Berbagai Aliran Filsafat tentang Baik dan Buruk

PENGERTIAN

Pengertian “baik” menurut etika adalah sesuatu berharga untuk sesuatu tujuan. Sebaiknya yang tidak berharga, tidak berguna untuk tujuan, apabila yang merugikan atau menyebabkan tidak tercapainya tujuan adalah “ buruk”

Seperti  halnya pengertian benar dan salah, maka pengertian baik dan buruk juga ada yang subjektif dan relatif, baik bagi seseorang belum tentu bagi orang lain. Sesuatu baik bagi seseorang apabila hal ini sesuai dan berguna untuk tujuannya. Hal yang sama adalah mungkin buruk bagi orang lain, karena hal tersebut tidak akan berguna bagi tujuannya. Masing-masing orang mempunyai tujuannya yang berbeda-beda, bahkan ada yang bertentangan, sehingga yang berharga untuk seseorang atau untuk sesuatu golongan berbeda dengan yang berharga untuk orang akan golongan lainnya.

Akan tetapi secara objektif, walaupun tujuan orang atau golongan di dunia ini berbeda-beda, sesungguhnya pada akhirnya semuanya mempunyai tujuan yang sama, sebagai tujuan akhir tiap-tiap sesuatu, bukan saja manusia bahkan binatang pun mempunyai tujuan. Dan tujuan akhir dari semuanya itu sama, yaitu bahwa semuanya ingin baik. Dengan kata lain semuanya ingin  bahagia. Tidak ada seorangpun dan sesuatupun yang tidak ingin bahagia

Di dalam akhlak islamiyah, antara baik sebagai alat/cara/tujuan sementara harus segaris/sejalan dengan baik sebagai tujuan terakhir. Artinya cara untuk mencapai tujuan baik sebagai tujuan sementara dan tujuan akhir berada dalam satu garis lurus yaitu berdasarkan satu normal. Di samping “baik” juga harus “benar”. Sebab tidak semua cara yang berharga untuk mencapai tujuan itu disebut baik apabila tidak segaris dengan baik sebagai tujuan akhir.

Berbeda dengan akhlak Machiavelli, yang dianut oleh  komunis, untuk mencapai tujuan dapat dengan segala macam cara. Tujuan menghalalkan segala cara, Het Doel Heiling de Middelen, umpamanya untuk mencapai kemenangan kekuasaan memelaratkan rakyat agar rakyat bisa di kuasai, dan untuk mencapai kemenangannya dengan membinasakan orang lain. Dengan membunuhnya dengan kejam siapa saja yang dianggap lawan, walaupun bertentangan dengan hukum yang berlaku.

UKURAN BAIK DAN BURUK

Dalam sesuatu benda ada ukurannya, berapa besarnya? Berapa beratnya? Berapa tingginya? Berapa luasnya? Berapa dalamnya? Dan lain sebagainya.

Mempersoalkan baik dan buruk pada perbuatan manusia maka ukuran dan karakternya selalu dinamis, sulit di pecahkan. Namun demikian karakter baik dan buruk perbuatan-perbuatan manusia dapat akhir menurut fitrah manusia

(+) Pengaruh adat kebiasaan. Manusia dapat terpengaruh oleh adat istiadat golongan dan bangsanya, karena itu hidup di dalam lingkungan dengan melihat dan mengetahui. Mereka melakukan sesuatu perbuatan dan menjauhi perbuatan lainnya. Sedang kekuatan memberi hukuman kepada sesuatu belum tumbuh begitu rupa, sehingga ia mengikuti kebanyakan perbuatan yang mereka lakukan atau mereka singkirkan

Ada beberapa alasan mengapa adat istiadat dilakukan dan larangan-larangan disingkirkan

  1. Pendapat umum, karena memuji pengikut, pengikut adat istiadat dan mengejek orang-orang yang menyalahinya. Maka adat istiadat bangsa dalam berpakaiannya, maka bercakap-cakap, bertandang dan sebagainya amatlah kuat dan kokoh. Karena orang-orang menganggap baik bagi pengikutnya dan menganggap buruk bagi orang yang menyalahinya demikian sebab-sebabnya segolongan bangsa menertawakan adat istiadat bangsa lain yang menyalahi adat istiadat mereka.
  2. Apa yang diriwayatkan secara turun temurun dai hikayat-hikayat dan khurafat-khurafat yang menganggap bahwa syetan dan jin akan membalas dendam kepada orang-orang yang menyalahi perintah-perintah adat istiadat dan malaikat akan memberi pahala bagi orang yang  mengikutinya.
  3. Beberapa upacara, keramaian, pertemuan dan sebagainya yang menganugerahkan persaan dan yang mendorong bagi para hadirin untuk mengikuti maksud dan tujuan upacara itu, mengikuti adat istiadat kematian pengantin, ziarah kubur

Dalam penyelidikan adat istiadat tidak dipergunakan sebagai ukuran  dan pertimbangan, karena sebagai dari perintah-perintahnya tidak masuk akal dan setengah merugikannya. Dan banyak perbuatan-perbuatan yang terang salahnya bagi kita, tetapi lain bangsa menyatakan kebaikan; seperti mengubur anak perempuannya hidup-hidup yang dilakukan oleh sebagian suku bangsa Arab pada zaman jahiliyah. Mereka menganggap perbuatan itu tidak tercela dan tidak salah.

Pada masa sekarang, kita dapat membenarkan adat istiadat semacam itu dan bahkan mengingkarinya. Dan bila adat istiadat itu banyak salahnya, maka tidak dapat dijadikan ukuran baik dan buruk bagi perbuatan-perbuatan kita.

BERBAGAI ALIRAN TENTANG BAIK DAN BURUK

Aliran Hedonisme

Aliran Hedonisme berpendapat bahwa norma baik dan buruk adalah “kebahagian”. Karenanya suatu perbuatan apabila dapat mendatangkan kebahagian maka perbuatan itu baik dan sebaliknya perbuatan itu buruk apabila mendatangkan penderitaan.

Menurut aliran ini, setiap manusia selalu menginginkan kebahagian, yang merupakan dorongan dari tabiatnya dan ternyata kebahagiaan adalah merupakan tujuan akhir dari hidup manusia, oleh karenanya, jalan yang mengantarkan ke arahnya dipandang sebagai keutamaan (perbuatan mulia/baik)

Aliran Utilitarianisme

Maksud dari paham ini adalah agar manusia dapat mencari kebahagian sebesar-besarnya untuk sesama manusia atau semua  makhluk mempunyai perasaan

Aliran Untuitionisme

Aliran Untuitionisme berpendirian bahwa setiap manusia mempunyai kekuatan naluri batiniah yang dapat membedakan sesuatu itu baik dan  buruk dengan hanya selintas pandangan. Jadi, sumber pengetahuan tentang suatu perbuatan mana yang baik dan mana yang buruk adalah kekuatan naluri, kekuatan batin dan bisikan hati nurani yang ada pada tiap-tiap manusia

Aliran Evolutionisme

Faham evolusi pertama muncul di bawah oleh seorang ahli pengetahuan bernama “Lamarck”. Dia berpendapat bahwa jenis-jenis binatang itu merubah satu sama lainnya. Dan menolak pendapat yang mengatakan bahwa jenis-jenis itu berbeda-beda dan tidak dapat berubah-ubah. Alasan lain bahwa jenis-jenis itu tidak terjadi pada satu masa akan tetapi bermula dari binatang rendah, meningkat dan beranak satu dari lainnya dan berganti dari jenis ke jenis lain.

Aliran Idealisme

Aliran idealisme dipelopori oleh Imanuel Kant (1724-1804) seorang yang berkebangsaan Jerman. Pokok-pokok pandangan etika idealisme dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Wujud yang paling dalam dari kenyataan (hakikat) ialah kerohanian seseorang berbuat baik pada prinsipnya bukan karena dianjurkan orang lain melainkan atas dasar “kemauan sendiri” atau “rasa kewajiban” sekalipun diancam dan dicela orang lain, perbuatan baik itu di lakukan juga, karena adanya rasa kewajiban yang bersemi dalam rohani manusia
  2. Faktor yang paling penting mempengaruhi manusia adalah “kemauan” yang melahirkan tindakan konkret. Dan yang menjadi pokok disini adalah “kemauan baik”
  3. Dari kemauan yang baik itulah dihubungkan dengan suatu hal yang menyempurnakannya yaitu “rasa kewajiban”

Aliran Tradisionalisme

Tiap umat manusia mempunyai adat/tradisi dan peraturan tertentu, yang dianggap baik untuk dilaksanakan. Karena manusia itu, kapan dan di manapun juga dipengaruhi oleh adat kebiasaan/tradisi bangsanya, karena lahir dalam lingkungan bangsanya. Jadi seandainya manusia itu menyalahi adat istiadat bangsanya, maka hal itu sangat dicela dan dianggap keluar dari golongannya.

Jelasnya, dapatlah disebut di sini bahwa aliran tradisionalisme adalah aliran yang berpendapat bahwa yang menjadi norma baik dan buruk ialah tradisi atau adat kebiasaan. Artinya sesuatu itu baik kalau sesuai dengan adat kebiasaan, dan sebaliknya sesuatu itu  buruk bila adat kebiasaan

Aliran Naturalisme

Aliran ini berpendirian bahwa segala sesuatu dalam dunia ini menuju kepada suatu tujuan tertentu. Dengan memenuhi panggilan nature setiap sesuatu akan dapat sampai kepada kesempurnaan. Benda-benda dan tumbuh-tumbuhan, juga termasuk didalamnya, menuju kepada tujuan yang satu, tetapi dicapainya secara otomatis tanpa pertimbangan atau perasaan. Hewan menuju kepada tujuan itu dengan naluri kehewanannya, sedangkan manusia menuju tujuan itu dengan  naluri akal dan pikirannya.

Aliran Theologis

Aliran ini berpendapat bahwa yang menjadi ukuran baik dan buruknya perbautan manusia adalah didasarkan atas ajaran Tuhan, apakah perbuatan itu diperintahkan atau dilarang oleh-Nya. Segala perbuatan yang diperintahkan Tuhan itulah yang  baik dan segala perbuatan yang dilarang Tuhan itulah perbuatan  yang buruk, dimana ajaran-ajaran tersebut sudah dijelaskan dalam kitab suci.