Budaya Baca Tulis Al-Qur’an Masyarakat Sulawesi Selatan

A. Baca Tulis Alquran

1. Pengertian Baca Tulis Alquran

Mengungkap pengertian baca tulis Alquran terlebih dahulu penulis uraikan arti tiap katanya. Baca dalam arti kata majemuknya “membaca” yang penulis pahami berarti melihat tulisan dan mengerti atau dapat melisankan yang tertulis.

Kata “tulis” berarti batu atau papan batu tempat menulis (dahulu banyak dipakai oleh murid-murid sekolah), kemudian kata “tulis” ditambah akhiran “an” maka menjadi kata “tulisan” (akan lebih mengarah kepada usaha memberikan pengertian dari baca tulis Alquran) maka tulisan berarti hasil menulis.[1]

Dari kata “baca” dan “tulis” digabungkan akan membentuk sebuah kata turunan yaitu “Baca Tulis” yang berarti suatu kegiatan yang dilaksanankan secara berurutan yaitu menulis dan membaca.

Kata “Alquran” menurut bahasa artinya bacaan sedangkan menurut istilah adalah  mukjizat yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad  Saw sebagai sumber hukum dan pedoman bagi pemeluk ajaran agama Islam, jika dibaca bernilai ibadah.[2] Pengertian dapat penulis uraikan dengan lebih terinci, bahwa Alquran adalah
firman Allah swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw secara mutawatir dan berangsur-angsur, melalui malaikat Jibril yang dimulai dengan surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Nas dan membacanya bernilai ibadah.

Dari uraian di atas penulis dapat merumuskan suatu pengertian bahwa baca tulis Alquran  adalah suatu kemampuan yang dimiliki untuk membaca dan menuliskan kitab suci Alquran. Berangkat dari pengertian tersebut, maka terdapatlah gambaran dari pengertian baca tulis Alquran tersebut, yaitu diharapkan adanya kemampuan ganda yaitu membaca dan menulis bagi obyek yang diteliti. Sebab kemampuan tersebut berpengaruh kepada prestasi belajar bahasa Arab.

Jadi yang dikehendaki dari pengertian baca tulis Alquran tersebut adalah kemampuan ganda  yakni   membaca  dan menulis.  Maksudnya, di samping dapat membaca juga diharapkan mampu menulis dengan benar lafal dari ayat-ayat Alquran lalu bagaimana hubungan kedua kemampuan tersebut. Untuk sementara penulis dapat mengemukakan bahwa kedua perkataan tersebut sangat erat hubungannya, karena merupakan dasar untuk membaca dengan baik adalah menulis, demikian pula sebaliknya bahwa dasar untuk menulis dengan baik adalah membaca secara  teliti lebih dahulu. Hal ini dapat kita lihat buktinya bahwa seseorang dapat membaca dengan lebih baik dan benar suatu naskah jika dia telah mengenal tulisannya atau bila dia telah mampu menulisnya. Demikian juga seseorang kadang-kadang dapat menulis dengan benar jika dia telah mampu membaca dengan lafal yang benar. Hal ini merupakan gambaran betapa erat hubungan antara membaca dan menulis.

Dalam wahyu pertama yang difirmankan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw ditegaskan bahwa perintah Allah pertama kepada manusia adalah membaca. Perintah tersebut memberikan pengertian bahwa membaca adalah kunci untuk mengetahui segala sesuatu yang ada di muka bumi ini. Membaca merupakan kewajiban individu, karena dengan membaca dapat terhindar dari kesalahan, dengan membaca akan senantiasa terbimbing untuk berbuat yang benar, berarti membaca dapat diartikan sebagai suatu langkah untuk menganalisa sesuatu yang lebih jauh kedepan. Membaca adalah metode yang tepat untuk terhindar dari kesalahan, sebab dengan membaca terlebih dahulu maka akan difahami sesuatu mengenai apa, kapan, mengapa, di mana, dan bagaimana sesuatu.

Dari penjelasan di atas dapatlah diketahui luasnya pemahaman tentang membaca, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa membaca adalah pondasi untuk memahami segala sesuatu, bukan hanya membaca tulisan, akan tetapi membaca lisan pun termasuk di dalamnya seperti mengetahui karakter seseorang dan sebagainya.

Dalam bahagian pengertian ini jelaslah bahwa yang penulis maksudkan dengan baca tulis Alquran adalah bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan baca tulis Alquran objek atau sasaran penelitian, yaitu siswa MTs Bhayangkara Makassar, dan apakah kemampuan tersebut mempengaruhi prestasi belajar bahasa Arab siswa atau tidak kalau mempengaruhi prestasi belajar bahasa Arab siswa sejauh mana pengaruh tersebut

2. Sejarah Baca Tulis Alquran

Setelah wafat Utsman, Mushhaf Al-Imam tetap merupakan satu-satunya mushhaf yang dijadikan pegangan umat Islam dalam pembacaan Alquran, meskipun demikian terdapat juga beberapa perbedaan dalam pembacaan tersebut, sebab-sebab timbulnya perbedaan tersebut dapat juga disimpulkan dalam dua hal.

Pertama : Penulisan Alquran itu sendiri

Kedua   : Perbedaan lahjah (dialek) orang-orang Arab

Penulisan Alquran itu dapat menimbulkan perbedaan pembacaan, oleh karena Mushhaf Al-Imam ditulis oleh sahabat-sahabat yang tulisannya belum dapat dimasukkan kedalam golongan tulisan yang baik, sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Khaldun dalam bukunya “Muqaddimah Ibnu Khaldun”  bahwa “Perhatikanlah akibat-akibat yang terjadi disebabkan oleh tulisan mushhaf yang ditulis sendiri oleh sahabat-sahabat dengan tangannya”. Tulisan itu tidak begitu baik, sehingga kadang-kadang terjadilah beberapa kesalahan dalam penulisan, jika ditinjau dari segi tulisan yang baik dan bagus.

Untuk mengambil berkat, para tabiin dalam menyalin Alquran mengikuti saja bentuk tulisan Mushhaf Al-Imam. Karena Mushhaf itu ditulis oleh sahabat Rasulullah sendiri yang menerima Alquran langsung dari Nabi.

Di samping itu penulisan Mushhaf Al Imam adalah tanpa titik dan baris. Adapun perbedaan lahjah orang-orang Arab telah menimbulkan macam-macam qiraat

(bacaan), sehingga pada tahun 200 H. Muncullah ahli-ahli qiraat yang tidak terhitung banyaknya, seperti qiraat Ibnu Mas’ud.

Sebagaimana diterangkan di atas, Alquran mula-mula ditulis tanpa titik dan baris. Namun demikian hal ini tidak mempengaruhi pembacaa Alquran , karena para sahabat dan para tabiin adalah orang-orang yang fasih dalam bahasa Arab. Oleh sebab itu mereka dapat membacanya dengan baik dan tepat. Akan tetapi setelah ajaran agama Islam tersiar dan banyak bangsa yang bukan bangsa Arab memeluk agama Islam, sulitlah bagi mereka membaca Alquran tanpa titik dan baris itu.

Apabila keadaan demikian dibiarkan, dikhawatirkan bahwa hal ini akan menimbulkan kesalahan-kesalahan dalam pembacaan Alquran.

Maka Abu Aswad Ad-Duwali  mengambil inisiatif untuk memberi tanda-tanda dalam Alquran dengan tinta yang berlainan warnanya dengan tulisan Alquran. Tanda-tanda itu adalah titik diatas untuk fat-hah, titik di bawah untuk kasrah, titik di sebelah kiri atas untuk dhammah, dan dua titik untuk tanwin, hal ini terjadi pada masa Muawiyah.

Kemudian di masa khalifah Abdul Malik bin Marwan (685-705 M), Nashir bin Ashimdan Yahya bin Ya’mar menambahkan tanda-tanda untuk huruf-huruf yang bertitik dengan tinta yang sama dengan tulisan Alquran. Itu adalah untuk membedakan antara maksud dari titik Abul Aswad ad Duali dengan titik yang baru ini. Titik Abul Aswad adalah untuk tanda baca dan titik Nashir bin Ashim adalah titik huruf. Cara penulisan seperti ini tetap berlaku pada masa bani Umayyah, dan pada permulaan abbasiyah, bahkan tetap dipakai pula di Spanyol  sampai pertengahan abad ke 4 H. behwa kemudian ternyata cara pemberian tanda seperti ini menimbulkan kesulitan bagi para pembaca Alquran, karena terlalu banyak titik, sedang titik itu lama-kelamaan hampir menjadi serupa warnanya.

Maka Al-Khalil mengambil inisiatif, untuk membuat tanda-tanda yang baru, yaitu  huruf  waw kecil ( ?) di atas untuk tanda dhammah, huruf alif kecil (? ) untuk tanda fatha, huruf yaa kecil (?) untuk tanda kasrah, kepala huruf syin ( ?  ) untuk tanda syiddah, kepala ha ( ?   ) untuk sukun dan kepala ‘ain (?)  untuk hamzah,

Kemudian tanda-tanda ini dipermudah, dipotong dan ditambah sehingga menjadi bentuk yang ada sekarang ini.[3]

Adapun Alquran yang telah dibukukan yang sampai pada kita sekarang ini khususnya yang ada di Indonesia ditulis berdasarkan bahasa Quraisy.[4]

3. Tinjauan Filosofis dan Budaya Sulawesi Selatan tentang Baca Tulis Alquran

Sejarah masyarakat Sulawesi Selatan telah melalui perjalanan panjang dan meninggalkan tradisi yang menarik untuk digali, dalam hubungannya dengan pembelajaran Alquran, mereka memakai teori reward and punishment. Masyarakat muslim Sulawesi Selatan memberikan reward atau penghargaan bagi orang yang berprestasi dalam membaca Alquran, sebaliknya bagi orang yang tidak bisa membacanya akan mendapatkan punishment (hukuman), yaitu tersisihkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Aib rasanya bagi seorang orang tua jika anaknya tidak mampu membaca Alquran. Sehingga pertanyaan yang muncul pertama dari orang tua jika anak gadisnya dilamar oleh seorang lelaki adalah, “Apakah dia sudah tamat membaca Alquran?” jika tidak tamat, dia diberikan punishment dalam bentuk lamarannya ditolak  atau ia harus mendapat bimbingan khusus dari seorang ulama untuk menamatinya sebelum perkawinan berlangsung.

Penghormatan masyarakat Sulawesi Selatan terhadap Alquran dapat dilihat ketika perkawinan berlangsung dengan menjadikan Alquran sebagai mahar. Alquran sebagai mahar memiliki makna filosofis yang dalam, agar dalam perjalanan bahtera rumah tangga sang pengantin selalu berada di bawah naungan cahaya Alquran.

Keinginan orang tua muslim Sulawesi Selatan agar anak-anak mereka bisa memahami Alquran dengan baik dapat dilihat pada pemakaian simbol dalam proses belajar, seperti lidi tajam dari daun enau sebagai alat penunjuk huruf-huruf Alquran dalam belajar.

Bagi santri diberi motivasi kuat untuk belajar dengan baik yang disimbolkan dengan Accera pemotongan binatang pada saat santri sampai pada surah tertentu dari Alquran. Sebagai contoh pemotongan ayam putih setelah bacaan anak sampai pada surah  Al-Alaq. Pemotongan itu, kurang lebih mengandung tiga makna: 1) ayam putih disimbolkan agar hati santri suci atau putih sama putihya dengan warna bulu dari ayam itu, 2) bahagian yang terbaik dari ayam itu, seperti paha atau hati diberikan kepada santri yang merupakan reward kepada sang santri, dan 3) accera juga bermakna bahwa tanpa pengorbanan tidak akan mungkin sampai kepada cita-cita yang luhur. Pengorbanan di lambangkan dengan darah adalah yang paling besar dari seorang anak Manusia.

Penghargaan terhadap santri berprestasi yang tamat belajar Alquran dapat dilihat dalam Masyarakat Mandar. Santri yang tamat diarak keliling kampung beramai-ramai sambil mengendarai nyarang pattudu (Kuda Penari) dengan memakai pakaian Haji. Di atas nyarang pattuddu, ia mendapat pujian sepanjang jalan dari pakkalinddada atau penyair.[5]

Guru mengajipun mendapatkan penghargaan serupa, berupa jaminan hidup dari masyarakat melalui pembayaran zakat, sedekah, dan infaq. Dia diambilkan kayu bakar, air, dan mendapatkan insentif melalui accera dari santri-santrinya. Guru mengajipun terkadang merangkap menjadi imam mesjid yang bisa menambah penghasilannya melalui sedekah. Sekalipun biaya hidup tersebut berlangsung tidak pasti, namun berkat jasa-jasa mereka sehingga tradisi baca Alquran sampai kepada generasi kita. Imam yang berprestasi bisa dipromosikan menjadi Daengta kaliya yang dalam bahasa Mandar disebut Maradiyanna Syara’, yang posisinya dalam protokol seremonial keagamaan sejajar dengan raja.

Sebaliknya, orang yang tidak memiliki kemampuan baca Alquran akan tersisihkan dalam setiap upacara seremonial keagamaan.

4. Kemampuan Dasar Baca Tulis Alquran

Kemampuan dasar baca tulis Alquran adalah kemampuan mengenal, membaca huruf-huruf hijaiyah (ayat-ayat Alquran) dengan makhraj dan tanda baca yang benar, dan mampu membedakan dan melafazkan bacaan-bacaan yang panjang dan pendek serta mampu menulis huruf-huruf hijaiyah tersebut pada posisi awal, tengah dan akhir kata apabila telah dirangkai (disambung) menjadi ayat-ayat Alquran.

Adapun tanda baca yang dimaksud dari pengertian sebelumnya adalah sebagai berikut[7]:

NONAMA TANDA BACATANDA BACAARTITANDA BACAKETERANGAN
01Fathah?AFathah yaitu garis miring kecil di atas huruf
02Kasrah?IKasrah yaitu garis miring kecil di bawah huruf
03Dhammah?UDhammah yaitu seperti wau kecil di atas huruf
04Sukun?Tanda matiMenyebut bagian awal nama huruf
05Tasydid?Dobel tanda matiMembanyakkan huruf mati
06Fathah tegakAAA dibaca panjang
07Kasrah tegakIII dibaca panjang
08Dhammah tegakUUU dibaca panjang
09Fathatain?ANFathatain=dua fathah = tambah N di belakang A
10Kasratain?INKasratain=dua kasrah = tambah N di belakang I
11Dhammatain?UNDhammatain=dua dhammah = tambah N di belakang U
12Panjang alif?    ?AAA dibaca panjang
13Panjang ya?   ??III dibaca panjang
14Panjang wau?   ??UUU dibaca panjang
  1. B. Prestasi Belajar Bahasa Arab

Prestasi belajar adalah hasil belajar yang telah dicapai siswa dalam bidang studi tertentu dengan menggunakan tes standar sebagai pengukuran keberhasilan belajar seseorang, dalam kamus besar indonesia, prestasi belajar adalah penguasaan, pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan dari mata pelajaran, yang lazim ditentukan dengan nilai tes atau angka yang diberikan oleh guru.[8]

Menurut Ahyas Azhari bahwa:

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dalam lingkungan.[9]

Sedangkan menurut Abdurrahman :

Belajar adalah suatu perubahan dari individu dengan lingkungannya yang menjadikannya mendapat kemajuan yang lebih tinggi untuk hidup secara wajar dalam lingkungannya.[10]

Sedangkan Bahasa Arab adalah bahasa atau kalimat yang dipergunakan oleh orang-orang Arab atau warga penduduk yang berada di jazirah Arab untuk mengungkapkan maksud dan tujuan mereka.[11]

Berdasarkan pengertian di atas, maka prestasi belajar bahasa Arab yang dimaksud disini adalah hasil yang dicapai siswa setelah mengikuti pelajaran bidang studi bahasa Arab di sekolah yang bersifat kognitif melalui penguasaan, pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan dalam mata pelajaran tersebut, yang ditunjukkan dengan nilai hasil ujian yang diberikan oleh guru.

C. Pembelajaran Bahasa Arab

Dalam pembelajaran bahasa Arab dikenal dua metode yang biasanya dipakai yaitu: Metode Nadzriyatul Furu’ dan Nadzriyatul Wihdah. Pada umumnya pembelajaran bahasa Arab di madrasah-madrasah yang ada di Indonesia menggunakan metode Nadzriyatul Wihdah, olehnya itu dalam tinjauan pustaka ini penulis mencoba membahas tentang metode Nadzriyatul Wihdah, untuk mengetahui apa itu Nadzriyatul Wihdah maka berikut ini adalah ulasan tentang Nadzriyatul Wihdah.

  1. 1. Pengertian Nadzriyatul Wihdah

Menurut bahasa, pengertian Nadzriyatul Wihdah seperti yang dikemukakan oleh A.W. Munawwir dalam Al-Munawwir bahwa Nadzriyatul Wihdah berasal dari dua kata bahasa Arab yaitu: ?????  (Nadzriyatu) dan  ?????? (Al-Wihdah).[12] Dalam kamus kontenporer Arab Indonesia dikemukakan bahwa kata tersebut berasal dari kata dasar ???  yang berarti “melihat”, dan apabila pada akhir ditambah ya al-Nisbah (?????????)  menjadi  ?????  yang berarti “teori”. Kata (???) berarti “satu” apabila di tambah alif dan lam atau dijadikan ma’rifah menjadi (??????) yang berarti “Kesatuan”.[13] Jadi Nadzriyatul Wihdah diartikan sebagai “teori kesatuan”.

Barnawi mengemukakan bahwa Nadzriyatul Wihdah adalah sistem pengajaran bahasa Arab satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan.[14]

Azhar Arsyad berpendapat bahwa Nadzriyatul Wihdah (teori kesatuan) suatu teori yang memandang bahwa bahasa Arab adalah suatu kesatuan bukan bercabang-cabang atau terpisah-pisah dan materi pelajaran diajarkan dalam satu waktu.[15]

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud Nadzriyatul Wihdah adalah pendekatan dalam pengajaran bahasa Arab secara menyeluruh tanpa ada pemisahan dari masing-masing bagiannya, sehingga keterampilan berbahasa yang meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi antara yang satu dengan yang lain.

Dengan demikian, dalam sistem pengajaran bahasa Arab dengan menggunakan Nadzriyatul Wihdah, guru benar-benar dituntut untuk menguasai materi pengajaran serta kreativitas guru dalam menggunakan metode-metode yang tepat untuk mendukung terlaksana pengajaran bahasa Arab itu sendiri.

  1. 2. Metode Pembelajaran Bahasa Arab Berdasarkan Pendekatan Nadzriyatul Wihdah

Nadzriyatul Wihdah (teori kesatuan) merupakan pengajaran bahasa Arab yang memandang bahwa bahasa sebagai suatu kesatuan yang utuh, tidak dibagi dalam beberapa cabang dari ilmu bahasa Arab. Pelaksanaan pengajaran bahasa Arab dengan pendekatan ini dimulai dengan mengambil satu bahan yang menjadi topik dalam suatu mutala’ah, menjadi bahan Muhadatsah (percakapan), Nahu sharaf dan seterusnya.

Pertama-tama guru memulai dengan memberi pengalaman bahasa Arab kepada siswa, apakah dengan cara mendengarkan kalimat bahasa Arab dengan menggunakan alat bantu, atau guru sendiri yang mengucapkan langsung kalimat-kalimat tersebut. Hal ini akan membuat siswa terbiasa dengan tata bunyi bahasa Arab.

Membaca merupakan salah satu kunci utama mengajarkan seseorang berbicara, maka latihan membaca tidak boleh terlepas dari pengawasan guru, karena bagaimanapun juga, tujuan utama siswa mempelajari bahasa Arab adalah untuk mengetahui ilmu-ilmu agama Islam yang dapat terpenuhi jika siswa mampu membaca teks berbahasa Arab. Dengan membiasakan siswa mendengar istilah-istilah baru dengan membuat ta’bir yang baik akan mempengaruhi kemampuan membaca siswa.

Selanjutnya siswa dilatih mengekspresikan isi hatinya atau apa yang terlintas dalam pikirannya melalui bentuk tulisan. Kemudian dilatih menerjemahkan kalimat bahasa Indonesia kedalam bahasa Arab, dan selanjutnya menilai sebuah topik untuk menyusun karangan sederhana.

Berdasarkan kurikulum bahasa Arab 1994, kegiatan belajar mengajar materi-materi pelajaran bahasa Arab diurut sebagai berikut: 1) Hiwar dan Mufradat, 2)  Qawaid, pola kalimat, 3) Muthalaah, dan 4) Insya’ Muwajjah.

  1. 3. Prinsip-Prinsip Nadzriyatul Wihdah

Di Indonesia Nadzriyatul Wihdah (teori kesatuan) adalah suatu pendekatan dalam pengajaran bahasa Arab yang merupakan gagasan dari mantan Menteri Agama RI, Prof. Dr. H. Mukti Ali. Beliau berpendapat bahwa pengajaran bahasa Arab harus diusahakan untuk didudukkansebagai suatu proporsi pengajaran dengan penekanan pada mahasiswa IAIN. Untuk merealisasikan pelajaran bahasa Arab pada pertama kalinya dengan menggunakan pendekatan Nadzriyatul Wihdah untuk tingkat IAIN, dengan dibentuknya sebuah lembaga bahasa yang dilengkapi dengan language laboratory, sehingga pelajaran bahasa Arab dipisahkan dari fakultas, serta memberi level elementary, intermediate, dan advance. Pada tahap selanjutnya ditetapkan pula Nadzriyatul Wihdah pada tingkat sekolah lanjutan pertama atau Madrasah Tsanawiyah dan tingkat sekolah lanjutan menengah atau Madrasah Aliyah.[16] Dengan tidak mengabaikan dasar-dasar atau prinsip-prinsip pengajaran bahasa Arab yang biasa menjadi pegangan pengajar bahasa Arab dalam melihat dan memantau kemampuan siswa dan mentransfer bahasa yang diajarkan.

Prinsip-prinsip atau dasar-dasar pengajaran dapat membantu terlaksananya proses pembelajaran dengan baik dan mengarah pada sasaran yang akan diuji. Prinsip-prinsip itu terdiri atas prinsip kejiwaan, prinsip paedagogis dan prinsip linguistic.[17]

Nadzriyatul Wihdah (teori kesatuan) dalam mengajarkan bahasa Arab mempunyai 3 prinsip yaitu: 1) Prinsip Kejiwaan, 2) Prinsip Paedagogis, dan 3) Prinsip Linguistik.[18]

  1. Prinsip Kejiwaan

1)      Pelajaran yang diberikan menurut Nadzriyatul Wihdah (teori kesatuan) harus menarik hati siswa, sehingga tidak bosan dan membuat siswa rajin, karena pelajaran yang diberikan menggunakan metode yang bermacam-macam.

2)      Dalam teori ini, siswa mengulang-ulang pelajaran dalam satu acara, karena pengulangan pelajaran, siswa lebih terkesan dan mendalam pemahamannya.

3)      Teori ini didasarkan pada teori ilmu jiwa Gestall, yaitu siswa diberikan pemahaman secara keseluruhan terlebih dahulu, kemudian di Uraikan bagian-bagiannya.

  1. Prinsip Pendidikan (Paedagogis)

1)      Pertumbuhan bahasa pada anak didik menjadi seimbang secara keseluruhan, tidak terjadi kepincangan karena semua aspek mendapat perhatian yang sama.

2)      Perkembangan kemampuan siswa dari setiap bagian terjalin dengan baik dan erat, karena pengajarannya melatih skill kebahasaan yakni listening, reading, speaking, dan writing. Sehingga perkembangan bahasa siswa bisa berimbang disesuaikan dalam situasi yang sama, tanpa ada pemisahan dari empat skill (keterampilan) tersebut.[19]

  1. Prinsip kebahasaan (Linguistik)

Pemakaian bahasa dalam kehidupan sehari-hari adalah bentuk kesatuan, baik lisan maupun tulisan. Artinya, bahasa itu didengar, diucapkan, dibaca, dan ditulis adalah bahasa yang utuh dengan bagian-bagiannya.[20]

Kalau bahasa itu bunyi, lalu bagaimana dengan bahasa tulisan? Dalam linguistik, yang disebut bahasa primer adalah bahasa yang diucapkan yang dilisankan, yang keluar dari alat ucap manusia. Bahasa yang dilisankan inilah yang pertama-tama menjadi objek linguistik sedangkan bahasa tulisan hanyalah bahasa sekunder. Bahasa tulisan sebenarnya hanyalah “rekaman” dari bahasa lisan.[21]

Memperhatikan semua uraian di atas, maka dapat diuraikan keunggulan Nadzriyatul Wihdah yaitu: 1) Belajar lebih ditekankan daripada mengajar, 2). Guru mengajarkan bahasa Arab sangat mementingkan seluruh aspek membaca, menyimak, menulis, dan membaca, sehingga memperoleh kemampuan yang seimbang, 3). Siswa diharapkan memiliki keterampilan/kemampuan yang berlangsung secara gradual dan alamiah, dan 4). Membaca, menyimak, berbicara dan menulis dipandang sebagai suatu komponen tersendiri yang diajarkan tidak secara terpisah-pisah.

  1. D. Hubungan Kemampuan Baca Tulis Alquran terhadap Pembelajaran Bahasa Arab

Sebagaimana diuraikan pada bab pertama bahwa Alquran diturunkan dengan berbahasa Arab, dan kitapun mengetahui bahwa penulisan bahasa Arab tentunya dengan menggunakan huruf hijaiyyah, maka Alquran pun ditulis dengan huruf Hijaiyyah.

Kemudian dari pada itu Alquran adalah kitab suci umat Islam dimana sejak dini, kita diperintahkan untuk membaca Alquran sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

?????????? ????????????? ????? ??????? ???????? : ????? ??????????? ??????? ?????? ???????? ??????????? ?????????? … (????  ??????? ?? ??? )

Artinya:

“Ajarkanlah kepada Anak-anakmu 3 hal: Mencintai Nabimu, Mencintai keluarga Nabi, dan membaca Alquran” (HR. Addailami dari Ali)[22]

Maka jelaslah hubungan kemampuan baca tulis Alquran dengan pembelajaran bahasa Arab, dimana anak didik yang sejak dini telah mampu membaca Alquran kemudian mempelajarai bahasa Arab tentunya dapat membaca teks bahasa Arab tersebut disebabkan penulisan dan pelafazan teks bahasa Arab sama dengan penulisan dan pelafasan Alquran, sebaliknya siswa yang sebelumnya tidak memiliki kemampuan dasar baca tulis Alquran kemudian belajar bahasa Arab maka tentunya akan sulit untuk mempelajarinya.


[1] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet. V; Jakarta: Balai Pustaka, 1995), h. 968

[2] Drs. Moh. Rifai, Ilmu Fiqhi Islam Lengkap (Semarang PT. Karya Toha Putra, 1978) h. 17

[3]Mujamma’ Al Malik Fahd Li tiba’at Al Mush-haf, Madinah Munawwarah. 1418 H. Saudi Arabiyah. H.111

[4]Abu Abdullah Az-Zanjani, Wawasan Baru Tarikh Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1986), h. 89.

[5] Ahmad Sewang, Baca Tulis Al-Qur’an (Tinjauan Filosofis Dalam Budaya sulawesi Selatan, Makalah, Makassar, LAPERSOS 2006), h.4

[6]KH. Zulfison dan KH. Muharom, Belajar Mudah Membaca Al-Qur’an dengan Metode Mandiri (Jakarta: Ciputat Press, 2003), h. 23-25

[7]Ibid., h. 27.

[8] Poedarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesi, (Jakarta: Depdikbud RI, 2002),h.94.

[9] Ahyas Azhari, Psikologi (Semarang, PT. Toha Putra, 1996) h.38

[10] Abdurrahman, Pengelolaan pengajaran (Makassar; PT Bintang Selatan, 1994) h. 98

[11]Abu Bakar Muhammad, Ilmu Nahwu (surabaya: Karya Abditama, 1996) h.3.

[12]A.W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab Indonesia (Cet. XXVI; Surabaya: Pustaka Progressif, 2002), h. 1543

[13] Atabik Ali & Zuhdi Ahmad Muhlor, Kamus Kontemporer Arab Indonesia (Yogyakarta: Yayasal Ali Maskur, 1996), h.1881

[14] Imam Banawi, Tata Bahasa Arab (Surabaya: Al-Ikhlas, 1987), h. 24

[15] Azhar Arsyad, madhal ila Thuruq Ta’lim al-lughah Al-Ajnabiyah Limudarris al-Lughah Arabiyyah (Ujung Pandang: Ahkam, 1998), h. 810.

[16] Radhi Al-Hafid, Materi Pengembangan Bahasa Arab, (Ujungpandang IAIN Alauddin, 1993). h. 98

[17]Azhar Arsyad, op.cit,. h.82

[18]Abdul Alim Ibrahim, Al-Muwajjah Al-Fanniy Li Mudarris Al-Lughah AL-Arabiyyah, (Al-Qahirah: Dar Al-Ma’ruf, 1968)h. 50

[19] Tim Penyusun, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab pada Perguruan Tinggi Agama IAIN (Jakarta; Departemen Agama RI, 1974) h. 174

[20] Azhar Arsyad, op.cit. h.83

[21] Abdul Chaer Linguistik Umum (Jakarta, Rineka Cipta. 1994)h.43

[22] Sayyid Ahmad Al Hasyimy, Mukhtarul Ahaadits An-Nabawiyyah (Semarang, Toha Putra) h. 7-8