Bimbingan dan Konseling

A. Pengertian Bimbingan dan Konseling

Bimbingan dan konseling merupakan dua rangkaian kata yang mempunyai pengertian yang berbeda. Namun pada hakikatnya, mempunyai tujuan akhirnya sama, yaitu berusaha membantu memecahkan masalah yang dihadapi individu maupun kelompok, agar terhindar atau mampu mengatasi masalahnya.

Menurut Crow and Crow (1960) dalam Djumhur dan Moh. Surya mengemukakan bahwa:

Guidance (bimbingan) merupakan bantuan yang diberikan oleh seseorang, baik pria maupun wanita yang memiliki pribadi yang baik dan pendidikan yang memadai, kepada seorang individu dari setiap usia untuk menolongnya mengemudikan kegiatan-kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan arah pandangannya sendiri, membuat pilihannya sendiri, dan memikul bebannya sendiri.[1]

Lebih lanjut Smith (Mc. Daniel, 1959) dalam Priyatno dan Ermananti mengemukakan bahwa bimbingan adalah:

Sebagai proses layanan yang diberikan kepada individu-individu guna membantu mereka memperoleh pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan dalam membuat pilihan-pilihan, rencana-rencana, dan interpretasi-interpretasi yang diperlukan untuk menyesuaikan diri yang baik.[2]

Definisi lebih lanjut lebih mengarah kepada pelaksanaan bimbingan di sekolah adalah sebagaimana dikemukakan oleh Miller (1959) dalam Djumhur dan Moh. Surya sebagai berikut:

Bimbingan adalah proses bantuan kepada individu untuk mencapai pemahaman dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum kepada sekolah, keluarga serta masyarakat.[3]

Jika ditelaah dari beberapa rumusan pengertian bimbingan oleh para ahli di atas, berbeda satu sama lain. Hal ini disebabkan cara pandang dan titik tolak mereka yang berbeda. Walaupun demikian, perbedaan itu hanyalah perbedaan tekanan atau dari sudut mana melihatnya.

Dari pengertian di atas, maka dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya bimbingan itu merupakan pemberian bantuan, namun tidak semua bantuan merupakan bimbingan.

Oleh karena itu, bimbingan merupakan proses pemberian bantuan kepada seseorang atau sekelompok orang secara terus menerus dan sistematis oleh guru pembimbing, agar individu menjadi pribadi yang mandiri. Kemandirian yang menjadi tujuan usaha bimbingan ini mencakup beberapa fungsi pokok yang hendaknya dijalankan oleh pribadi yang mandiri, yaitu:

–       Mengenal diri sendiri dan lingkungan,

–       Menerima diri sendiri dan lingkungannya secara positif dan dinamis,

–       Mengambil keputusan,

–       Mengarahkan diri sendiri, dan

–       Mewujudkan diri sendiri.

Konseling berasal dari kata “counsel” yang diambil dalam bahasa latin yaitu “counsiliun” artinya “bersama” atau “bicara bersama”. Pengertian bicara bersama dalam hal ini adalah pembicaraan konselor (couselur) dengan seorang atau beberapa klien (counselee).[4]

Rahman Natawidjaja sebagaimana yang dikutip Sukardi mendefinisikan sebagai berikut:

Penyuluhan merupakan suatu jenis layanan yang     merupakan bagian terpadu dari bimbingan. Penyuluhan     dapat diartikan sebagai hubungan timbal balik antara dua orang individum di mana yang seorang (yaitu penyuluh) berusaha membantu yang lain (yaitu klien) untuk mencapai pengertian tentang dirinya sendiri dalam hubungan dengan masalah-masalah yang dihadapinya pada waktu yang akan datang.[5]

Mac Lean dalam Sherzer dan Stone sebagaimana yang dikutip oleh Priyatno dan Moh. Surya mengemukakan bahwa:

Konseling adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan tatap muka antara seorang individu yang terganggu oleh karena masalah-masalah yang tidak dapat diatasinya sendiri dengan seorang pekerja yang profesional, yaitu orang yang telah terlatih dan berpengalaman membantu orang lain, mencapai pemecahan-pemecahan terhadap berbagai jenis kesulitan pribadi.[6]

Dari beberapa pengertian tentang konseling yang dikemukakan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa konseling merupakan suatu upaya bantuan yang dilakukan dengan empat mata atau tatap muka antara konselor dan klien, agar klien menemukan konsep diri dalam memperbaiki tingkah lakunya, yang berkaitan dengan masalah yang dihadapinya, baik pada saat ini maupun pada masa yang akan datang.

B. Tujuan Bimbingan dan Konseling

Dengan memperhatikan uraian bimbingan dan konseling sebelumnya, sudah jelas bahwa yang ingin dicapai melalui pelayanan bimbingan dan konseling ialah tingkat perkembangan yang optimal bagi setiap individu sesuai dengan kemampuannya, agar dapat menyesuaikan dirinya terhadap lingkungan. Hal   tersebut merupakan tujuan utama pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. Akan tetapi sejalan dengan perkembangan zaman, berkembang pula konsepsi bimbingan dan konseling sehingga tujuan bimbingan dan konseling pun mengalami perubahan, dari yang sederhana sampai ke yang lebih komprehensif. Hal ini dapat dilihat dari beberapa rumusan pada ahli di bawah ini.

Menurut Hamrin dan Clifford dalam Jones (1951) dalam Priyatno mengemukakan bahwa tujuan bimbingan dan konseling adalah:

Untuk membantu individu membuat pilihan-pilihan, penyesuaian-penyesuaian dan interpretasi-interpretasi dalam hubungannya dengan situasi-situasi tertentu.[7]

Sedangkan menurut Coleman dalam Thompson dan Rudolph (1983) dalam Priyatno mengemukakan bahwa proses bimbingan dan konseling bertujuan:

Memberikan dukungan, memberikan wawasan, pandangan, pemahaman, keterampilan, dan alternatif baru untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi.[8]

Lebih lanjut, bimbingan dan konseling bertujuan agar klien dapat mengikuti kemauan (saran-saran) konselor untuk mengadakan perubahan tingkah laku secara positif, melakukan pemecahan masalah, mengambil keputusan, pengembangan kesadaran, pengembangan pribadi dan penerimaan diri sendiri. (Thomson dan Rudolph, 1983).[9]

Dengan memperhatikan butir-butir tujuan bimbingan dan konseling, sebagaimana tercantum dalam rumusan-rumusan tersebut, tampak bahwa tujuan umum bimbingan dan konseling adalah untuk membantu perkembangan kepribadian yang seoptimal mungkin.

Hal tersebut sesuai dengan konsep Islam sebagaimana Nabi saw. Bersabda dalam sebuah hadis sebagai berikut:

Artinya:

Diceritakan kepadaku dari Malik, sesungguhnya telah disampaikan kepadanya bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Saya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik”.

Dalam memberikan bantuan tersebut, sudah tentu dengan mempertimbangkan kemampuan dasar dan bakat-bakatnya, latar belakang keluarga, pendidikan, status sosial ekonomi serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungan.

C. Problem yang dihadapi Siswa di Sekolah

Dalam lingkungan persekolahan, peserta didik tidak semata belajar, dalam artian penumpukan pengetahuan dari kegiatan instruksional. Dalam proses belajar, peserta didik menghadapi pula situasi-situasi yang bersangkutan dengan kehidupan pribadinya dan pergaulan sosialnya. Pada segi lain, peserta didik yang sekolah, disadari atau tidak mereka memasuki suatu sekolah dengan tujuan-tujuan yang bersangkutan dengan masa depan, yaitu pekerjaan atau karir.

Masalah-masalah individu peserta didik yang timbul dalam lingkup sekolah dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bidang atau jenis, sebagaimana dikemukakan oleh Djumhur dan Moh. Surya sebagai berikut :

  1. 1. Masalah Pendidikan (Pengajaran atau Belajar)

Dalam hubungan dengan ini, individu merasakan kesulitan dalam menghadapi kegiatan belajar, misalnya, cara membagi waktu belajar, cara belajar, mengerjakan tugas-tugas, menyesuaikan dengan pelajaran baru, lingkungan sekolah, guru-guru, tata tertib sekolah, dan sebagainya.

  1. 2. Masalah Pribadi dan Sosial

Masalah-masalah pribadi dalam lingkup sekolah umumnya bercikal bakal dari dalam pribadi individu yang berhadapan   dengan lingkungan-lingkungan sekitarnya. Masalah-masalah semacam ini banyak dialami oleh pemuda pada waktu       menjelang masa adohosensi yang ditandai dengan perubahan yang cepat, baik fisik maupun mental. Selain itu, berdampak pula terhadap sikap dan perilaku. Misalnya, ingin menyendiri, cepat bosan, agresif, emosi yang meninggi, hilangnya kepercayaan diri, dan lain-lain.

Adapun masalah-masalah sosial yang kerapkali dihadapi     oleh peserta didik dalam lingkup sekolah yang bersangkutan   dengan hubungan antara individu dengan individu lainnya atau dengan lingkungan sosialnya, misalnya kesulitan dalam        mencari teman, merasa terasing dengan pekerjaan kelompok, dan lain-lain.

  1. Masalah Pekerjaan (Karir)

Masalah-masalah ini berhubungan dengan pemilihan pekerjaan. Misalnya dalam memilih jenis-jenis pekerjaan yang cocok dengan dirinya, memilih latihan tertentu untuk suatu pekerjaan, mendapatkan informasi tentang jenis pekerjaan dan kesulitan untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan pekerjaan.[11]

D. Model Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya, meskipun setiap individu memiliki keterbatasan. Manusia di samping    sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial. Untuk kelangsungan hidupnya, manusia membutuhkan orang lain untuk menopang keberadaannya dan memperoleh manfaat dari orang tersebut.

Adapun model layanan bimbingan dan konseling sebagaimana yang dikemukakan oleh Shertzer dan Stone dalam Fundamentals of Guidance (1981) yaitu :

  1. Frank Parson; yang mendirikan Vocational Bureau di kota Boston (1908) dan menerbitkan buku yang berjudul Choosing a Vocation (1909), menciptakan istilah Vocattional Guidance yang dewasa ini dipandang sebagai salah satu ragam bimbingan (jabatan atau kerier). Menurut pandangan Parson, baik individu maupun masyarakat akan mendapat keuntungan kalau terdapat kecocokan antara ciri-ciri kepribadian seseorang dan tuntutan-tuntutan dibidang pekerjaan yang dipegang oleh orang itu. Tiga faktor utama utama dianggap sangat menentukan dalam memilih suatu bidang pekerjaan yaitu analisis terhadap diri sendiri (kemampuan, bakat dan minat serta temperamen), analis kalau terdapat kecocokan antara ciri-ciri kepribadian seseorang dan tuntunan-tuntunan bidang pekerjaan yang dipegang oleh orang itu. Tiga faktor utama yang dianggap sangat menetukan dalam memilih suatu bidang pekerjaan, yaitu analisis terhadap diri sendiri (kemampuan, bakat dan minat serta temperamen), analisis terhadap bidang pekerjaan (kesempatan, tuntunan dan prospek masa depan), serta perbandingan antara hasil kedua analisis tadi untuk menemukan kecocokan antara data tentang diri sendiri dan data tentang bidang-bidang pekerjaan.
  2. Donald G. Paterson, yang menerbitkan karangan The Genesis of Modern Gaduance (1938) dan Edmond G. Williams yang menerbitkan buku yang berjudul How to Counsel Students (1939)  dan Counseling Adolescents (1950) dan lain-lain. Mengembangkan suatu metode dalam konseling yang dikenal dengan nama metode klinis (clinical method). Metode ini menekankan menggunakan teknik-teknik untuk mengenal konseli lebih baik dan menentukan problem-problem yang dihadapi konseli, misalnya dengan menggunakan tes-tes psikologis dan studi diagnostic. Dengan demikian, model ini menekankan bentuk bimbingan individual, yaitu pelayanan kepada siswa satum persatu dan mengutamakan sifat bimbingan perseveratif, serta memberikan tekanan pada komponen bimbingan penempatan, pengumpulan data dan wawancara konseling.
  3. Kenneth B. Hoyt yang menerbitkan karangan dengan judul Guidance a Constellation of Services (1962), mendefenisikan model bimbingan yang mencakup sejumlah kegiatan bimbingan (Constellation) dalam rangka melayani kebutuhan siswa di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Model ini sebenarnya menampung kegiatan bimbingan sebagaimana dilaksanakan pada waktu itu. Dalam pola dasar ini ditekankan bahwa semua tenaga kependidikan disekolah seharusnya berpartisipasi dalam pelaksanaan program bimbingan bukan hanya tenaga bimbingan atau konselor sekolah saja. Pelayanan dianggap hanya akan berhasil kalau tujuan pelayanan bimbingan terintegrasi pada tujuan-tujuan institusional, kurikuler dan instruksional.
  4. Julius Menacker, yang menerbitkan karangan To Ward a Theory of Activist Guidance (1976) mengembangkan model bimbingan yang mengusahakan penanggulangan gejala-gejala pemberontakan yang tampak dari tingkah laku pada siswa di sekolah-sekolah yang dalam daerah minus di kota besar. Daerah minus di sini berarti daerah dimana kemiskinan, kejahatan, pelanggaran hukum, kenakalan remaja dan penggunaan obat bisu merajalela. Model ini menekankan usaha mengadakan perubahan dalam lingkungan hidup yang menghambat perkembangan yang ptimal bagi siswa.[12]

Namun dalam pelaksanaanya bimbingan dan konseling di sekolah secara umum terdiri dari beberapa ragam dan teknik yang diberikan.

W.S. Winkel mengemukakan ragam bimbingan sebagai berikut :

Adapun ragam layanan bimbingan dan konseling adalah:

a. Bimbingan Studi (Academic Guidance)

Bimbingan akademik ialah bimbingan dalam hal menemukan cara belajar yang tepat, dalam memilih program studi yang sesuai, dan dalam mengatasi kesukaran-kesukaran yang timbul berkaitan dengan tuntutan-tuntutan belajar di suatu institut pendidikan. Suatu program bimbingan di bidang belajar (akademik) akan memuat unsur-unsur sebagai berikut:

  1. Orientasi kepada siswa baru tentang tujuan institusional, isi kurikulum, pengajaran, struktur organisasi sekolah, cara-cara belajar yang tepat.
  2. Penyadaran kembali secara berkala tentang cara belajar yang tepat selama mengikuti pelajaran di sekolah dan selama belajar di rumah, baik secara individu maupun secara kelompok.
  3. Bantuan dalam hal memilih program studi yang sesuai, memilih kegiatan-kegiatan non-akademik yang menunjang usaha belajar, dan memilih program studi lanjutan di tingkat pendidikan yang lebih tinggi, dan lain-lain.

b. Bimbingan  Pribadi  dan  Sosial  (Personal and Social Guidance).

Bimbingan pribadi sukar sekali terpisah dari bimbingan sosial atau sebaliknya, karena masalah pribadi biasanya tidak terlepas dari masalah sosial.

Dikatakan sebagai bimbingan pribadi, jika penekanan bimbingan lebih pada usaha menangani masalah-masalah pribadi. Sedangkan bimbingan sosial penekanannya lebih pada penanganan masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh individu.

Masalah-masalah pribadi dalam lingkup sekolah umumnya bercikal bakal dari dalam pribadi individu yang berhadapan dengan situasi lingkup sekitarnya.

Peserta didik sekolah menengah khususnya kerap kali menghadapi masalah seperti ini. Mereka dalam masa pubertas ataupun adolescent dengan adanya perubahan-perubahan pesat dalam aspek-aspek psikis, fisiologis dan sosiologis yang dihadapi mereka.[13]

Masalah-masalah sosial yang juga kerap dihadapi oleh individu dalam hubungannya dengan individu lain atau dengan lingkungan sosialnya. Masalah itu dapat timbul karena kekurangmampuan individu untuk berhubungan dengan lingkungan sosialnya, atau lingkungan sosial itu sendiri yang kurang sesuai dengan keadaan dirinya.

Bimbingan pribadi dan sosial di lain pihak tidak lain adalah seperangkat usaha bantuan kepada peserta didik agar dapat menghadapi sendiri masalah-masalah pribadi dan sosial, memilih kelompok sosial dengan memilih jenis-jenis kegiatan sosial yang bernilai guna, serta berdaya upaya sendiri dalam memecahkan masalah-masalah pribadi dan sosial yang dialaminya.

c. Bimbingan Jabatan (Vocational Guidance) atau Bimbingan Karir.

Bimbingan karir merupakan salah satu jenis bimbingan yang berusaha membantu peserta didik dalam memecahkan masalah karir untuk memperoleh penyesuaian diri yang sebaik-baiknya, baik pada waktu itu maupun pada masa yang akan datang.

Bimbingan karir bukan hanya memberikan bimbingan jabatan, tetapi mempunyai arti yang lebih luas, yaitu bimbingan agar seseorang dapat memasuki kehidupan, tata hidup dan kejadian dalam kehidupan, dan mempersiapkan diri dari kehidupan sekolah ke dunia kerja (Suryosubroto, 1997: 252).

Di samping itu, bimbingan jabatan memiliki kisaran        usaha bimbingan kepada peserta didik dalam jasa pertimbangan akan bekerja atau tidak, dan jika perlu segera bekerja, baik        part-time maupun full-time, memiliki lapangan kerja yang cocok dengan ciri-ciri pribadi, individu menentukan lapangan pekerjaan dan memasukinya serta mengadakan penyesuaian kerja secara baik.[14]

Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa bimbingan karir merupakan suatu program yang disusun untuk membantu perkembangan peserta didik agar mengerti akan dirinya, mempelajari dunia kerja untuk mendapatkan pengalaman yang akan membantu dalam membuat keputusan dan mendapatkan pekerjaan.

Sedangkan teknik bimbingan dan konseling pada umumnya menggunakan dua pendekatan seperti yang dikemukakan oleh Djumhur dan Moh. Surya yaitu :

  1. Pendekatan Secara Kelompok atau Bimbingan Kelompok (Group Guidance).

Teknik ini dipergunakan dalam membantu murid atau sekelompok murid untuk memecahkan masalah-masalah melalui kegiatan kelompok. Masalah yang dihadapi mungkin bersifat kelompok atau individu sebagai anggota kelompok. Dengan demikian penyelenggaraan bimbingan kelompok mungkin dimaksudkan untuk membantu mengatasi masalah bersama atau membantuseorang individu yang menghadapi masalah dengan penempatannya dalam suatu kehidupan kelompok.

  1. Penyuluhan Individuil (Individual Counseling)

Dalam teknik ini pemberian bantuan dilakukan dengan hubungan yang bersifat face to face relation ship (hubungan empat mata) yang dilaksanakan dengan wawancara antara counselor dengan kasus (counselee). Masalah yang dipecahkan melalui teknik counseling ini ialah masalah-masalah yang sifatnya pribadi.[15]

Dari beberapa model layanan bimbingan di atas, sebagai tenaga bimbingan sudah seharusnya memiliki pengetahuan dan pemahaman psikologis yang cukup mendalam serta memiliki fleksibilitas yang tinggi dan kesabaran yang besar, sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Nahl (16): 125 yang berbunyi:

????? ????? ??????? ??????? ????????????? ??????????????? ??????????? ????????????? ????????? ???? ???????? ????? ??????? ???? ???????? ?????? ????? ???? ????????? ?????? ???????? ????????????????

Terjemahnya:

‘Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah    dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.’[16]

Dalam hal ini, bantuan yang dimaksud adalah yang sifatnya profesional, yang diberikan oleh seorang tenaga profesional. Membantu di sini bukan berarti memberi atau mengambil alih pekerjaan orang lain. Membantu tetap memberi kepercayaan kepada klien untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dalam mengatasi masalahnya.


[1]Djumhur dan Moh. Surya, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah (Guidance and Counseling) (Cet. XV; Bandung: CV. Ilmu, 1975), h. 25.

[2]Priyatno dan Ermananti, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling (Cet. I; Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1999), h. 94

[3]Djumhur dan Moh. Surya, op. cit., h. 26.

[4] Latipun, Psikologi Konseling, Edisi, III; Malang : Universitas Muhammadiyah Malang, 2001, h. 4

[5]Dewa Ketut Sukardi, Proses Bimbingan dan Penyuluhan (Cet. I; Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1995), h. 5.

[6]Priyatno dan Ermananti, op. cit., h. 100.

[7]Priyatno dan Ermananti, op. cit., h. 112.

[8]Ibid.

[9]Ibid., h. 113.

[11] Djumhur dan Muhammmad Surya, Op.Cit,h.32-34.

[12] W.S. Winkel, Bimbingan dan Konseling di Institut Pendidikan (Jakarta: PT. Gramedia, 1991), h. 106-109.

[13]H. Abu Ahmadi dan Ahmad Rohani, Bimbingan dan Konseling di Sekolah (Cet. I; Jakarta: PT. Rineka Cipta, t.th), h. 108.

[14]H. Abu Ahmadi dan Ahmad Rohani, op. cit., h. 110.

[15] Djumhur dan Moh.Suryo, op.cit. h. 106-110.

[16]Departemen Haji dan Wakaf Saudi Arabiya, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Madina: Khadim al-Haramain asy-Syarifain Raja Fadh, 1413 H.), h. 421.