Pembinaan Aqidah bagi Anak menurut Islam

A. Islam Sebagai Pedoman Hidup

Islam kata turunan (Jadian) yang berarti ketundukan, ketaatan, kepatuhan, (Kepada Kehendak Allah). Islam berasal dari kata Salama artinya patuh atau menerima, berakar dari huruf Sin, Lam, Mim, (S – L – M). [1]

Menurut ilmu bahasa (etimologi), islam berasal dari bahasa Arab yaitu kata Salim yang berarti “Selamat Sentosa”. Dari asal kata itu dibentuk kata Aslama yang berarti menyerahkan diri, tunduk, patuh, dan taat.

Secara terminologis, islam berarti ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui rasul, atau lebih tegas lagi islam adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui nabi Muhammad Saw. [2]

Demikian analisis makna perkataan islam. Intinya adalah berserah diri, tunduk, patuh dan taat dengan sepenuh hati manusia itu, manfaatnya bukanlah untuk Allah sendiri tetapi untuk kemaslahatan manusia dan lingkungan hidupnya. Oleh karena itu islam mempedomani seluruh aspek kehidupan manusia baik duniawi maupun ukhrawi.

Berbicara tentang islam berarti sangat berhubungan dengan pelaksanaan ajaran islam itu sendiri, dimana membicarakan tentang ketaatan kepada Allah dan patuh terhadap hukum-hukumnya dan perintah-perintah-Nya. Agama merupakan ferleksi iman yang tidak hanya terbukti dalam keyakianan dan ucapan saja, tetapi agama merefleksikan sejauh mana iman itu terealisasikan dengan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dikarenakan pelaksanaan ajaran agama pada ummat islam merupakan suatu kewajiban dimana ajaran islam itu dijadikan sebagai tujuan hidupnya.

Dengan demikian jelaslah bahwa pengamalan atau pelaksanaan ajaran islam merupakan kewajiban yang harus ditunaikan bagi orang yang mengaku dirinya sebagai orang islam dan menjadikan islam tersebut tujuan hidupnya, karena memang manusia diciptakan oleh Allah tidak lain hanyalah beribadah dan menyembah kepada Allah. Sebagai Firman Allah dalam surah Adz-Dzariyat ayat 56 yaitu:

????? ???????? ???????? ??????????? ?????? ?????????????

Terjemahannya:

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.[3]

Berdasarkan ayat diatas bahwa semua makhluk, baik itu jin maupun manusia tanpa terkecuali mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sama yaitu menyembah dan mengabdi kepada Allah Swt dengan segala tenaga, harta dan jiwa. Mengamalkan ajaran islam sesuai dengan ketentuan kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Dengan demikian jelaslah bahwa pengamalan  atau pelaksanaan ajaran islam sangat penting artinya bagi kehidupan seorang hamba, karena pengamalan atau pelaksanaan ajaran islam itu merupakan realisasi dari kesadaran beragama seseorang. Mereka sadar akan tanggung jawabnya sebagai pemeluk agama dimana syariat agama dituntut banyak hal kepadanya, baik yang menyangkut hubungannya kepada Allah maupun sesama manusia serta alam sekitarnya. Sesuai dengan konsep pendidikan islam itu sendiri, yang penjabarannya sebagai berikut:

  1. Pendidikan islam mencakup semua dimensi manusia sebagai mana ditentukan oleh islam.
  2. 2. Pendidikan islam menjangkau pendidikan di dunia dan di akhirat secara berimbang.
  3. 3. Pendidikan islam memperhatikan manusia dalam semua gerak kegiatannya, serta mengembangkan padanya daya hubungan dengan orang lain.
  4. 4. Pendidikan islam berlanjut sepanjang hayat mulai dari manusia sebagai janin dalam kandungan ibunya, sampai kepada berakhirnya hidup di dunia ini.
  5. 5. Maka kurikulum pendidikan islam, akan menghasilkan manusia yang memperoleh hak di dunia dan hak di akhirat nanti. [4]

Sementara itu, tujuan pendidikan islam secara garis besarnya adalah untuk membina manusia agar menjadi hamba Allah yang saleh dengan seluruh aspek kehidupannya, baik dari segi perbuatan, pikiran, dan perasaannya.

B. Dasar – Dasar Pendidikan Agama Bagi Anak

Ketika seorang anak pertama kali lahir ke dunia dan melihat apa yang ada di dalam rumah dan sekelilingnya, tergambar dalam benaknya sosok awal dari sebuah gambaran kehidupan. Bagaimana awalnya dia harus bisa melangkah dalam hidupnya didunia ini. Jiwanya yang masih suci dan bersih akan menerima segala bentuk apa saja yang datang mempengaruhinya. Maka sang anak akan dibentuk oleh setiap pengaruh yang datang dalam dirinya. Dalam hal ini Imam Ghazali mengatakan:

Bayi itu merupakan amanat bagi kedua orang tuanya, hatinya suci dan bersih. Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan, ia akan tumbuh dengan kebiasaan, pengajaran, dan berbahagia di dunia dan di akhirat. [5]

Dengan demikaian orang tua harus berusaha semaksimal mungkin agar anak mendapatkan pendidikan agama yang baik dan terbiasa melaksanakannya. Berbicara tentang terbiasa melaksanakan berarti menyangkut metode keteladanan, metode keteladanan dalam pembiasaan merupakan suatu metode yang digunakan untuk merealisasikan tujuan pendidikan dengan memberi contoh keteladanan yang baik kepada anak agar mereka dapat berkembang baik fisik maupun mental dan memiliki akhlak yang baik dan benar. Keteladanan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam pendidikan ibadah, aklak, kesenian dan lain-lain. [6] Oleh karena itu yang perlu kita ketahui adalah Bentuk-bentuk pelaksanaan Ajaran islam atau Dasar – dasar pendidikan agama bagi anak yaitu sebagai berikut:

  1. a. Pembinaan Aqidah pada Anak

Aqidah secara bahasa berarti ikatan, secara terminologi berarti landasan yang mengikat yaitu keimanan. Aqidah juga sebagai ketentuan dasar mengenai keimanan seorang muslim, landasan dari segala prilakunya, bahkan aqidah sebenarnya merupakan landasan bagi ketentuan syariah yang merupakan pedoman bagi seseorang berprilaku di muka bumi. [7]

Aqidah memiliki enam Aspek yaitu: keimanan pada Allah, pada para Malaikat-Nya, iman kepada para Rasul utusan-Nya, pada hari akhir, dan iman kepada ketentuan yang telah dikehendaki-Nya. Apakah ini takdir baik atau takdir buruk. Dan seluruh Aspek ini merupakan hal yang gaib. Kita tidak mampu menangkapnya dengan panca indra kita. [8]

Seperti yang telah dijelaskan di atas maka kita akan menemukan lima pola dasar pembinaan aqidah anak seperti : Membacakan kalimat tauhid pada Anak, menanamkan kecintaan mereka pada Allah, pada Rasulullah Muhammad SAW, mengajarkan Al-qur’an dan menanamkan nilai perjuangan rasul serta pengorbanan beliau pada mereka.

Imam Al- Gazali menjelaskan secara khusus bagaimana menanamkan keimanan pada anak. Belaiau berkata, “Langkah pertama yang bisa diberikan kepada mereka dalam menanamkan keimanan adalah dengan memberikan hafalan. Sebab proses pemahaman harus diawali dengan hafalan terlebih dahulu. Ketika anak hafal akan sesuatu kemudian memahaminya, akan tumbuh dalam dirinya sebuah keyakinan dan akhirnya anak akan membenarkan apa yang telah dia yakini sebelumnya. Inilah proses pembenaran dalam sebuah keimanan yang dialami anak pada umumnya. [9]

Dalam proses penanaman Aqidah ini, kita dapat perlu mengajarkan pada anak bagaimana cara mereka berbicara atau menjelaskan tentang pemahaman mereka terhadap Aqidah. Tapi cukuplah bagi mereka untuk menyibukkan diri dengan banyak membaca Al-Qur’an, mempelajari tafsirnya, juga hadis-hadis Rasulullah SAW serta sibukkan mereka dengan amalan – amalan keseharian dalam ibadah ritual. Dengan  demikian secara tidak langsung akan timbul keyakinan dengan sendirinya dalam diri anak ketika mereka tengah membaca Al-qur’an dan hadis.

Adapun langkah-langkah yang mesti kita lakukan untuk membentuk Aqidah anak adalah sebagai berikut:

  1. Mendiktekan kalimat Tauhid pada Anak

Diriwayatkan oleh Al- Hakim dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jadikanlah kata-kata pertama yang diucapkan oleh seorang anak adalah Tauhid yaitu kalimat “La Ilaha Illallah” . dan bacakanlah kepada mereka ketika menjelang maut. [10]

Zakiah Darajat berpendapat bahwa “anak yang sering mendengar orang tuanya mengucapkan nama Allah, maka ia akan mulai mengenal nama Allah. Hal ini kemudian, mendorong tumbuhnya jiwa keagamaan pada anak tersebut. [11]

Dan diriwayatkan pula oleh “Abdur Razzaq dalam kitabnya shannaf (Jil. IV. Hlm 334). Dari Abdul Karim Abu Umayyah, dia berkata: “Aku Rasulullah SAW mengajarkan anak-anak dari bani hasim yang telah mampu mengucapkan kata – kata sebanyak 7 kali dari kalimat: (QS. Al-Isra’ [17]: 111) yaitu

Terjemahannya:

Dan katakanlah segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan dia bukan para hina yang memerlukan pertolongan. Dan agungkanlah dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya”. [12]

Disebutkan dalam sejarah perjalanan Rasulullah, bahwa beliau lebih memusatkan perhatiannya terhadap perkembangan anak kecil, dengan upaya-Nya dalam memperhatikan mereka, Rasulullah terjun langsung dalam mengajarkan tentang islam. Hingga akhirnya dalam diri Ali yang usianya masih relative muda, tapi semangat juangnya sudah tertanam dengan kuat. [13]

  1. Menanamkan kecintaan Anak kepada Allah, senantiasa meminta pertolongan dan pengawasan hanya kepada Allah serta yakin akan ketentuan Allah SWT.

Setiap anak pernah merasakan sebuah persoalan dalam hidupnya. Baik persoalan kewajibannya, dalam hubungan social masyarakat, ataupun dalam lingkungan pendidikannya. Anak pun akan mengekspresikan persoalan yang sedang dihadapinya dengan cara yang berbeda satu sama lain. Sebagian menggunakan perasaannya yang sangat halus, sebagian anak lain mungkin mewujudkannya dalam bentuk tingkah laku dan lain sebagainya. Maka dengan cara bagaimana kita mampu mengatasi persoalan dari dalam jiwa mereka yang begitu beragam? Dan apakah ada sebuah metode pemecahan masalah agar sang anak mampu mengatasi dengan baik?

Islam memberikan jawabannya yang tepat. Yaitu dengan menanamkan kecintaan anak pada zat yang maha Agung dan maha kuasa. Allah SWT yang akan memberikan pertolongan kepada siapa saja yang dikehendakinya, yang selalu mengawasi segala apa saja yang kita lakukan. Dan menanamkan keyakinan pada anak akan adanya takdir atau kehendak Allah berupa kebaikan atau keburukan. Inilah ajaran terpenting Rasulullah SAW. Selaku utusan Allah yang telah diberikan kepada ummatnya yang tiada seorangpun mampu menciptakan ajaran semacam ini. [14]

Oleh karena itu apa bila sang anak telah dapat menghayati bentuk- bentuk keimanan tadi, dan anak telah memiliki keyakinan yang kuat serta memiliki pengetahuan tentang penciptanya dengan baik, niscaya segala bentuk persoalan yang akan dihadapi tidak akan membuatnya resah ataupun gelisah. Keimanan yang sudah melekat di dalam dada mereka yang akan membuatnya mampu menghadapi persoalan hidup yang sedang dihadapinya hingga masa dewasanya kelak.

  1. Menanamkan kecintaan Anak pada Nabi Muhammad SAW.

Kecintaan pada Rasulullah SAW merupakan perwujudan bentuk persaksian umat islam yang kedua yaitu kesaksian akan Muhammad SAW selaku utusan Allah yang diturunkan kebumi ini. Para ulama besar terdahulu dan penerusnya telah berupaya untuk mencurahkan perhatiannya yang cukup serius dalam menanamkan kecintaan anak pada NabiSAW yang menjadi contoh teladan terbaik dalam seluruh ummat manusia di muka bumi ini. Sebab apa bila telah tertanam dalam jiwa anak kecintaannya pada Nabi SAW, akan menambah kecintaan anak pada agama Allah.

Apa bila kita mencoba untuk mengamati perkembangan anak secara teliti, akan kita temukan bahwa pada masa – masa anak belum mencapai usia baliq terdapat suatu kecendrungan kuat dalam diri anak untuk mencapai tokoh yang dianggapnya paling hebat dalam segala hal, agar anak itu bisa menirunya dan bertindak seolah-olah dia juga memiliki kehebatan seperti apa yang telah dimiliki oleh tokoh yang ia kaguminya. Maka oleh karena itu pendidikan islam memiliki sebuah metode yang sangat hebat dalam menyalurkan kecendrungan anak tersebut dengan menjadikan Rasulullah SAW sebagai tokoh yang dikagumi karena memiliki sifat – sifat yang tidak dimiliki oleh orang lain selain beliau. Sesuai dengan yang diriwayatkan oleh Thabrani, ibnu Najjar dan Ad. Dailani dari Ali bin Abi Thalib k. w. bahwasanya Rasulullah SAW Bersabda : “Didiklah anak-anakmu untuk melakukan 3 hal ini, mencintai Nabinya, mencintai keluarga nabi, dan membaca Al-qur’an” berkata Al-manawi bahwa hadis ini dhaif. Begitu juga dengan firman Allah Swt., di dalam Q.S. Al-Ahzab ayat 21 disebutkan:

Terjemahannya:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. [15]

b. Pembinaan Ibadah pada Anak

Pembinaan anak dalam beribadah dianggap sebagai penyempurna dari pembinaan Aqidah karena nilai ibadah yang didapat oleh anak akan dapat menambah keyakinan akan kebenaran ajarannya atau dalam istilah lain, semakin tinggi nilai ibadah yang ia miliki, akan semakin tinggi pula keimanannya. Maka bentu ibadah yang dilakukan anak bisa dikatakan sebagai cerminan atau bukti nyata dari Aqidahnya.

Pabila kita mati telah dalam lagi arti ibadah dimata manusia, akan kita temukan bahwa ternyata bentuk pengabdian ini semata-mata merupakan fitra setiap manusia yang dihadirkan Allah. Oleh karena itu kewajiban orang tua atau pendidik adalah mengarahkan kembali fitra pengabdian anak pada sang khalik yang telah tertanam sejak ditiupkannya ruh Allah padanya ketika dia masih berada di dalam kandungan ibunya.

Masa kecil anak bukanlah masa pembebanan atau pemberian kewajiban, tapi merupakan masa persiapan, latihan dan pembiasaan. Sehingga ketika mereka sudah memasuki masa dewasa yaitu pada saat mereka mendapatkan kewajiban dalam beribadah, segala jenis ibadah yang Allah wajibkan dapat mereka lakukan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Karena sebelumnya mereka sudah terbiasa melakukan ibadah tersebut.

Bentuk pengabdian seorang hamba terhadap Tuhannya atau dalam istilah khusus yaitu ibadah memiliki pengaruh yang sangat menakjubkan dalam diri anak. Pada saat anak melakukan salah satu ibadah itu, secara tidak disadari ada dorongan kekuatan yang membuat dia merasa tenang dan tentram.

Pembinaan dalam beribadah bagi anak ini terbagi dalam 4 dasar pembinaan, yang uraiannya adalah sebagai berikut:

  1. Pembinaan Shalat

Pembinaan shalat ini bertahap mulai dari perintah melaksanakan shalat, anak mulai dikenalkan adanya kewajiban dalam melaksanakan shalat baik itu syarat sah shalat maupun rukun-rukun shalat serta larangan-larangannya, membiasakan anak menghadiri shalat jum’at, membawa anak ikut kemasjid dan mengikat anak dengan masjid.

Dengan adanya upaya seperti diatas maka semakin besar harapan masyarakat pada zaman ini untuk dapat melihat lahirnya sebuah genersi baru yang cemerlang, generasi yang didalamnya terdapat orang-orang yang telah mengabdikan diri sepenuhnya untuk berjalan diatas kebenaran.

  1. Pembinaan Ibadah Puasa

Puasa merupakan ibadah ritual yang berhubungan erat dengan proses peningkatan ruh dan jasad. Didalam ibadah ini anak diajark untuk mengenal semakin dalam makna sebenarnya dari bentuk keihlasan dihadapan Allah SWT karena puasa bukan hanya mengajarkan anak untuk menahan diri dari haus dan lapar saja tapi juga dilatih untuk selalu bersikap sabar dan tabah.

  1. Pembinaan mengenai Ibadah Haji

Ibadah haji sama dengan rukun ibadah yang lainnya, tidak diwajibkan sepenuhnya pada anak. Melainkan sebagai sarana untuk melatih diri anak agar terbiasa dalam melaksanakan bentuk ibadah yang memerlukan ketabahan fisik yang kuat.

Sebagaimana kita ketahui pula bahwa haji merupakan bentuk ibadah yang penuh dengan berbagai macam kesulitan dan kepayahan dalam melaksanakan rangkaian ibadah tersebut. Maka dengan dilaksanakannya ibadah tersebut semenjak usia anak masih kecil, diharapkan pada saat mencapai dewasa nanti, dia akan mulai terbiasa dan tidak lagi dianggap sebagai bentuk ibadah yang berat baginya. [16]

  1. Pembinaan Ibadah Zakat

Salah satu bentuk pembinaan ibadah lainnya adalah mengenalkan anak pada rukun ibadah yaitu mengeluarkan Zakat fitra yang merupakan bentuk kewajiban setiap muslim, tidak memandang umur atau jenis kelamin. Dengan mengeluarkan zakat ini, anak dikenalkan pada bentuk penyucian harta dan diri. Maka anak pun akan belajar mengenal arti tolong menolong yang merupakan kewajiban setiap manusia. Karena harta yang dikeluarkan akan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

  1. c. Pembinaan Akhlak pada Anak

Akhlak secara bahasa berasal dari kata khalaqa yang kata asalnya khuluqun yang berarti: perangai, adat, atau khalqun yang berarti kejadian, buatan, ciptaan. Jadi secara Atimologi akhlak itu berarti perangai, adat, tabiat, atau system prilaku yang dibuat.[17]

Akhlak karenanya secara kebiasaan  bisa baik ataupun buruk. Tergantung kepada tata nilai yang dipakai sebagai landasannya. Meskipun secara sosiologis di Indonesia kata akhlak sudah mengandung konotasi baik, jadi orang yang berakhlak berarti orang yang berakhlak baik.

Adapun pembinaan Akhlak kepada anak, yaitu:

1.  Pembinaan Budi Pekerti dan Sopan Santun.

Tirmizi meriwayatkan dari Sa’id bin ‘Ash, Rasulullah SAW. Bersabda “Tidak ada pemberian seorang bapak pada anaknya yang lebih baik dari budi pekerti yang luhur”. Oleh karena itulah Ali Al-Madani berkata, “Mewariskan budi pekerti yang luhur kepada anak, adalah lebih baik dari pada mewariskan harta kepadanya, karena budi pekerti yang luhur dapat memberikan harta dan kemuliaan dan rasa cinta terhadap para saudara. Lebih jelasnya, budi pekerti yang luhur dapat memberikan kenikmatan dunia dan akhirat.[18] Adapun adab dan budi pekerti yang diajarkan oleh Rasulullah antara lain adalah: (a). Sopan santun terhadap orang tua, baik adab berbicara dengan orang tua, maupun adab memandang orang tua. (b). Sopan santun terhadap ulama. (c). Etika menghormati orang yang lebih tua. (d). Etika Bersaudara. (e). Etika Bertetangga. (f). Etika ketika makan. Dan sebaganya.

  1. Pembinaan Bersikap Jujur

Bersikap jujur merupakan dasar pembinaan akhlak yang sangat penting dalam ajaran islam ini. Dan bersikap seperti ini memerlukan perjuangan yang tidak ringan , karena banyaknya godaan dari lingkungan sekitar yang membuat untuk tidak bersikap jujur. Oleh karena itu Rasulullah SAW begitu memperhatikan pendidikan kejujuran ini dengan membinanya sejak usia anak masih sangat kecil.[19]

  1. Pembinaan menjaga Rahasia

Rasulullah SAW begitu perhjatian penuh dalam membentuk anak yang bisa menjaga rahasia. Karena sikap seperti ini merupakan perwujudan dari keteguhan anak dalam membela kebenaran. Anak akan mampu hidup ditengah masyarakat dengan penuh percaya diri dan masyarakatpun akan mempercayaianya.[20]

  1. Pembinaan menjaga kepercayaan

Al- Amanah atau kepercayaan merupakan sifat dasar Rasulullah SAW yang telah beliau miliki sejak usia kecil hingga masa kerasulannya. Sampai kaum Musyrik menjuluki beliau dengan sebutan “Orang jujur dan dipercaya”atau dalam istilah lain “Al-Shadiq Al- Amin. Contoh teladan ini seperti ini yang mesti ditiru oleh setiap generasi Muslim pada masa sekarang ini. Karena dasar kepercayaan inilah yang menjadi salah satu criteria suksesnya dakwah islam dimanapun berada.[21]

  1. Pembinaan Menjauhi Sifat dengki.

Bersihnya hati anak dari rasa iri atau dengki merupakan salah satu bentuk pembinaan yang menjadi sasaran utama orang tua terhadap anaknya. Karena dengan hilangnya sifat dengki yang ada dalam jiwanya, anak akan memiliki pribadi yang luhur dan selalu mencintai kebaikan ditengah-tengah masyarakat dan selalu tegar dari gangguan penyakit hati orang – orang disekitarnya. Demikian Rasulullah SAW selalu mengajarkan anak – anak para sahabatnya untuk menjauhi sifat dengki dan bersikap lapang dada terhadap orang-orang yang berniat buruk padanya, serta mengosongkan hatinya dari gangguan setan.

  1. C. Urgensi Pembinaan Kehidupan Beragama Bagi Anak

Dalam kehidupan sehari-hari, sangat banyak sekali kebiasaan yang berlangsung otomatis dalam bertingkah laku. Oleh karena itu pembinaan kehidupan beragama melalui proses pendidikan yang baik akan sangat berpengaruh dari genersi ke generasi sehingga membudaya dalam kehidupan.

Pembinaan kehidupan beragama sangat penting bagi anak, sebagai mana yang dikatakan oleh Zakiah Darajat bahwa:

Pembinaan moral dan agama bagi generasi muda tidak dapat dipisahkan dari keyakinan beragama. Karena nilai-nilai moral yang tegas, pasti, dan tetap, tidak berubah karena keadaan, tempat, dan waktu atau nilai yang bersumber kepada agama. Oleh karena itu dalam pembinaan generasi muda, kehidupan moral dan agama harus sejalan dan mendapat perhatian yang serius. [22]

Sehubungan dengan yang telah dikatakan oleh Zakiah Darajat diatas maka apabila kita mengamati lembar demi lembar Al- Qur’an maka kita akan temukan bahwa setiap nabi dan rasul selalu memperhatikan keselamatan Aqidah anak – anaknya. Diantaranya disebutkan dalam salah satu firman Allah (Q.S.Al-Baqarah [2]: 132 yaitu:

???????? ????? ???????????? ??????? ??????????? ?????????? ????? ??????? ???????? ?????? ???????? ????? ?????????? ?????? ?????????? ???????????

Terjemahannya:

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada Anak-anaknya, demikian pula Yaqub”. (Ibrahim berkata): “Hai Anakk, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.[23]

Dalam Ayat lain Luqman memberitakan Nasiat pada anaknya tentang keimanan: (Q.S. Al-Luqman [31]:16) Yaitu:

Terjemahannya:

Luqman Berkata: “Hai Anakku,sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) sebesar biji sawi, dan berada didalam batu atau langit atau di dalam bumi, Niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya), sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui” [24].

Kita perhatikan pula Ayat-ayat Allah dlam surah Al-Ikhlas yang menggambarkan tentang ke Esaan Allah melalui pertimbangan akal manusia. Surah Al-Kafirun yang juga menggambarkan tentang ke imanan lewat akal perbuatan. Kedua surah ini merupakan bentuk skenario Allah yang diberikan kepada Manusia, dengan menjadikannya dalam bagian surah yang pendek agar anak yang sedang memulai pertumbuhan jasadnya mampu menghafal surah-surah pendek tersebut.[25]

Begitu pentingnya pembinaan kehidupan beragama pada anak, membuat perhatian Rasulullah SAW begitu besar terhadap kemajuan ummat. Seperti saat Nabi mengunjungi anak kecil yang sedang sakit sambil beliau berdakwa, dengan cara menyuruh kepada anak itu untuk memeluk agama Islam dihadapan orang tuanya.

Diriwayatkan pula oleh imam Abdur Razzaq dalam kitab Mashannaf-Nya (Jil. VI, hlm 34) diceritakan bahwa Rasulullah SAW memiliki tetangga seorang yahudi yang baik, ketika orang yahudi itu sakit, beliau mengunjunginya dengan mengajak beberapa sahabatnya. Rasulullah SAW kemudian berkata pada pemuda yahudi yang telah menderita sakit itu “Apakah Engkau mau bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan selain Allah, dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah”. Pemuda itupun mengucapkan dua Kalimat Syahadat dan beberapa saat kemudian matilah pemuda yang telah menjadi muslim.[26]

Para ulama besar terdahulu turut menjalankan apa yang nabi SAW ajarkan dalam dakwah mereka terhadap anak. Seperti yang telah dilakukan “Umar Bin Khaththab” beliau melarang orang-orang yahudi dan Nasraniyang berada dibawah kekuasaan islam untuk mengajak anak-anak mereka agar memasuki agama orang tuanya yang Nasrani.[27]

  1. D. Pengaruh Pembinaan Kehidupan Beragama Bagi Anak.

Dengan adanya pembinaan kehidupan beragama bagi anak, dapat memberikan pengaruh positif terhadap kehidupan anak. Baik dari segi budaya, social dan Religi. Adapun uraiannya sebagai berikut:

1.   Pengaruh dari segi sosial :

Seperti yang dikemukaan oleh Muh. Nur Abdul Hanizh bahwa Pembinaan membuat anak bisa bersikap benar dalam pergaulannya dengan masyarakat disekitarnya, baik bergaul dengan anak seusianya, maupun dalam adab kesopanan terhadap orang yang lebih dewasa.[28]

Anak dapat berkelakuan yang sesuai dengan ukuran – ukuran (Nilai-nilai) masyarakat, yang timbul dari hatinya sendiri, bukan paksaan dari luar, yang disertai pula oleh rasa tanggung jawab atas kelakuan (Tindakan) tersebut. Tindakan itu haruslah mendahulukan kepentingan umum dari pada kepentingan atau keinginan pribadi.[29]

Menurut Ibn Miskawaih (abad ke-X M) bahwa segala perbuatan anak, baik itu saling tolong menolong dan lain sebagainya adalah sesuatu keinginan yang lahir dengan mudah dari jiwa anak dengan tulus tanpa memerlikan pertimbangan dan pemikiran lagi. Inilah Pengaruh pembinaan kehidupan beragama bagi anak terhadap kehidupan sosialnya.[30]

  1. Pengaruh dari segi Religi:

Dengan adanya pembinaan kehidupan beragama pada anak, maka: (a). Anak yakin dan percaya terhadap adanya Tuhan (Allah) serta Kekuatan Tuhan yang dapat melindungi dan memberi pertolongan terhadap ummatnya. (b). Anak mampu melakukan hubungan yang sebaik-baiknya dengan Tuhan, guna mencapai kesejahteraan hidup didunia dan di akhirat. (c). Anak dapat mencintai dan melaksanakan perintah serta menjauhi larangan tuhan dengan jalan beribadah yang setulus-tulusnya.(d). Anak yakin dan percaya adanya hal-hal yang dianggap suci dan sacral, seperti: Kitab suci, Tempat ibadah, dan sebagainya.[31]

  1. Pengaruh dari segi Budaya:

Dengan pembinaan agama tersebut anak bisa menjaga diri dari kerusakan moral dikalangan pelajar dan generasi muda serta terhindar dari derasnya arus budaya yang negatif. Yang banyak di salurkan melalui beberapa media, baik itu melalui bacaan-bacaan, lukisan-lukisan, siaran-siaran, pertunjukan dan lain sebagainya.[32]

Dengan demikian pembinaan Etika, moral, kaidah agama yang diberikan pada anak memiliki banyak peran dalam membimbing anak menuju terbentuknya masyarakat yang sejahtera lahir maupun batin, termasuk dalam menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa.


[1] Mahmud Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Cet. III; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2000). h.49

[2] Nasaruddin Razak, Dinul Islam,al-Ma’arif, (Cet. II;Bandung: Al-Ma’arif, 1977). h.55

[3] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang; Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an: CV. Toha Putra, 1989), h. 341

[4] Zakiah Darajat, Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah, (Cet. II; Jakarta: Ruhama, 1995), h.35

[5] Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyah Al-Aulad fi Al-Islam, diterjemahkan oleh Khalilullah amhad Masykur Hakim denganjudul Pendidikan Anak menurut Islam Kaedah-kaedah Dasar, (Cet. I; Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), h.160

[6] Hery Noer Ali, Ilmu Pendidikan Islam, (Cet. II; Jakarta: Logos, 1999), h.185

[7] Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Dasar-dasar Agama Islam, (Cet.VIII; Jakarta: Bulan Bintang, 1993), h.317

[8] Muhammad Nur Abdul Hafizh, Mendidik Anak Bersama Rasulullah, (Cet.II; Kairo: Al-Bayan,1988), h. 109

[9] Ibid., h. 110

[10] Ibid., h. 115

[11] Zakiah Darajat, Membina Nilai-nilai Moral di Indonesia, (Jakarta; Bulan Bintang: 1976), h.87

[12] Majelis Ulama Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta; TIM DISBINTALAD: PT. Sari Agung, 1994), h. 549

[13] Muhammad Nur Abdul Hafizh, Op. Cit., h. 118

[14] Ibid., h. 119

[15] Departemen Agama, Op.cit., h.204

[16] Ibid., h. 165

[17] Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Op. Cit., h. 253

[18] Muhammad Nur Abdul Hafizh,  Op. Cit., h. 179

[19] Ibid., h.187

[20] Ibid., h.188

[21] Ibid., h.189

[22] Zakiah Darajat, Pendidikan Agama Islam Dalam Pembinaan Mental, (Cet. IV; Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1982), h.39

[23] Majelis Ulama Indonesia, Op. Cit., h.132

[24] Ibid., h.809

[25] Muhammad Nur Abdul Hafizh, Op. Cit., h. 112

[26] Ibid., h. 113

[27] Ibid., h. 114

[28] Ibid., h. 169

[29] Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Peran Agama dalam Kesehatan Mental, (Cet.IV; Jakarta: Gunung Agung, 1978), h.63

[30] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A, Manajemen Pendidikan mengatasi kelemahan pendidikan Islam di Indonesia, (Cet.I; Jakarta Timur: PRENADA MEDIA, 2003), h. 197

[31] Harun Nasution, Filsafat Agama, (Cet. IV; Jakarta:Bulan Bintang, 1983), h. 18-19

[32] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A, Op. Cit., h. 193