

[2] Samsul Nisar. Sejarah Pendidikan Islam (Menelusuri jejak sejarah pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia). (Jakarta : Kencana, 2007), h. 5-6.

[3] Ibit. h. 7.

[4] Bahaking Rama. Sejarah Pendidikan Islam (Pertumbuhan dan Perkembangan Hingga Masa Khulafaurrasidin). (Jakarta : Paradotama Wiragemilang, 2002), h. 111.

[5] Samsul Nizar. Op. cit. h. 9-10

[6] Ibid.

[7] Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam. Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta : Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama/IAIN, 1985), h. 123.

[8] Zuhairini, dkk. Sejarah Pendidikan Islam, (cet 4 ; Jakarta : Bumi Aksara, 1995), h. 127.

[9] Hasbullah. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (lintas sejarah dan pertumbuhan), (Cet 4 ; Jakarta : Rajawali Grafindo, 2001), h. 3.

[10] Zuhairini. Op. cit. h.130.

[11] Zamakhsyari Dhofier. Tradisi Pesantren (Studi Tentang pandangan Hidup kyai). (Jakarta : LP3ES, 1982), h. 51.