Data Beberapa Ahli Penemu Riset Tentang Matematika

Perkembangan Belajar Anak

Beberapa konsep kognetif yang diteorikan oleh Peaget yakni Adaptasi, Asimilasi, dan akomodasi, ekuilebrasi operasi dan skemata. Adaptasi merujuk pada proses pikiran individu untuk mencari keseimbangan pengetahuan pribadinya yang dipengaruhi oleh lingkungan. Asimilasi merujuk pada proses mental individu untuk menghayati suatu situasi dari sudut cara berpikirnya saat itu. Akomidasi merujuk proses mental individu untuk menyesuaikan konsepsi sebelumnya dengan tuntutan situasi baru, sehingga terbentuk konsep atau cara berpikir baru. Ekuilebraasi menunjuk pada proses mental dimana individu melakukan serangkaian proses adaptasi atau proses asimilasi dan akomodasi dengan cara memanfaatkan umpan balik atau feedback dan umpan maju atau feedforwod. Operasi menunjuk pada proses mental yang berkenaan dengan pemahaman tindakan yang lebih bersifat simbolik dari pada teralami (experiential). Contohnya : mengurutkan, mengelompokkan, membuat rangkaian, memberi nomor dan menggabungkan, sedangkan skemata menunjuk kepada segala sesuatu yang bersifat pikiran dan prilaku yang dapat disimpan dan diulang serta digeneralisasikan dalam tindakan. Skemata merupakan alat berpikir dimana kita menyimpan, mengatur dan menggunakan kembali apa-apa yang kita pelajari.

Bagaimana memanfaatkan teori Peaget dalam pembelajaran? Jika dilihat dengan menggunakan teori Peaget Pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan rekayasa prilaku untuk merangsang, memeliharan, dan meningkatkan terjadinya proses berpikir pembelajaran.

Proses perangsang, pemeliharaan, dan peningkatan proses berpikir ini tentu harus sesuai dengan pentahapan perkembangan kognitif. Piaget (Bell – Gredler, 1986 : 205) membagi perkembangan kognitif atas empat (4) tahap yaitu :

1. Periode Sensori motor usia, lahir è 11/2 – 2 tahun,

2. Periode Pra operasional, 2 – 3 sampai dengan 7 – 8 tahun,

3. Periode Operasional konkrit, usia 7 – 8 sampai dengan 12 – 14 tahun,

4. Periode Operasional formal, usia di atas 14 tahun.

Dilihat dari periodisasi perkembangan berpikir pebelajar usia 7 – 8 sampai dengan 12 – 14 tahun secara teoritis berada pada bagian akhir periode operasional konkrit dan awal operasional formal. Jadi pada transisi kedua periode tersebut. Periode operasional konkret ditandai oleh terjadinya cara berpikir logis, yang dikaitkan dengan objek nyata, sedangkan periode operasional formal ditandai antara lain oleh kemampuan berpikir logis dalam berbagai situasi termasuk situasi hipotesis.

Dengan dasar ini pembelajaran matematika diarahkan pada perangsangan, dan memelihara sambil meningkatkan cara berpikir logis yang terkait pada obyek nyata ke arah berpikir logis – hipotetis.

Relevan dengan kecenderungan proses berpikir pembelajaran Bell Gredler (1986 : 223 – 224) mengidentifikasi adanya tiga unsur pokok dalam pembelajaran, yaitu :

1. Mengembangkan keterampilan ”Bagaimana Belajar” atau ”How-to Learn Skill”

2. “Memberi kemudahan ”alih proses belajar” atau ”Transfer of Learning”

3. “Membelajarkan proses pemecahan masalah” atau Teaching Problem Solving”

Keterampilan bagaiman belajar menunjuk pada kemampuan pebelajar untuk memahami sesuatu dan menggunakannya untuk menggali lebih jauh yang dipelajarinya itu. Oleh proses belajar menunjuk pada proses penerapan hasil belajar sebelumnya dalam situasi yang lain. Sedangkan pemecahan masalah pada proses pemanfaatan skemata atau apa-apa yang telah ada dalam pikiran pebelajar untuk mengatasi situasi baru.

Fantasi

Fantasi menurut Em Zul Fajri (290) dalam kamus Bahasa Indonesia, memberikan arti bahwa :

Fantasi itu adalah :

* Khayalan.

* Bayangan dalam angan-angan.

* Daya cipta dalam angan-angan.

Misalnya : Anak-anak lebih tertarik dengan cerita-cerita yang bersifat fantasi; Film-film fantasi teknologi di masa depan yang sering ditayangkan di stasiun televisi swasta.

Sedangakan menurut Satrapradja (1978 : 151-152) dalam kamus Istilah Pendidikan dan Umum meberikan arti serta membagi beberapa kategori tentang fantasi sebagi berikut :

#  Fantasi :

* Khayalan.

* Kemampuan jiwa untuk menciptakan tanggapan baru berdasarkan tanggapan yang sudah ada.

Misalnya : Usaha menciptakan gedung bertingkat, modernisasi alat pertanian, dsb.

#  Fantasi Aktif :

* Khayalan yang dipimpin oleh alat dan kemauan.

Misalnya : Khayalan mencipta.

# Fantasi Mencipta :

* Kemampuan jiwa untuk menciptakan tanggapan baru dalam suatu bentuk yang nyata.

Misalnya :  Seniman menciptakan kreasi baru, Edison menciptakan listrik.

#  Fantasi Mengombinir :

* Khayalan menggabungkan.

* Kesanggupan jiwa untuk menciptakan tanggapan baru berdasarkan hasil penggabungan tanggapan-tanggapan yang sudah ada.

Misalnya : Para pencipta mode menciptakan kreasi baru mereka merupakan gabungan dari mode-mode yang sudah ada.

#  Fantasi Pasif :

* Khayalan yang tidak dipimpin oleh akal dan kemauan.

#  Fantasi Terpimpin :

* Kekmapuan berkhayal berdasarkan suatu tuntutan tertentu :

a. Ketika melihat areal bangunan yang terbakar, teringat akan kerusakan semasa agresi Belanda.

b. Membaca buku ”Anak Perawan di Sarang Penyamun” terbayang dengan daerah dan perikehidupan masyarakat di Pasemah, dsb.

c. Mendengan bunyi seruling, terbayang akan kampung halaman.

Fantastis :

* Seperti dalam khayalan.

Dapat disimpulkan bahwa fantasi itu sebenarnya adalah sebuah khayalan yang timbul dalam pikiran baik yang dapat dilakukan seperti membuat bangunan berlantai 5, maupun yang tidak dapat dilakukan seperti manusia dapat terbang sesuai dengan yang ada dalam khayalan anak-anak.

***

(Source : Fitriani Nur, Mahasiswa PPs UNM Makassar | Prodi Pendidikan Matematika, 2008)