Mekanisme Koping

Mekanisme koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respon terhadap situasi yang mengancam (Keliat, 1999). Sedangkan menurut Lazarus (1985), koping adalah perubahan kognitif dan perilaku secara konstan dalam upaya untuk mengatasi tuntutan internal dan atau eksternal khusus yang melelahkan atau melebihi sumber individu.

Berdasarkan kedua definisi maka yang dimaksud mekanisme koping adalah cara yang digunakan individu dalam menyelesaikan masalah, mengatasi perubahan yang terjadi dan situasi yang mengancam baik secara kognitif maupun perilaku.

Adapun mekanisme pertahanan ego adalah sebagai berikut :

Penyangkalan (denial)

Menyatakan ketidaksetujuan terhadap realitas dengan mengingkari realitas tersebut. Mekanisme pertahanan ini adalah paling sederhana dan primitif.

Contoh :

  1. Jika seorang dokter memeriksa penyakit seorang pasien, kemudian setelah diperiksa ternyata pasien tersebut menderita HIV/ AIDS. Hal tersebut kemudian diinformasikan kepada yang bersangkutan. Awalnya si pasien tidak menerima kenyataan tersebut, dia menyangkalnya dengan berbagai macam alasan. Intinya, pasien tidak mau dihadapkan dengan kenyataan pahit tersebut. Tetapi lama kelamaan dan setelah melewati proses yang lama akhirnya pasien itu dapat menerima bahwa itulah yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
  2. Seorang mahasiswa, yang apabila merasa dirinya pintar, nilai ujiannya tinggi-tinggi. Tetapi ketika melihat nilai akhir dari semua itu, ternyata tidak seperti yang diharapkannya. Akhirnya dia syok dan tidak menerima/ menyangkal bahwa sebenarnya nilainya harus melebihi teman-temannya. Tetapi karena sudah dinasehati oleh teman ataupun dosennya bahwa nilai akhir tidak semata-mata dilihat dari satu aspek saja tetapi banyak hal seperti kedisiplinan, kerapian, dan lain-lain, sedikit demi sedikit dia akhirnya dapat menerima hal itu.

Identifikasi (Identification)

Proses dimana seseorang untuk menjadi seseorang yang dikagumi berupaya dengan mengambil/ menirukan pikiran-pikiran, perilaku dan selera orang tersebut.

Contoh :

  1. Jika seseorang mengidolakan seorang artis, maka sedapat mungkin ia akan meniru baik tingkah laku, berpakaian, gaya hidup dan semua hal yang berhubungan dengan idolanya tersebut.
  2. Jika seseorang mengidolakan Rasulullah, maka ia akan meniru semua tingkah laku Rasulullah, perkataan dan semua hal yang berhubungan dengan Nabi Muhammad tsb.

Kompensasi

Proses dimana seseorang memperbaiki penurunan citra diri dengan secara tegas menonjolkan keistimewaan/ kelebihan yang dimilikinya.

Contoh :

  1. Seorang yang telah melakukan kesalahan, dan kesalahannya tersebut telah diketahui oleh orang banyak. Untuk memperbaiki kesalahan dan rasa malunya, maka ia akan berusaha menutupi semua itu dengan melakukan hal-hal yang bisa membuat orang beranggapan positif terhadapya dan orang-orang tidak lagi menganggapnya sebagai seorang yang bersalah lagi misalnya itu memfitnah.
  2. Seorang mahasiswa, pada saat ujian akhir dipergoki oleh teman-temannya kalau dia menyontek. Karena terlanjur malu dan diketahui oleh semua teman-temannya maka dia akan berusaha untuk mengikuti kegiatan-kegiatan intra maupun ekstra kampus dan terus mengukir prestasi-prestasi di kampus, yang sekiranya dapat mengembalikan citra dirinya di hadapan teman-temannya.

Pemisahan (Splitting)

Sikap mengelompokkan orang/ keadaan hanya sebagai semuanya baik atau semuanya buruk; kegagalan untuk memadukan nilai-nilai positif dan negatif di dalam diri sendiri.

Contoh :

  1. Dua orang anak bersahabat. Pada suatu waktu, salah satu diantaranya melakukan kesalahan. Karena terlanjur berbuat kesalahan, seorang lagi menganggap bahwa sahabatnya itu adalah orang yang tidak baik. Padahal kesalahan tersebut hanya sekali dilakukannya. Untuk seterusnya seorang yang berbuat kesalahan dianggap oleh sahabatnya sendiri sebagai seorang yang tidak baik tanpa melihat kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukannya.
  2. Seseorang anak telah melakukan kesalahan misalnya  pencurian, dan perbuatannya ini baru satu kali dilakukannya sehingga orang-orang di sekitarnya telah menilai dia sebagai seorang yang sering mencuri di lingkungan tersebut. Padahal anak tersebut baru melakukan perbuatan tersebut sekali dan selama-lamanya orang-orang tidak mempercayainya.

Rasionalisasi

Mengemukakan penjelasan yang tampak logis dan dapat diterima masyarakat untuk menghalalkan. Membenarkan impuls, perasaan, perilaku dan motif yang tidak dapat diterima.

Contoh :

  1. Dalam suatu masyarakat, terdapat mitos yang menyatakan bahwa untuk mendapatkan anak yang berhidung mancung, maka bisa dilakukan dengan menarik-narik hidungnya pada waktu bayi. Dengan alasan yang jelas dan pendapat yang kuat,kita dapat menjelaskan kepada masyarakat tersebut bahwa untuk mendapatkan anak yang berhidung mancung tidak tergantung pada ditarik atau tidaknya hidung si anak, tetapi hal tersebut bisa karena faktor-faktor yang lain seperti keturunan, dan lain-lain. Tidak mungkin mendapat anak berhidung mancung jika ibu bapaknya pesek. Kita harus menjelaskannya dengan kata-kata yang mudah dimengerti dan sekiranya orang-orang tersebut paham dan bisa meninggalkan hal-hal yang salah.
  2. Dalam suatu diskusi, seorang mahasiswa bisa mempertahankan pendapatnya jika alasan-alasan yang diucapkan dan dikeluarkannya benar dan masuk akal. Sehingga dari semula teman-temannya tidak dapat menerima pendapat-pendapat tersebut, tapi karena alasan yang dikemukakan jelas dan rasional akhirnya teman-temannya pun dapat menerima pendapat anak tersebut.

Dedicated for my Dewi. 🙂