Filsafat & Ideologi | Manfaat Mempelajari Filsafat

Filsafat & Ideologi | Manfaat Mempelajari Filsafat. Di blog ini banyak sekali artikel mengenai filsafat. Saya sudah mempublish puluhan makalah mengenai materi kuliah yang satu ini. Silakan baca artikel saya mengenai itu, misalnya : ideologi yang ada di dunia, pengertian filsafat dan falsafah & ideologi. Kali ini kita akan melanjutkan membahas mengenai filsafat & ideologi

Perkembangan ilmu-ilmu filsafat merupakan hasil penggunaan secara sengaja. Suatu metode untuk memperoleh pengetahuan yang menggabungkan pengalaman dengan akal sebagai pendekatan bersama dan menambahkan suatu cara baru untuk menilai penyelesaian-penyelesaian yang disarankan. Dari banyak di antara uraian kata sampai sejauh ini, kita mungkin telah merasakan bahwa kesulitan yang dihadapi oleh filsafat ialah bahwa ‘filsafat tidak bersifat ilmiah’ ia menggeluti di dalam dan kita membicarakan kenyataan empiris, di dalam filsafat tampaknya tidak ada suatu cara untuk memperoleh jawaban, ini menimbulkan masalah tentang metode ilmiah sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan.

Metode ilmiah mengikuti prosedur-prosedur tertentu yang sudah pasti digunakan dalam usaha memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dihadapi oleh seorang ilmuwan.

Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam, baik dalam ungkapan maupun titik tekanannya. Pada buku yang lain juga ada yang mengatakan bahwa filsafat adalah kegiatan intelektual yang hendak menggali inti, hakikat (esensi), akar atau struktur dasar, yang melandasi segenap kenyataan.

Filsafat & Ideologi | Manfaat Mempelajari Filsafat

Pythagoras (572-497M) adalah filsuf yang pertama kali menggunakan kata filsafat dia mengemukakan bahwa manusia dapat dibagi kedalam tiga tipe; mereka yang mencintai kesenangan, mereka yang mencintai kegiatan dan mereka yang mencintai kebijaksanaan.

DC. Mulder (pembimbing ke dalam ilmu filsafat (1966:10) mendefinisikan filsafat sebagai pemikiran teoritis tentang susunan kenyataan sebagai keseluruhan. Setelah disusun itulah yang disebut sistematika filsafat.

Filsafat terdiri atas tiga cabang besar yaitu; ontologi, epistemology, dan aksiologi. Ketiga cabang itu sebenarnya merupakan satu kesatuan.

  • Ontologi, membicarakan hakikat (segala sesuatu), ini berupa pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu
  • Epistemology, cara memperoleh pengetahuan itu
  • Aksiologi membicarakan guna pengetahuan itu

Kebijaksanaan dalam pandangannya menyangkut kemajuan menuju keselamatan dalam hal keagamaan. Shopie mengandung arti yang lebih luas dari pada kebijaksanaan, yaitu; 1) kerajinan, 2) kebenaran pertama, 3) pengetahuan yang luas, 4) kebajikan intelektual; 5) pertimbangan yang sehat; 6) kecerdikan dalam memutuskan hal-hal praktis. Dengan demikian asal  mula kata filsafat itu sangat umum, yang intinya adalah mencari keutamaan mental (the pursuit of mental excellence)

Plato (427-347 SM) mengatakan bahwa objek filsafat adalah penemuan kenyataan atau kebenaran absolut (keduanya sama dalam pandangannya), lewat dialektika. Sementara Aristoteles (384-332SM) toko utama filosof klasik, menyatakan bahwa filsafat menyelidiki sebab dan asas segala terdalam dari wujud.

Manfaat Mempelajari Filsafat

Dari uraian tersebut orang bisa menduga-duga tentang letak pentingnya mempelajari filsafat manusia terutama dari peminat filsafat, mahasiswa dan sarjana yang berasal dari berbagai disiplin non filsafat. Filsafat manusia menyoroti gejala dan kejadian manusia secara sintesis dan reflektif, dan memiliki ciri-ciri ekstensif, intensif dan kritis. Jika betul demikian, maka dengan mempelajari filsafat manusia berarti kita dibawa di dalam suatu panorama pengetahuan yang sangat luas, dalam dan kritis, yang menggambarkan esensi manusia. Panorama pengetahuan seperti itu mempunyai manfaat ganda yakni manfaat praktis dan teoritis.

Secara praktis filsafat manusia bukan saja berguna untuk mengetahui apa dan siapa manusia secara menyeluruh, melainkan juga untuk mengetahui siapakah sesungguhnya diri kita di dalam pemahaman tentang manusia yang menjelaskan itu pemahaman yang demikian pada gilirannya akan memudahkan kita dalam mengambil keputusan-keputusan praktis atau dalam menjalankan berbagai aktivitas hidup sehari-hari, menentukan arah dan tujuan hidup kita, yang selalu saja tidak gampang untuk kita tentukan secara pasti dan seterusnya. Kepada kita pemahaman yang esensial tentang manusia, sehingga pada gilirannya, kita bisa mampu secara kritis asumsi-asumsi yang bersembunyi di balik teori yang di dalamnya terdapat ilmu-ilmu tentang manusia. Manfaat hanya mempelajari filsafat manusia adalah mencari dan menemukan jawaban tentang siapa sesungguhnya manusia itu.

Objek Filsafat

Objek penyelidikan filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada tidak terbatas. Inilah yang disebut objek material filsafat. Timbul pertanyaan, apakah yang membedakan antara objek filsafat dan objek ilmu pengetahuan lainnya? Objek filsafat yang dimaksud adalah objek  materialnya, sebab ilmu pengetahuan mempunyai objek material yang sama dengan filsafat yaitu segalay ada dan yang mungkin ada. Ilmu pengetahuan bebas dan tidak terikat untuk menentukan objek penelitiannya, dan sampai saat ini belum ada pembatasan dalam objek ilmu pengetahuan (objek material). Oleh karena itu, kalau dilihat dari objek materialnya, baik filsafat maupun ilmu pengetahuan, memiliki objek yang sama atas dasar apakah kita bedakan ilmu dan filsafat? Filsafat bisa kita bedakan dengan ilmu pengetahuan lainnya dari segi sifat penyelidikannya yang menjadi objek kajian filsafat adalah keberadaan Tuhan, malaikat, manusia, jin, serta binatang-binatang, lingkungan dan ajaran-ajarannya.

Ideologi dan Fungsinya

Pengertian ideologi; kumpulan gagasan yang secara logis berkaitan (ideologic), dan yang mengidentifikasi prinsip-prinsip atau nilai-nilai yang memberikan keabsahan bagi  institusi politik dan perilaku. Ideologi dapat digunakan untuk membenarkan status quo atau membenarkan usaha mengubahnya (dengan atau tanpa kekerasan).

Karena memberikan pengesahan kepada pemerintah, ideologi membenarkan adanya status eko, tetapi ideologi juga bisa digunakan oleh para pembaharu atau pemberontak untuk menyerang, status quo, sekali pemerintah bisa menindas warga negaranya dengan menggunakan dalih ‘hak ketuhanan raja’ atau kehendak sejarah’, tapi hanya pemberontak bisa membenarkan tindakan kekerasan mereka dengan bersandar pada prinsip ‘hak-hak dasar’ atau ‘kehendak yang kuasa’. Ideologi yang dianggap syarat dengan kepentingan kelas pekerja bukan tidak bisa digunakan untuk menentang kekuasaan negara borjuis, selain juga untuk memisahkan kekuasaan diktator terhadap kelas pekerja.

Dengan memberikan dasar etika pada pelaksanaan kekuasaan politik, ideologi juga bisa mempersatukan rakyat suatu negara atau pengikut suatu gerakan yang berusaha mengubah negara. Ideologilah yang memungkinkan adanya komunikasi simbolis antara pemimpin dan yang dipimpin, untuk berjuang bahu membahu demi prinsip bukan pribadi. Ideologi juga merupakan suatu pedoman untuk memilih kebijakan dan perilaku politik. Dan ideologi memberikan cara kepada mereka yang menginginkannya serta kepada yang yakin akan arti keberadaannya dan tujuan tindakannya. Karena itu keberhasilan suatu ideologi tertentu, sedikit  banyaknya merupakan masalah kepercayaan yang lahir keyakinan yang rasional. Ini  berlaku sama baik untuk ideologi yang bersifat demokratis atau otoriter.

Usia ideologi

Selama beberapa abad terakhir, organisasi dan tingkah laku politik telah diperumit oleh perkembangan partai politik dan lembaga-lembaga yang khusus membuat undang-undang, administrasi, dan peradilan. Pada waktu lampau, struktur sosial yang statis, perekonomian yang agraris, dan sebagian besar komunitas warga negara yang swasembada tidaklah banyak memerlukan pelayanan pemerintah pusat. Waktu pemerintahan masih sederhana karena masyarakat juga masih sederhana. Tapi kini bukanlah kebetulan kamu pemerintah yang besar ‘bisa ditemukan dalam masyarakat kota, dan di dalam perekonomian yang telah memproduk barang-barang industri dan menyediakan pelayanan konsumen. Dengan adanya perubahan sosial dan ekonomi ini, semakin banyak warga negara yang berpaling kepada pemerintah untuk pelayanan yang sebelumnya disediakan oleh keluarga, gereja, masjid dan komunitas pertanian.

Karena itu kemungkinan terjadinya konflik politik telah meningkat karena perkembangan ekonomi telah menciptakan nilai, sikap-sikap dan kepentingan-kepentingan baru, timbulnya ideologi yang aksplosif ini, terutama pada abad ke 19 dan 20, mencerminkan adanya perubahan yang mendasar dalam cara hidup, organisasi masyarakat dan pemerintah.

Dari ideologi kiri ke kanan

Kita sering menggambarkan suatu pemerintahan, ideologi, individu, atau kelompok tertentu sebagai kelompok kiri sedang yang lainnya sebagai kelompok tengah atau kanan. Dari manakah istilah ini berasal, dan apakah maksud yang terkandung di dalamnya? Yang jelas kita tak mungkin mengesampingkan upaya untuk menyusun konsepsi pengertian kita tentang persaingan politik.

Sesudahnya pecahnya revolusi Perancis pada 1789, dan ketika raja dengan parlemen memperebutkan supremasi, pada wakil yang duduk dalam majelis nasional Perancis mengelompokkan diri dalam badan tersebut sesuai dengan ke ekstriman pandangannya. Pada wakil yang sangat anti kerajaan duduk di ujung kiri sedangkan penduduk yang setia raja duduk di ujung kanan dan kelompok yang dengan pandangannya yang lebih moderat duduk di antara mereka.

Kesimpulan

  1. Secara etimologi kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahas Arab falsafat, kalau bahasa Yunani, philosophia. Kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta) dan Sophia = kebijakan). Sehingga arti harfiahnya adalah seorang pencinta kebijaksanaan. Falsafah adalah pamulangan hidup seseorang atau kelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat terdiri dari tiga cabang yaitu; ontologi, membicarakan hakikat (segala sesuatu), epistemology: cara memperoleh pengetahuan itu, aksiologi; membicarakan guna pengetahuan itu.
  2. Ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan, kata ideologi sendiri diciptakan oleh Destult de trace, pada akhir abad ke 18 untuk mendefinisikan sains tentang ide. Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara untuk memandang segala sesuatu. Filsafat & Ideologi | Manfaat Mempelajari Filsafat