Proposal Skripsi Geografi : Peningkatan Hasil Belajar Geografi Melalui Pembelajaran Think-Pair-Share

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Di era reformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, perbaikan kegiatan belajar dan mengajar harus diupayakan secara maksimal agar mutu pendidikan meningkat, hal ini dilakukan karena majunya pendidikan membawa implikasi meluas terhadap pemikiran manusia dalam berbagai bidang sehingga setiap generasi muda harus belajar banyak untuk menjadi manusia terdidik sesuai dengan tuntunan zaman. Menurut Mudyahardjo (2002), arti pendidikan ada dua yaitu definisi pendidikan secara luas yaitu segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Pendidikan adalah segala situasi yang mempengaruhi pertumbuhan individu. Pendidikan berlangsung seumur hidup dalam setiap selama ada pengaruh lingkungan baik yang khusus diciptakan untuk pendidikan maupun yang ada dengan sendirinya. Tujuan pendidikan terkandung dalam setiap pengalaman belajar, tidak ditentukan dari luar yaitu pertumbuhan, sama dengan tujuan hidup. Definisi pendidikan secara sempit adalah sekolah dimana pengajaran yang diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Pendidikan adalah segala pengaruh yang diupayakan sekolah terhadap anak dan remaja yang diserahkan kepadanya agar mempunyai kemampuan yang sempurna dan kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan dan tugas-tugas sosial mereka.

Berhasilnya suatu tujuan pendidikan tergantung pada bagaimana proses belajar mengajar yang dialami oleh siswa. Seorang guru dituntut untuk teliti dalam memilih dan menerapkan metode mengajar yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Menciptakan kegiatan belajar mengajar yang mampu menciptakan hasil belajar yang efektif merupakan tugas dan kewajiban guru. Menurut Slameto (2003),

Masalah yang timbul dalam proses belajar mengajar disebabkan kurang hubungan komunikasi antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa yang lainnya sehingga proses interaksi menjadi vakum. Bila siswa mendengarkan informasi dari guru, keterlibatan dalam proses belajar mengajar boleh dikatakan tidak ada, kalaupun siswa terlibat maka keterlibatan kurang sekali. Misalnya, siswa terlibat hanya sebatas menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Hal tersebut terjadi siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar yang proses belajar mengajarnya berlangsung secara monoton tanpa adanya hubungan yang komunikatif antara siswa dengan guru serta siswa dengan siswa yang lain bahkan menimbulkan rasa bosan pada siswa saat mengikuti proses belajar mengajar, hal tersebut disebabkan oleh guru karena melaksanakan PBM dengan menggunakan metode mengajar yang sering di pakai seperti metode ceramah, dan menyuruh siswa untuk menyalin (tidak diketahui metode apa tersebut), selain itu siswa jarang melakukan proses belajar mengajar dengan metode yang lain yang menyebabkan hasil belajar siswa rendah, ini terlihat pada saat peneliti melakukan observasi awal di lokasi penelitian.

Untuk lebih meningkatkan keberhasilan belajar siswa diantaranya dapat dilakukan melalui upaya memperbaiki proses pengajaran sehingga dalam perbaikan proses pengajaran ini peranan guru sangat penting, selaku pengelola kegiatan siswa, guru juga diharapkan membimbing dan membantu siswa.

Pembelajaran kooperatif adalah suatu jenis khusus dari aktivitas kelompok yang berusaha untuk memajukan pembelajaran dan keterampilan sosial dengan kerjasama, tiga konsep ke dalam pengajaran, yaitu penghargaan kelompok, pertanggungjawaban pribadi dan peluang yang sama untuk berhasil. Pada pembelajaran kooperatif ditekankan bahwa untuk dapat menguasai struktur kognitif yang mendasari mata pelajaran tertentu, maka siswa harus bekerja.

Salah satu pembelajaran kooperatif adalah kooperatif tipe Think-Pair-Share yang merupakan suatu strategi mengajar yang diterapkan oleh guru agar pengajaran dapat berlangsung lebih efektif dan efisien yang di dalamnya terdapat  langkah-langkah yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran  yang tersusun secara rapi dan logis sehingga tujuan pembelajaran yang diterapkan dapat tercapai. Pembelajaran kooperatif ini merupakan salah satu pembelajaran dimana guru membagi siswa ke dalam kelompok kecil yang heterogen.

Melalui pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share, diharapkan siswa dapat berperan aktif dan menghilangkan kejenuhan pada saat mengikuti pengajaran serta berpikir secara mendalam tentang apa yang telah dijelaskan atau dialami, sehingga siswa diharapkan tertarik untuk mengulang pengajaran di rumah untuk mempersiapkan diri mengikuti pelajaran di kelas pada pertemuan berikutnya. Dengan demikian tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat terwujud.

Rumusan Masalah

Adapun masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini dirumuskan, yaitu Apakah ada peningkatan hasil belajar geografi melalui pembelajaran kooperatif tipe think pair share pada siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar geografi melalui pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share pada siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar?

Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai landasan bagi guru mata pelajaran geografi di sekolah lokasi penelitian dalam mengambil langkah-langkah perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran dengan penerapan metode Think-Pair-Share.

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka yang diuraikan dalam penelitian ini pada dasarnya dijadikan acuan untuk mendukung dan memperjelas penelitian ini. Sehubungan dengan masalah yang diteliti, kerangka teori yang dianggap relevan dengan penelitian ini diuraikan sebagai berikut.

Tinjauan Tentang Belajar dan Mengajar

Menurut Ali (2004), proses belajar mengajar yang merupakan formal di sekolah di dalamnya terjadi interaksi antara berbagai komponen pengajaran. Komponen-komponen itu dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama, yaitu : (1) guru, (2) isi atau materi pelajaran dan (3) siswa. Interaksi antara ketiga komponen utama melibatkan sarana dan prasarana seperti metode, media, dan penataan lingkungan tempat belajar, sehingga tercipta situasi belajar-mengajar yang memungkinkan tercapainya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Dengan demikian, guru yang memegang peranan sentral dalam proses belajar mengajar, setidak-tidaknya menjalankan tiga macam tugas utama, yaitu merencanakan, melaksanakan pengajaran dan memberikan balikan.

Bila terjadi proses belajar, maka bersama itu pula terjadi proses mengajar. Hal ini kiranya mudah dipahami, karena bila ada yang belajar sudah barang tentu ada yang mengajarnya, dan begitu pula sebaliknya kalau ada yang mengajar tentu ada yang belajar. Kalau sudah terjadi suatu proses/saling interaksi, antara yang mengajar dengan yang belajar, sebenarnya berada pada suatu kondisi yang unik, sebab secara sengaja atau tidak sengaja, masing-masing pihak berada dalam suasana belajar. Jadi guru walaupun dikatakan sebagai pengajar, sebenarnya secara tidak langsung juga melakukan belajar.

Belajar

Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya         (Slameto, 2003).

Teori belajar sangat beraneka ragam. Setiap teori mempunyai landasan sebagai dasar perumusan. Bila ditinjau dari landasan itu, teori belajar dapat dikelompokkan ke dalam dua macam, yaitu teori asosiasi dan gestlat. Kedua macam teori inilah yang banyak berkembang melalui berbagai penelitian maupun eksperimen para ahli, sehingga muncul berbagai macam teori yang beraneka ragam (Ali, 2004).

Ada beberapa teori yang berpendapat bahwa proses belajar pada prinsipnya bertumpu pada struktur kognitif, yakni penataan fakta, konsep serta prinsip-prinsip, sehingga membentuk satu kesatuan yang memiliki makna bagi subjek didik. Teori semacam ini boleh diterima dengan suatu alasan bahwa dari struktur kognitif itu dapat mempengaruhi perkembangan afeksi ataupun penampilan seseorang   (Sardiman, 2005).

Dalam praktek pengajaran, penggunaan suatu dasar teori untuk segala situasi merupakan tindakan kurang bijaksana. Tidak ada suatu teori belajar pun yang cocok untuk segala situasi. Karena masing-masing mempunyai landasan yang berbeda dan cocok untuk situasi tertentu. Robert M Gagne yang dikutip ke dalam buku Ali mencoba melihat berbagai macam teori belajar dalam satu kebulatan yang saling melengkapi dan tidak bertentangan. Menurut Gagne belajar mempunyai delapan tipe. Ke delapan tipe itu bertingkat-ada hiararchi dalam masing-masing. Setiap tipe belajar merupakan prasyarat bagi tipe belajar di atasnya. Adapun tipe yang dimaksud, yaitu belajar isyarat, belajar stimulus, belajar rangkaian, Asosiasi verbal, belajar diskriminasi, belajar konsep, belajar aturan dan belajar pemecahan masalah.

Belajar terjadi bila seseorang menghadapi suatu yang di dalamnya ia tak dapat menyesuaikan diri dengan menggunakan bentuk-bentuk kebiasaan untuk menghadapi tantangan-tantangan, atau apabila ia harus mengatasi rintangan-rintangan dalam aktivitasnya (Sahabuddin, 2003).

Belajar merupakan proses kegiatan untuk mengubah tingkah laku si subjek belajar. Ternyata banyak faktor yang mempengaruhinya. Dari sekian banyak faktor yang berpengaruh itu, secara garis besar dapat dibagi dalam klasifikasi faktor intern  diri si subjek belajar dan faktor ekstern si subjek belajar.

Hasil belajar ditandai dengan adanya perubahan perilaku yang terjadi pada diri seseorang yang melakukannya. Dimana interaksi individu dalam lingkungan yang membawa perubahan sifat, tindakan, perbuatan, dan tingkah laku.

Belajar pada dasarnya proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman dan sebagai hasil dari interaksi dalam lingkungannya. Unsur lingkungan yang disebutkan  pada hakikatnya berfungsi sebagai lingkungan belajar seseorang, yakni lingkungan tempat ia tinggal dan berinteraksi sehingga menumbuhkan kegiatan belajar pada dirinya.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang dilakukan secara sadar oleh individu untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya yang bersifat relatif permanen.

Mengajar

Masalah mengajar telah menjadi persoalan para ahli pendidikan sejak dahulu sampai sekarang. Pengertian mengajar mengalami perkembangan, bahkan hingga dewasa ini belum ada definisi yang tepat bagi semua pihak mengenai mengajar itu. Pendapat yang dilontarkan oleh para pendidik ialah untuk mendapatkan jawaban tentang apakah mengajar itu?. Kegagalan mengajar dapat terjadi bila tidak diperhatikan gaya belajar siswa (Nasution, 2005).

Menurut Sahabuddin (2003) dikutip dari William C. Morse dan G. Max Wingo (1962), tiga macam definisi mengajar, yaitu definisi mengajar secara tradisional adalah proses memberikan kepada pelajar pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menguasai mata-mata pelajaran yang telah ditentukan, definisi mengajar secara tradisional adalah menunjukkan bagaimana mengerjakan; menjadikan mengerti; memberi instruksi kepada dan definisi mengajar secara mutakhir yaitu sistem kegiatan untuk membimbing anak sebagai individu dan sebagai kelompok dengan maksud terpenuhinya kelengkapan pengalaman belajar yang memungkinkan setiap anak dapat berkembang terus secara teratur mencapai kedewasaannya.

Menurut Sudjana (1989), mengajar pada hakekatnya adalah proses yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar siswa, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar.

Mengajar pada hakekatnya bermaksud mengantarkan siswa mencapai tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Dalam praktek, perilaku mengajar yang dipertunjukkan guru sangat beraneka ragam, meskipun maksudnya sama. Aneka ragam perilaku guru mengajar ini bila ditelusuri akan diperoleh gambaran dan siswa (Ali, 2004).

Gaya mengajar yang dimiliki oleh seorang guru mencerminkan pada cara melaksanakan pengajaran, sesuai dengan pandangannya sendiri. Di samping itu landasan psikologis, terutama teori belajar yang dipegang serta kurikulum yang dilaksanakan juga turut mewarnai gaya mengajar guru yang bersangkutan.

Pengajaran adalah suatu usaha manusia yang bersifat kompleks, oleh sebab banyaknya nilai-nilai dan faktor-faktor manusia yang turut terlibat di dalamnya. Dikatakan sangat penting, sebab pengajaran adalah usaha membentuk manusia yang baik. Kegagalan pengajaran dapat merusak satu generasi masyarakat (Oemar, 2001).

Mengajar pada hakekatnya adalah proses penyampaian pengetahuan/ pengalaman pada peserta didik sedemikian rupa sehingga mereka dapat mencapai tujuan-tujuan belajarnya, pengajar mencoba menolong, membimbing, dan memotivasi peserta didik untuk mendapatkan pengetahuan, keterampilan sesuai dengan tujuan belajarnya. Mengajar bukan hanya berupa pemberian materi kepada peserta didik, melainkan juga merupakan proses yang mengacu pada hasil belajar yang ingin dicapai oleh peserta didik.

Di dalam proses penyampaian pengetahuan kepada peserta didik pengajar menggunakan metode. Menurut Nana (2005) ketepatan penggunaan metode mengajar tersebut sangat bergantung pada tujuan, isi proses belajar mengajar dan kegiatan belajar mengajar. Ditinjau dari segi penerapannya, metode-metode mengajar ada yang tepat digunakan untuk siswa dalam jumlah besar dan ada yang tepat untuk siswa dalam jumlah kecil. Ada juga yang tepat gunakan di dalam kelas atau di luar kelas. Metode-metode mengajar yang sering digunakan sampai saat ini adalah metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode tugas belajar dan resitasi, metode kerja kelompok, metode demonstrasi dan eksperimen, metode sosiodrama, metode problem solving, metode sistem regu, metode karyawisata, metode resource person, dan metode simulasi.

Jika seorang guru merasa bertanggung jawab atas penyempurnaan pengajarannya, maka ia harus mengevaluasi pengajarannya itu agar ia mengetahui perubahan apa yang seharusnya diadakan. Siswa juga harus dievaluasi. Suatu kebiasaan aneh dalam metodologi pengajaran yaitu bahwa dua tugas yang sangat penting ini pada umumnya dipandang secara terpisah (Popham, 2005).

Tinjauan Umum Tentang Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran merupakan aktualisasi kurikulum  yang menuntut aktivitas, kreativitas, dan kearifan guru dalam menciptakan dan menumbuhkan kegiatan peserta didik sesuai dengan rencana yang telah diprogramkan secara efektif dan menyenangkan. Pada buku Mulyasa (2006), Saylor mengatakan bahwa ” Instruction is thus the implementation of curriculum plan, usually, but not necessarily, involving teaching in the sense of student, teacher interaction in an educational setting”. Dalam hal ini, guru harus dapat mengambil keputusan atas dasar penilaian ketika peserta didik belum dapat membentuk kompetensi dasar.

Menurut Mulyasa (2006) bahwa proses dan hasil belajar peserta didik bergantung pada  kompetensi guru dan keterampilan mengajarnya. Oleh karena itu, guru harus mampu mengaktualisasikan dalam pembelajaran. Dalam hal ini, guru harus mampu menciptakan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM). Pembelajaran aktif merupakan  pendekatan pembelajaran yang lebih banyak melibatkan aktifitas peserta didik dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan. Pembelajaran kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru untuk dapat memotivasi dan memunculkan kreativitas peserta didik selama pembelajaran. Pembelajaran merupakan suatu proses pembelajaran yang didalamnya terdapat sebuah kohesi yang kuat antara pendidik dan peserta didik.

Menurut Nur, dkk (2000), semua model mengajar ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan (reward). Struktur tugas mengacu kepada dua hal, yaitu pada cara pembelajaran itu diorganisasikan dari jenis kegiatan yang dilakukan oleh siswa di dalam kelas. Hal ini berlaku pada pengajaran klasikal maupun pengajaran dengan kelompok kecil, siswa diharap melakukan apa selama pengajaran itu.

Dalam penerapan pembelajaran kooperatif dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama., mereka akan berbagi penghargaan tersebut seandainya mereka berhasil sebagai kelompok.

Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan salah satu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pendekatan konstruktivistik. Model pembelajaran mengacu pada metode pembelajaran dimana peserta didik bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar (Nurhayati dan Wellang, 2004).

Menurut Nurhayati dan Wellang (2004), dalam pembelajaran kooperatif guru mempunyai peranan diantaranya (1) Mengorganisasikan materi pelajaran; (2) Menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan peserta didik; (3) Mengorganisasikan peserta didik; (4) menjelaskan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik; (5) Membentuk kelompok siswa yang heterogen; (6) Memberi petunjuk secara tertulis kepada peserta didik. Selain itu peserta didik juga mempunyai peranan diantaranya adalah sebagai berikut : (1) Para peserta didik bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya, (2) Para peserta didik diharapkan menjadi aktif, bertanggung jawab, bekerjasama, dan penuh kepedulian; (3) Para peserta didik berlatih menilai kemajuan belajarnya dan merenungkan dirinya melalui tujuan kelompok ; (4) Para peserta didik dapat memberi umpan-balik terhadap sesamanya dan dapat terampil menilai dirinya sendiri.

Ciri khas pembelajaran kooperatif adalah peserta didik ditempatkan pada kelompok- kelompok kerja dan tinggal bersama sebagai satu kelompok atau beberapa minggu atau beberapa bulan. Mereka dilatih keterampilan-keterampilan spesifik untuk membantu mereka bekerja sama dengan baik. Misalnya menjadi pendengar yang baik dan sebagainya.

Pembelajaran kooperatif dapat dibedakan menjadi beberapa model diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Student Teams Achievement Division (STAD).
  2. Jiksaw
  3. Think-Pair-Share
  4. Numbered heads together

Tinjauan Tentang Metode Pembelajaran Think-Pair-Share

Strategi berpikir secara berpasangan berkembang dari penelitian belajar kooperatif. Pertama kali dikembangkan oleh Frank Lyman dan di Universitas Maryland pada tahun 1985 yang dikutip dalam buku Nur, dkk (2000), menyatakan bahwa strategi ini menentang asumsi bahwa berpikir kolegannya secara berpasangan merupakan suatu cara yang efektif untuk mengubah pola diskursus dalam kelas. Strategi menentang asumsi bahwa semua resitasi dalam diskusi perlu dilakukan dalam setting seluruh kelompok. Berpikir secara berpasangan memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa lebih banyak berpikir, menjawab dan saling membantu  satu sama lain.

Andaikan guru baru saja melakukan penyajian singkat, atau siswa telah membaca suatu tugas, atau suatu situasi penuh teka-teki telah ditemukan. Kemudian guru menginginkan siswa memikirkan secara mendalam tentang apa yang telah dijelaskan atau dialami. Frank Lyman memilih menggunakan strategi berpikir secara berpasangan sebagai gantinya tanya jawab seluruh siswa. Menurut Nur, dkk (2000), bahwa langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share secara sederhana digambarkan sebagai berikut :

Tahap 1:    Think (berpikir). Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan konsep pelajaran, kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat. Berpikir dapat ditandai dengan siswa mampu bertanya tulisan, bertanya lisan, menjawab pertanyaan, dan berpendapat.

Tahap 2:    Pairing (berpasangan). Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat dibagi jawaban jika telah diajukan suatu pertanyaan atau berbagi ide jika suatu persoalan khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru memberi waktu 45 menit untuk berpasangan.

Tahap 3:    Share (berbagi). Pada tahap akhir, guru meminta kepada pasangan berbagi untuk seluruh kelompok tentang apa yang telah mereka bicarakan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai akhir seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.

Tinjauan Tentang Hasil Belajar

Hasil belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti serangkaian kegiatan instruksional tertentu. Hasil belajar yang dicapai oleh siswa erat kaitannya dengan rumusan instruksional yang direncanakan oleh guru sebelumnya. Hasil dan bukti belajar ialah adanya perubahan tingkah laku orang yang belajar yang terjadi karena proses kematangan dan hasil belajar bersifat relatif menetap, misalnya dati tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Menurut Mudjiono (2000), bahwa hasil dan bukti belajar adalah adanya perubahan tingkah laku orang yang belajar.

Menurut Howard Kingsley (Sudjana, 1989), ada tiga macam hasil belajar yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita, yang masing-masing dapat golongan, dapat diisi dengan bahan yang diterapkan dalam kurikulum sekolah. Benyamin Bloom  berpendapat bahwa tujuan pendidikan yang hendak kita capai terdiri dari tiga bidang, yaitu bidang kognitif, bidang afektif, dan bidang psikomotorik.

Setiap kegiatan yang berlangsung pada akhirnya kita ingin mengetahui hasilnya, demikian pula dengan pembelajaran. Untuk mengetahui hasil kegiatan pembelajaran, harus dilakukan pengukuran dan penilaian. Pengukuran adalah suatu usaha untuk mengetahui sesuatu seperti apa adanya, sedangkan penilaian adalah usaha yang bertujuan untuk mengetahui keberhasilan belajar dalam penguasaan kompetensi (Haling, 2002). Dengan demikian pengukuran hasil belajar adalah suatu usaha untuk mengetahui kondisi status kompetensi dengan menggunakan alat ukur sesuai dengan apa yang diukur, sedangkan penilaian adalah usaha untuk membandingkan hasil pengukuran dengan patokan yang ditetapkan.

Pencapaian hasil belajar dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga tidaklah mengherankan apabila hasil belajar dari sekelompok siswa bervariasi. Setiap siswa dalam sistem pengajaran memiliki karakteristik tertentu yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya, misalnya minat, motivasi, serta kemampuan kognitif yang dimilikinya. Faktor-faktor lain yang sengaja dirancang dan dimanipulasi misalnya bahan pelajaran. Guru memberikan pelajaran merupakan suatu faktor yang sangat berpengaruh dalam pencapaian hasil belajar siswa.

Beberapa pengertian yang dikemukakan di atas, kelas terlihat perbedaan kata-kata tertentu sebagai penekanan, namun intinya sama yakni hasil yang telah dicapai dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan dan menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan, baik secara individu maupun secara kelompok dalam kegiatan tertentu.

Kerangka Berpikir

Proses belajar mengajar (PBM) dipandang berkualitas jika berlangsung efektif, bermakna dan ditunjang oleh sumber daya yang wajar. Proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil jika siswa menunjukkan tingkat penguasaan yang tinggi terhadap tugas-tugas belajar yang harus dikuasai dengan sasaran dan tujuan pembelajaran. Oleh karena itu guru sebagai pendidik bertanggung jawab merencanakan dan mengelola kegiatan-kegiatan belajar mengajar sesuai dengan tuntutan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada setiap mata pelajaran.

Di dalam proses belajar mengajar, guru harus memiliki strategi agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisiensi, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu strategi yang harus dimiliki oleh guru adalah harus menguasai teknik-teknik penyajian atau biasa disebut metode mengajar.

Teknik penyajian pelajaran adalah suatu pengetahuan tentang cara mengajar yang dipergunakan oleh guru untuk menyajikan pelajaran kepada siswa di dalam kelas yang diharapkan dapat memotivasi siswa dalam menguasai pengetahuan, keterampilan, menjawab pertanyaan, memecahkan masalah dan bersikap.

Berbagai macam-macam teknik mengajar, ada yang menekankan peranan guru yang utama dalam pelaksanaan penyajian, ada pula yang menekankan pada media hasil teknologi, ada pula teknik penyajian yang hanya digunakan untuk sejumlah siswa yang terbatas dan yang tidak terbatas, teknik penyajian di dalam dan di luar kelas, dan lain sebagainya. Setiap teknik tersebut memiliki ciri khas dan tujuan tersendiri, sehingga dalam memilih teknik pengajaran harus tetap bertolak pada tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran serta kesesuaian materi dengan metode yang diterapkan.

Dengan metode pembelajaran Think-Pair-Share, diharapkan siswa dapat lebih berminat dalam belajar mata pelajaran geografi dan dapat memberikan solusi dalam memahami materi, serta memberikan keaktifan, perhatian, belajar memecahkan masalah yang dapat berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa dalam rangka perbaikan proses belajar mengajar. Dengan demikian diharapkan agar siswa dapat meningkatkan prestasinya.

Hipotesis

Hipotesis yang akan dibuktikan dalam penelitian ini adalah Jika pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share diterapkan maka ada peningkatan hasil belajar pada siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) dengan tahapan-tahapan pelaksanaan, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi serta refleksi.

Variabel Penelitian

Pada penelitan ini ada dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas yaitu pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share sedangkan variabel terikat yaitu hasil belajar siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar.

Definisi Operasional Variabel

Untuk menghindari terjadinya salah penafsiran mengenai variabel dalam penelitian ini, maka peneliti memperjelas definisi operasional variabel dan perlakuan yang dimaksud.

  1. 1. Pembelajaran kooperatif Tipe Think-Pair-Share adalah merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif dimana siswa sebagai peserta didik yang berpikir, berbagi dan dibagi kelompok yang terdiri dari dua orang.
  2. 2. Hasil belajar

Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat penguasaan siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar terhadap mata pelajaran geografi yang meliputi aspek ingatan, pemahaman dan penerapannya.

Prosedur Penelitian

Siklus I

Tahap Perencanaan Tindakan

  1. Peneliti bersama guru bidang studi mendiskusikan masalah-masalah berdasarkan hasil observasi yang dijumpai pada proses belajar mengajar.
  2. Menentukan pokok bahasan yang akan diajarkan.
  3. Menyusun RPP.
  4. Mempersiapkan lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa selama berlangsungnya proses belajar mengajar.
  5. Membuat tes siklus I sebagai alat evaluasi untuk melihat apakah kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal berdasarkan materi yang diajarkan pada siklus I.

Tahap Pelaksanaan Tindakan

  1. Mempersiapkan semua perangkat pembelajaran yang akan digunakan dalam kelas.
  2. Menyampaikan materi secara singkat dengan metode ceramah.
  3. Memberikan pertanyaan kepada siswa untuk dipikirkan (berpikir dapat ditandai dengan siswa mampu bertanya, menjawab dan berpendapat).
  4. Membagi siswa ke dalam kelompok dan tiap satu kelompok terdiri dari 2 orang untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan sebelumnnya dari pertanyaan guru selama 10 menit.
  5. Setelah selesai diskusi, guru meminta kepada pasangan berbagi untuk seluruh kelompok tentang apa yang telah dipikirkan sebelumnya dengan cara setiap kelompok bergiliran untuk mempersentasekan.
  6. Membuat kesimpulan dari semua pertanyaan yang sudah didiskusikan.

Tahap Observasi dan Evaluasi

Pada tahap ini ada dua perlakuan yaitu obesrvasi dan evaluasi. Pelaksanaan tahap observasi terhadap aktivitas siswa selama berlangsung proses belajar mengajar yang  menggunakan lembar observasi dengan tujuan untuk melihat adanya peningkatan aktivitas belajar siswa dengan cara mengamati dan mencatat aktivitas siswa selama pelaksanaan proses belajar mengajar.  Pelaksanaan evaluasi memberikan tes hasil belajar yang dilakukan pada akhir tindakan siklus I dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa.

Analisis dan Refleksi

Hasil yang dicapai dalam tahap observasi dan evaluasi dikumpul kemudian dilakukan analisis dan refleksi. Refleksi dimaksudkan untuk melihat apakah rencana telah terlaksana secara optimal atau perlu dilakukan perbaikan. Aspek-aspek yang dianggap bagus tetap dipertahankan, sedangkan kekurangannya menjadi pertimbangan dan revisi pada siklus berikutnya yang masih merupakan masalah dalam siklus I seperti:

  1. Masih ada siswa yang sulit berinteraksi dan kurang aktif dalam pembelajaran sehingga akan diupayakan memberi perhatian khusus dalam kegiatan belajar mengajar.
  2. Hasil belajar siswa masih tergolong rendah , sehingga pada siklus II akan diupayakan agar perhatian siswa lebih fokus dalam kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan.

Siklus II

Pelaksanaan tindakan siklus II ini relative sama dengan pelaksanaan tindakan siklus I. Namun dalam pelaksanaan ini dilakukan perbaikan-perbaikan dari siklus I sehingga aktivitas siswa dalam belajar lebih meningkat. Adapun langkah-langkah pelaksanaan tindakan siklus II, yaitu:

Tahap Perencanaan Tindakan

  1. Mempersiapkan perangkat pembelajaran .
  2. Mempersiapkan lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa selama berlangsungnya proses belajar mengajar.
  3. Membuat tes siklus II sebagai alat evaluasi untuk melihat apakah kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal berdasarkan materi yang diajarkan pada siklus I.

Tahap Pelaksanaan Tindakan

  1. Mempersiapkan semua perangkat pembelajaran yang akan digunakan dalam kelas.
  2. Menyampaikan materi secara singkat dengan metode ceramah.
  3. Memberikan pertanyaan kepada siswa untuk dipikirkan (berpikir dapat ditandai dengan siswa mampu bertanya, menjawab dan berpendapat).
  4. Membagi siswa ke dalam kelompok dan tiap satu kelompok terdiri dari 2 orang untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan sebelumnnya dari pertanyaan guru selama 10 menit.
  5. Setelah selesai diskusi, guru meminta kepada pasangan berbagi untuk seluruh kelompok tentang apa yang telah dipikirkan sebelumnya dengan cara setiap kelompok bergiliran untuk mempersentasekan.

6. Membuat kesimpulan dari semua pertanyaan yang sudah didiskusikan.

Tahap Observasi dan Evaluasi

Melakukan observasi aktivitas siswa selama berlangsung proses belajar mengajar dengan menggunakan lembar observasi untuk melihat adanya peningkatan aktivitas belajar siswa.  Melakukan evaluasi dengan menggunakan tes berupa pilihan ganda pada akhir tindakan siklus II dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa.

Analisis dan Refleksi

Hasil yang dicapai dalam tahap observasi dan evaluasi akan dianalisis dan merupakan hasil akhir pelaksanaan tindakan siklus II yang telah dilakukan. Kemudian melakukan refleksi dengan maksud untuk melihat apakah rencana telah terlaksana secara optimal atau perlu dilakukan perbaikan. Apabila dalam tindakan siklus II masih ada kekurangan maka akan dilaksanakan siklus berikutnya untuk melakukan perbaikan.

Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar dengan jumlah siswa sebanyak 43 orang dengan 23 laki-laki dam 20 perempuan.

Tempat Pelaksanaan

Tempat pelaksanaan kegiatan di Kelas XI IPS SMAN 1 Pasimasunggu Timur Kabupaten Selayar Propinsi Sulawesi Selatan. Waktu pelaksanaan penelitian pada bulan Juli sampai September 2008.

Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. 1. Data tentang aktifitas belajar mengajar diambil pada saat dilaksanakan tindakan dengan menggunakan lembar observasi.
  2. 2. Data mengenai hasil belajar diambil dari tes tiap siklus. Tes tersebut dibuat oleh peneliti dalam bentuk soal pilihan ganda.

Teknik Analisis Data

Data hasil belajar siswa berupa tes akan dianalisis dengan menggunakan skor yang berdasarkan penilaian acuan patokan, dihitung berdasarkan skor maksimal yang mungkin dicapai oleh siswa. Nilai yang diperoleh dikelompokkan menjadi lima kategori, yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. Pedoman pengkategorian hasil belajar siswa  yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 1. Di samping itu juga dideskripsikan hasil pengamatan aktifitas pembelajaran dan perilaku siswa yang diketahui dari hasil pengamatan dengan menggunakan lembar observasi yang terjadi pada pelaksanaan proses belajar mengajar.

Tabel. 1. Tingkat penguasaan dan kategori hasil belajar siswa

Tingkat PenguasaanKategori
8,0-10Sangat Tinggi
6,6-7,9Tinggi
5,6-6,5Sedang
40-5,5Rendah
0-3,9Sangat Rendah

(Arikunto, 2005)

DAFTAR PUSTAKA

Ali, M. 2004. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Sinar baru Albensindo. Bandung.

Arikunto Suharsimi, Suhardjono dan Supardi. 2005. Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara. Jakarta

Hamalik, O. 2002. Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara, Jakarta.

Mudyahardjo, R. 2002. Pengantar Pendidikan “Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-Dasar Pendidikan Pada Umumnya Dan Pendidikan di Indonesia”. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Mulyasa. E,. 2006. Kurikulum Yang Disempurnakan “Pengembangan Standar Kompetensi Dan Kompetensi Dasar”. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Nana, S. 2005. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Sinar baru Albensindo. Bandung

Nasution. S. 2005. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara. Jakarta.

Popham W. James, Eval, Baker. 2005. Teknik Mengajar Secara Sistematik. Rineka Cipta. Jakarta.

Sahabuddin. 2003. Mengajar dan Belajar “Dua Aspek Dari Suatu Proses Yang Disebut Pendidikan”. Badan Penerbit Kampus Gunung Sari UNM. Makassar.

Sardiman, A. M. 2006. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta. Jakarta.

Sudjana, N. 1989. Cara Belajar Siswa Aktif Dalam Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru. Bandung.

 

Salam …