Makna dan Ciri Interaksi Edukatif

Interaksi  edukatif sebenarnya  komunikasi timbal balik antara pihak yang satu dengan pihak yang lain, sudah mengandung maksud-maksud tertentu, yakni untuk mencapai pengertian bersamaan yang kemudian untuk mencapai tujuan (dalam kegiatan belajar berarti untuk mencapai tujuan belajar).

Interaksi yang dikatakan sebagai interaksi edukatif, apabila secara sadar mempunyai tujuan untuk mendidik, untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaannya.

Pendidikan dan pengajaran adalah salah satu usaha yang bersifat sadar tujuan yang dengan sistematis terarah pada perubahan tingkah laku menuju ke dewasaan anak didik. Pestalozzi mengatakan bahwa makna dan tujuan pendidikan itu adalah Hifle Zur Selbshilfe, artinya pertolongan untuk pertolongan diri.

Pengajaran merupakan proses yang berfungsi membimbing para pelajar/siswa di dalam kehidupan, yakni membimbing mengembangkan diri sesuai dengan tugas perkembangan yang harus dijalankan oleh para siswa itu. Tugas perkembangan itu akan mencakup kebutuhan hidup baik individu maupun sebagai masyarakat dan juga sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Guru dibutuhkan untuk membimbing, memberi bekal yang berguna. Ia sebagai guru harus dapat memberikan sesuatu secara dikdatis, dengan tugasnya menciptakan situasi interkasi edukatif. Guru tidak cukup hanya mengetahui bahan ilmu pengetahuan yang akan dijabarkan dan diajarkan pada siswa, tetapi juga harus mengetahui dasar filosofis dan diktatisnya, sehingga tetapi juga harus mengetahui dasar filosofi dan dikdatisnya, sehingga mampu memberikan motivasi di dalam proses interaksi dengan anak didik. Dalam hal ini sekaligus harus memahami metodologinya.

Kemudian secara rinci dalam proses edukatif paling tidak mengandung ciri-ciri antara lain :

  1. Ada tujuan yang ingin dicapai
  2. Ada bahan/pesan yang menjadi isi interaksi
  3. Ada pelajaran yang aktif mengalami
  4. Ada guru yang melaksanakan
  5. Ada metode untuk mencapai tujuan
  6. Ada situasi yang memungkinkan proses belajar-mengajar berjalan dengan baik
  7. Ada penilaian terhadap hasil interaksi.

Pendidikan dapat dirumuskan dari sudut normative, karena pendidikan menurut hakikatnya memang sebagai suatu peristiwa yang memiliki norma. Artinya bahwa dalam peristiwa pendidikan, pendidik (pengajar/guru) dan anak didik (siswa) berpegang pada ukuran, norma hidup, kesusilaan yang semuanya merupakan summer norma di dalam pendidikan.

Pendidikan dapat pula dirumuskan dari sudut proses teknis, yakni terutama dilihat dari segi peristiwanya. Peristiwa dalam hal ini merupakan suatu kegiatan praktis yang berlangsung dalam satu masa dan terikat dalam satu situasi serta terarah pada satu tujuan. Peristiwa tersebut adalah satu rangkaian kegiatan komunikasi antarmanusia, rangkaian kegiatan yang pengaruh mempengaruhi. Satu rangkaian perubahan dan pertumbuhan intelek dan pertumbuhan sosial. Pendidikan merupakan himpunan cultural yang sangat kompleks yang dapat digunakan sebagai perencanaan kehidupan manusia.

Proses belajar-mengajar akan senantiasa merupakan proses kegiatan interaksi antara dua unsur dua unsur manusiawi, yakni siswa sebagai pihak yang belajar dan guru sebagai pihak yang mengajar, dengan siswa sebagai subjek pokoknya. Dalam proses interaksi antara siswa dengan  guru, dibutuhkan komponen-komponen pendukung seperti antara lain telah disebut pada ciri-ciri interaksi edukatif.

Edi Suardi dalam bukunya Pedagogik (1980) merinci ciri-ciri interaksi belajar mengajar sebagai berikut :

  1. Interaksi belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membantu anak dalam suatu perkembangan tertentu.
  2. Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncana, didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
  3. Interaksi belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus
  4. Ditandai dengan adanya aktivitas siswa.

Sebagai konsekuensi, bahwa siswa merupakan sentral, maka aktivitas siswa merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya interaksi belajar mengajar.

  1. Dalam interaksi belajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing
  2. Di dalam interaksi belajar mengajar dibutuhkan disiplin
  3. Ada batas waktu

Dalam kegiatan pengajaran, apa yang dikatakan interaksi edukatif  itu akan berlangsung dengan kegiatan interaksi belajar mengajar.

Komponen-Komponen Pengajaran

Pengajaran adalah suatu sistem, artinya suatu keseluruhan yang terdiri dari komponen-komponen yang berinterelasi dan berinteraksi antara satu dengan yang lainnya dan dengan keseluruhan itu sendiri untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

Adapun komponen-komponen tersebut meliputi :

  1. Tujuan pendidikan dan pengajaran
  2. Peserta didik atau siswa
  3. Tenaga kependidikan khususnya guru,
  4. Perencanaan pengajaran sebagai suatu segmen kurikulum
  5. Strategi pembelajaran
  6. Evaluasi pengajaran.

Proses pengajaran ditandai oleh adanya interaksi antara komponen.

Pendidikan adalahsuatu proses dalam rangka mempengaruhi siswa agar dapat menyesuiakan diri sebaik mungkin terhadap lingkungannya dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkannya untuk berfungsi secara adekuat dalam kehidupan masyarakat.

Nilai-nilai tujuan dalam pengajaran diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Tujuan pendidikan mengarahkan dan membimbing kegiatan guru dan murid dalam proses pengajaran.
  2. Tujuan pendidikan memberian motivasi kepada guru dan siswa.
  3. Tujuan pendidikan memberikan pedoman atau petunjuk kepada guru dalam rangka memilih dan menentukan metode mengajar atau menyediakan lingkungan belajar bagi siswa.
  4. Tujuan pendidikan penting  maknanya dalam rangka memilih dan menentukan alat peraga pendidikan yang akan digunakan.
  5. Tujuan pendidikan penting dalam menentukan alat/teknik penilaian guru terhadap hasil belajar siswa.

Tujuan pendidikan dan pengajaran dapat kita bagi menjadi empat tingkatan/jenjang sesuai dengan ruang lingkup dan sasaran yang hendak dicapai oleh tujuan itu.

  1. Tujuan pendidikan nasional
  2. Tujuan lembaga pendidikan
  3. Tujuan kurikuler
  4. Tujuan mengajar dan belajar

Tujuan Pendidikan nasional

Tujuan pendidikan nasional adalah umum dari sistem pendidikan nasional. Tujuan ini merupakan jangka panjang dan sangat luas dan menjadi pedoman dari semua kegiatan/usaha pendidikan di negara kita. Tujuan ini kemudian dijadikan landasan dalam menentukan tujuan sekolah dan tujuan kurikulum sekolah, tujuan pendidikan formal dan nonformal. Dengan kata lain, tujuan pendidikan nasional menjadi pedoman dari seluruh kegiatan dan lembaga pendidikan di negara kita.

Dalam sistem pendidikan nasional (UU RI No. 2 tahun 1989) dikemukakan, bahwa pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan (depdikbud, 1989).

Tujuan Lembaga Pendidikan

Dalam mencapai tujuan pendidikan nasional yang umum sekolah dasar hendaknya mencapai tujuan atau target sebagai berikut:

1)    Supaya anak-anak tamatan sekolah dasar mengenal kewajiban dan haknya sebagai manusia Pancasila sesuai dengan maksud ketetapan MPRS. No. XXVII/66 dan perbuatan selarasa dengan pengetahuan dan pengertian itu

2)    Supaya anak-anak tamatan sekolah dasar memiliki salah satu keterampilan atau kecakapan khusus yang merupakan bekal hidupnya dalam masyarakat dan dengan demikian dapat berdiri sendiri dan menyumbangkan kecakapannya bagi pembinaan masyarakat adil dan makmur.

3)    Supaya anak-anak tamatan sekolah dasar, memiliki dasar ilmu pengetahuan yang kukuh dan keprigelan penggunaannya untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah.

Demikian setiap lembaga pendidikan memiliki tujuannya sendiri dan berbeda dengan tujuan lembaga pendidikan lainnya.

Tujuan Kurikulum

Kurikulum dari setiap pendidikan/sekolah di Indonesia harus mencerminkan jiwa mukadimah UUD 45. Demikian kurikulum harus menjadi pelaksana UUD 45 di bidang/dan melalui pendidikan.

Kurikulum harus memberikan kemungkinan perkembangan menjadi manusia seutuhnya yang bermental moral, budi pekerti luhur dan kuat keyakinan beragamanya, yang memiliki kecerdasan tinggi dan terampil dalam pembangunan dan memiliki fisik yang sehat dan kuat.

Tujuan Mata Pelajaran

Di dalam setiap kelompok terdapat sejumlah mata pelajaran. Dan setiap mata pelajaran memiliki tujuan-tujuannya sendiri yang berbeda satu sama lain. Tujuan-tujuan mata pelajaran ini merupakan penjabaran dari tujuan kurikulum dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

Guru yang efektif perlu memahami pertumbuhan dan perkembangan siswa secara komprehensif.

@ Konsep-konsep dasar tentang perkembangan siswa

Konsep-konsep dasar  yang berkenaan dengan perkembangan siswa ialah :

Pertumbuhan

Pertumbuhan ialah pertambahan secara kuantitatif dari substansi atau struktur yang umumnya ditandai  dengan perubahan-perubahan biologis pada diri seseorang yang menuju ke arah kematangan.

Kematangan

Kematangan adalah tingkat atau keadaan yang harus dicapai dalam proses perkembangan perorangan sebelum ia dapat melakukan sebagaimana mestinya pada bermacam-macam tingkat pertumbuhan mental, fisik, sosial dan emosional.

Kedewasaan (maturation) adalah kemajuan pertumbuhan yang normal ke arah kematangan. Proses maturasi disebabkan oleh faktor pertumbuhan dari dalam pada berbagai kapasitas dan struktur.

Kedewasaan

Perkembangan

Perkembangan menggambarkan perubahan kualitas dan abilitas dalam diri seseornag, yakni adanya perubahan dalam struktur, kapasistas, fungsi, dan efisiensi. Perkembangan itu bersifat keseluruhan, misalnya perkembangan intelektual, emosional, spiritual adalah hubungan satu sama lain.

Perkembangan yang normal

  • Perkembangan normal dilihat dari segi pola perkembangan individu siswa. Perkembangan ini berbeda untuk setiap individu
  • Perkembangan normal dilihat dari segi usia kronologis.

Murid adalah salah satu komponen dalam pengajaran, disamping faktor guru, tujuan dan metode pengajaran. Murid adalah yang terpenting diantara komponen lainnya. Pada dasarnya “ia” adalah unsur penentu dalam proses belajar mengajar. Tanpa adanya murid, sesungguhnya tidak akan terjadi proses pengajaran. Sebabnya ialah karena muridlah yang membutuhkan pengajaran dan bukan guru, guru hanya berusaha memenuhi kebutuhan yang ada pada murid.

Guru mengenal murid-muridnya dengan maksud agar guru dapat membantu pertumbuhan dan perkembangannya secara efektif. Adalah penting sekali mengenal dan memahami murid dengan saksama, agar guru dapat menentukan dengan saksama bahan-bahan  yang akan diberikan, menggunakan prosedur mengajar yang serasi, mengadakan diagnosis atas kesulitan.

Untuk mengenal murid, guru dapat menggunakan bermacam-macam alat.

Cumulative record

Sistem cumulative record berisikan banyak macam keterangan tentang murid.

Anecdotal record

Anecdotal record ialah catatan tertulis tentang satu atau lebih observasi-observasi guru  terhadap kelakuan dan reaksi-reaksi murid dalam berbagai situasi.

Percakapan-percakapan dan wawancara informal

Dalam percakapan-percakapan secara informal dengan murid, sebelum masuk sekolah, dalam waktu istirahat dan waktu-waktu lainnya, minat, reaksinya terhadap sekolah, pengalaman-pengalaman yang didapat diluar sekolah, motivasi, dan aspirasi mereka.

Observasi

Guru dapat menggunakan setiap kesempatan yang ada setiap hari untuk mengamati tingkah laku murid-muridnya.

Angket

Angket terdiri dari sejumlah pertanyaan tertulis yang disampaikan kepada murid-murid untuk mendapatkan jawaban yang tertulis.


Diskusi informal

Para siswa mengadakan diskusi secara informal, dan  guru mendengarkannya.

Tes

Tes tertulis, baik yang dibuat oleh guru maupun tes yang telah disusun oleh para ahli atau lembaga tertentu, guru dapat mengetahui tentang hasil pendidikan para siswa, tingkat inteligensi, sifat-sifat kepribadian, sikap dan abilitas tiap murid.

Projective techniques

Dengan teknik ini akan menyebabkan murid-murid mengekspresikan atau memproyeksikan minat, keinginan, sikap atau pendapatnya.

Sosiometri

Tes sosiometri digunakan untuk memperoleh gambaran tentang hubungan antara pribadi siswa atau hubungan sosial di antara murid-murid di dalam satu kelas.

Konferensi Antara Orang Tua dan Guru

Dalam kesempatan mengunjungi orang tua murid (home visit) san  mengadakan pertemuan (konferensi) dengan orang tua murid tersebut untuk melaporkan kemajuan belajar murid maka guru sebaiknya menggunakan kesempatan itu untuk mempelajari situasi keluarga.

Studi Kasus

Dengan studi kasus, guru dapat menghimpun banyak informasi tentang seorang murid dari berbagai sumber di dalam satu-kesatuan pola.

Profesi Guru

Jabatan Guru Memerlukan Keahlian Khusus

Jabatan guru dikenal sebagai suatu pekerjaan profesional, artinya jabatan ini memerlukan suatu keahlian khusus, seorang guru profesional dia menguasai betul tentang seluk-beluk pendidikan dab pengajaran serta ilmu-ilmu lainnya.

Syarat-Syarat Menjadi Guru

1)    harus memiliki bakat sebagai guru,

2)    harus memiliki keahlian sebagai guru,

3)    Memiliki kepribadian yang baik dan terintegrasi,

4)    Memiliki, mental yang sehat,

5)    Berbadan sehat,

6)    Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas,

7)    Guru adalah manusia berjiwa Pancasila, dan

8)    Guru adalah seorang warga negara  yang baik.

Guru adalah manusia Pancasilais sejati

Bagi guru mental dan pandangan hidup Pancasila bukan saja penting untuk dirinya sendiri, melainkan besar sekali maknanya dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

Guru harus memiliki keahlian sebagai guru

Setiap guru profesional harus menguasai pengetahuan yang mendalam dalam spesialisasinya.

Guru harus memiliki kepribadian yang baik dan terintegrasi

Karena tuntutan tugasnya maka setiap guru harus memiliki kepribadian yang baik dan terintegrasi.

Guru harus memiliki mental yang sehat

Seorang  guru tidak boleh memiliki mental yang terganggu, guru tidak boleh pemarah, pemalu, penakut, rendah diri, merasa cemas, mengisolasikan diri, agresif, pasif, pendiam, suka melamun, dan seterusnya.

Guru harus berbadan sehat

Badan sehat sangat membantu lancarnya pekerjaan guru.

Guru harus memiliki pemahaman dan pengetahuan yang luas

Pengalaman dan pengetahuan ini sangat diperlukan dalam pengajaran. Dia tidak cukup hanya menguasai pengethuan spesialisasinya saja, akan  tetapi pengalaman dan pengetahuan umum perlu juga dipahami.

Guru harus seorang warga negara yang baik

Sebagaimana warga negara lainnya maka guru harus mematuhi semua peraturan dan ketentuan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Guru harus turut serta menyukseskan semua program pemerintah dengan jalan turut serta melakukan kegiatan-kegiatan yang sejalan dengan program itu.

Tentang pendidikan guru

Lembaga ini bukan saja bertujuan mendidik agar para calon menjadi pribadi yang terdidik, tetapi juga  memberikan kemampuan agar mereka sanggup melaksanakan pendidikan kepada siswa didik, dalam hal mana yang menjadi garapan mereka kelak bukanlah benda mati melainkan manusia hidup yang bersifat unik.

Pendidikan guru berlangsung seumur hidup

Pada dasarnya pendidikan guru itu bukan hanya berlangsung 3 atau 5 tahun saja, melainkan berlangsung seumur hidup.

Pandangan modern seperti yang dikemukakan oleh Adams dan Dickey bahwa peran guru sesungguhnya sangat luas, meliputi :

a)    guru sebagai pengajar (teacher as instructor)

b)    guru sebagai pembimbing (teacher as counselor)

c)    guru sebagai ilmuwan (teacher as scientist)

d)    guru sebagai pribadi (teacher as person)

e)    guru sebagai penghubung (teacher as communicator)

f)     guru sebagai moderisator, dan

g)    guru sebagai pembangun (teacher as contructora)

Guru harus menuntu murid-murid belajar

Tanggung jawab guru yang terpenting ialah merencanakan dan menuntut murid-murid melakukan kegiatan-kegitan belajar guna mencapai  pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan.

Turut serta membina kurikulum sekolah

Guru merupakan seorang key person yang paling mengetahui tentang kebutuhan kurikulum yang sesuai dengan tingkat perkembangan murid, dia turut aktif dalam pembinaan kurikulum di sekolahnya.

Memberikan bimbingan kepada murid

Bimbingan kepada murid agar  mereka mampu mengenal dirinya sendiri, memecahkan masalahnya sendiri, mampu menghadapi kenyataan dan memiliki stamina emosional yang baik, sangat diperlukan.

Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar

Guru bertanggungjawab menyesuaikan semua situasi belajar dengan minat, latar belakang dan kematangan siswa.

Menyelenggarakan Penelitian

Sebagai seorang yang bergerak dalam bidang keilmuan bidang pendidikan maka ia harus senatiasa memperbaiki cara bekerjanya.

Mengenal masyarakat dan ikut serta aktif

Guru tak mungkin melaksanakan pekerjaan secara efektif, jikalau ia tidak mengenal masyarakat seutuhnya dan secara lengkap.

Menghayati, mengamalkan, dan mengamalkan Pancasila

Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa yang mendasari semua sendi-sendi hidup dan kelompok sosial yang terbesar termasuk sekolah.

Perencanaan pembelajaran :

Perencanaan tahunan

Perencanaan ini berfungsi sebagai rencana jangka panjang untuk sekolah. Disusun berdasarkan kurikulum course of studies yang memberikan bahan-bahan tentang pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan bagi murid pada setiap kelas/tingkat.

Rencana hari pertama ini memuat hal-hal antara lain; melaksanakan hal-hal yang bersifat rutin, prosedur dan bahan pengajaran, pengaturan tempat duduk murid, cara pendekatan guru terhadap murid, misalnya mengadakan diskusi, demonstrasi, menugaskan seorang murid untuk menceritakan pengalamannya (semasa liburan) di depan kelas, pendekatan informal, memberikan keterangan-keterangan pendahuluan tentang tujuan-tujuan pelajaran, skop pelajaran  dan bahan-bahan bacaan yang diwajibkan.

Perencanaan yang telah disusun sebelumnya hanyalah pada garis besarnya saja. Rencana itu harus bersifat fleksibel, artinya setiap saat apabila perlu dapat diubah, dilengkapi atau dikurangi. Perubahan ini dilakukan sambil berjalan, sehingga rencana itu betul-betul bersifat dinamis.

Penyusun rencana adalah menjadi tanggungjawab bersama dari semua guru, kepala sekolah, pemilik, dan pengawas.

Guru dapat mengikutsertakan murid dalam pembuatan perencanaan pembelajaran. Kepada mereka perlu diberikan kesempatan menyumbangkan bahan pikirannya dalam diskusi kelompok dalam menyusun rencana, agar itu milik mereka dan bertanggung jawab melaksanakannya.

Rencana mingguan adalah suatu rencana mengajar yang disusun untuk selama satu minggu, dimana di dalamnya berisikan rencana harian untuk setiap mata pelajaran.

Pada pokok rencana kerja harian itu terdiri dari dua kegiatan, ialah resitasi dan directed study. Kedua  kegiatan ini dihubungkan dengan  tujuan unit dan tujuan pelajaran.


Evaluasi Pengajaran

Evaluasi pengajaran merupakan suatu komponen dalam sistem pengajaran, sedangkan sistem pengajaran itu sendiri merupakan implementasi kurikulum, sebagai upaya untuk menciptakan belajar di kelas. Fungsi utama evaluasi dalam kelas  adalah untuk menentukan hasil-hasil urutan pengajaran.

Evaluasi menurut Kourilski (tindakan tentang penetapan derajat peguasaan atribut tertentu oleh individu atau kelompok). Proses evaluasi umumnya berpusat pada siswa. Ini berarti evaluasi dimaksudkan untuk mengamati hasil belajar siswa dan berupaya menentukan bagaimana menciptakan kesempatan belajar. Evaluasi juga dimaksudkan untuk mengamati peranan guru, strategi pengajaran khusus, materi kurikulum, dan prinsip-prinsip belajar untuk diterapkan pada pengajaran.

Tujuan evaluasi untuk memperbaiki pengajaran dan penguasaan tujuan tertentu dalam kelas. Menurut Percival, Evaluasi adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengukur keefektifan sistem mengajar/belajar sebagai suatu keseluruhan.

Assessment adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengukur prestasi belajar (achievement) siswa sebagai hasil dari suatu program instruksional.

Fungsi evaluasi

  1. Fungsi edukatif adalah suatu subsistem dalam sistem pendidikan yang bertujuan untuk memperoleh informasi tentang keseluruhan sistem dan atau salah satu subsistem pendidikan.
  2. Fungsi instutisional; evaluasi berfungsi mengumpulkan informasi akurat tentang input dan output pembelajaran di samping proses pembelajaran itu sendiri.
  3. Fungsi diagnostic; dengan evaluasi dapat diketahui kesulitan masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh siswa dalam belajarnya
  4. Fungsi administratif; evaluasi menyediakan data tentang kemajuan belajar siswa, yang pada gilirannya berguna untuk memberikan sertifikasi.
  5. Fungsi manajemen :  komponen evaluasi merupakan bagian integral dalam sistem manajemen, hasil evaluasi berdaya guna sebagai bahan bagi pemimpin untuk membuat keputusan manajemen pada semua jenjang manajemen.

Paradigma Evaluasi

Ada dua pola pendekatan evaluasi yang saling bertentangan. Pendekatan pertama disebut agricultural/botanical approach yang merupakan refleksi pendekatan ilmiah (scientic) terhadap evaluasi, sedangkan yang lainnya adalah social/anthropological approach yang lebih berkenaan dengan proses-proses tersembunyi yang terjadi sepanjang pengalaman pendidikan.

Teknik-teknik evaluasi

Penentuan teknik evaluasi bergantung pada jenis informasi yang diharapkan, apakah mengenai hasil perubahan tingkah laku (KAP) atau tentang operasi pelaksanaan sistem instruksional.

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan dari makalah ini yaitu sebagai berikut :

  1. Istilah interaksi berpangkal pada konsep komunikasi yang berarti menjadikan milik bersama atau memberitahukan tentang pengetahuan. Pikiran-pikiran, keterampilan, dan nilai
  2. Interaksi edukatif adalah proses interaksi yang disengaja, sadar, tujuan, yakni untuk mengantarkan anak didik ke tingkat kedewasaan
  3. Interaksi edukatif memiliki ciri-ciri, sadar tujuan, ada bahan/pesan, ada subjek didik/pelajar, ada guru, ada metode, ada situasi yang kondusif ada penilaian.
  4. Ciri-ciri interaksi belajar mengajar yakni memiliki tujuan ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncana, ditandai suatu penggarapan materi secara khusus; ditandai dengan aktivitas, ada guru yang berperan sebagai pembimbing, membutuhkan disiplin dan ada batas waktu untuk pencapaian tujuan serta sudah barang tentu perlu adanya kegiatan penilaian.

DAFTAR PUSTAKA

Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Bandung; Bumi Aksara

Purwanto, Ngalim, 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya

S. Dedi. 1982. Psikologi Umum. Bandung: Armico.

Sardiman, M.A. 1994. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: PT. Jaya Grafindo