Pengaruh Bermain Terhadap Kreativitas Anak

Masalah kreativitas akhir-akhir ini banyak dibicarakan dalam masyarakat kita. Usaha pengembangan bakat ataupun kreativitas anak merupakan tantangan bagi pendidik dan orang tua dalam mewujudkannya. Namun esensi permasalahannya terletak pada kemungkinan-kemungkian yang tersedia di dalam lingkungannya. Pemahaman terhadap kreativitas anak harus juga disertai pengertian terhadap cara-cara pemberian peluang untuk merangsang dan menumbuhkan kreativitas tersebut.

Penelitian terhadap perkembangan bakat dan kreativitas dewasa ini telah memberikan pemikiran yang lebih luas dan mendalam tentang pertumbuhannya secara menyeluruh maupun kemampuan manusianya secara khusus. Hal ini menjadikan kita lebih memahami pemanfaatan kemampuan manusia secara efektif, dan berbagai strategi kegiatan yang dilaksanakan untuk meningkatkan kehidupan intelektual secara kualitatif yang pada akhirnya mempersyaratkan proses intelegensi seseorang dan akan merupakan dasar dari pertumbuhan kreativitas anak.

Sebelum lebih jauh membahas tentang kreativitas anak yang ditimbulkan dari aktivitas bermain, terlebih dahulu kita berikan pengertian dari kata kreativitas tersebut. Kata kreativitas berasal dari bahasa Inggris “creatif”, artinya memiliki daya cipta.[1] Kreativitas biasanya diartikan sebagai suatu keahlian dan sesuatu pekerjaan atau menciptakan suatu produk baru.

Menurut Conny Semiawan, A.S. Munandar dan S.C. Utami Munandar mengatakan bahwa:

Kreativitas adalah kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkannya dalam memecahkan masalah. Kreativitas meliputi baik ciri spitude seperti kelancaran, keluasan (fleksibilitas) dan keaslian dalam pemikiran maupun ciri-ciri (non aptitude) seperti rasa ingin tahu, senang mengajukan pertanyaan dan juga selalu ingin mencari pengalaman baru.[2]

Bila kita melihat pengertian di atas, maka kreativitas muncul pada diri seseorang apabila mempunyai kemampuan memberikan gagasan-gagasan baru dan selalu ingin mencari pengalaman baru. Rasa ingin tahu akan selalu mendorong untuk mencari dan menemukan hal-hal batu. Dengan pengalaman-pengalaman baru tersebut,. Anak dapat melakukan percobaan-percobaan sehingga dapat merangsang dan menumbuhkan kreativitasnya.

Lebih lanjut tentang pe4rmainan anak, Edward Swartas, seorang pengacara yang giat menyelidiki bahaya dan keadaan mainan bagi anak mengatakan bahwa:

Mainan yang terbaik adalah yang terus-menerus memberi seorang anak peluang untuk menyibukkan imajinasinya, mengembangkan kecakapannya, memperbesar batas pemikiran dan daya cipta anak.[3]

Anak-anak pada dasarnya ingin mempelajari dan mengetahui apa saja. Dengan demikian anak bisa menyibukkan daya imajinasinya, mengembangkan kecakapan daya cipta anak. Anak-anak menyumai mainan yang bisa dipergunakannya dengan kreatif. Dia tidak akan puas hanya dengan mengikuti petunjuk ataupun tujuan pembuatnya. Anak ingin mengikuti kehendaknya sendiri, mencipta menurut perasaan hatinya. Makin terbatas kemungkinan untuk itu semakin mudah bagi anak menjadi bosan. Dalam hal ini dapat kita lihat pendapat yang dikemukakan oleh Dick hartono tentang kreativitas anak, bahwa:

Kreativitas tidaklah harus selalu berarti penciptaan, melainkan melihat bermacam-macam kemungkinan dari satu gagasan atau bentuk. “Menyulap” pasir menjadi gundukan gunung, berdiri di depan anak-anak lain dan berperan sebagai seorang guru, menyandang kayu di bahu dan berbaris membayangkan diri seperti tentara, atau bermain sepur-sepuran. Semua itu merupakan bentuk-bentuk permainan yang terhitung punya unsur kreatif, sebab di situ anak memperagakan hasil imajinasinya.[4]

Dengan demikian bagi anak yang penting permainan itu bukan bentuknya, tapi bagaimana menyalurkan emosi dan nalurinya secara positif serta bisa menyusun dunianya sendiri. Di situ pula kita temui unsur daya imajinasi dan daya personafikasi anak terhadap kehidupan di sekitarnya.

Dr. Benyamin Spock berpendapat bahwa:

Anak-anak menyukai mainan yang bisa dipergunakannya dengan kreatif. Dia tidak akan puas dengan hanya mengikuti petunjuk ataupun tujuan perbuatannya. Dia ingin mengikuti kehendaknya sendiri, mencipta menurut perasaan hatinya. Makin terbatas kemungkinan untuk itu makin mudah dia menjadi bosan. Dalam hal ini permainan balok-balok logo dianggap paling mengairahkan dan mengasyikkan karena digunakan bermacam-macam permainan.[5]

Dari pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa alat mainan  yang disukai

anak-anak adalah mainan yang serba guna dan luas jangkauannya, sehingga dapat dipergunakannya dengan kreatif. Permainan yang dianggap paling menggairahkan dan mengasyikkan adalah permainan dengan balok-balok, karena bisa dipergunakan berulang kali dan berbagai cara oleh anak dengan segala usia. Dalam hal ini termasuk permainan dengan boneka, rumah-rumahan,

bahka kardus, panci dan penggorengan, dapat merangsang kreativitas anak.

Sedangkan mainan yang kurang merangsang kreativitas anak adalah mainan yang hanya mempunyai tujuan tunggal. Menurut para ahli, ini termasuk mainan “untuk ditonton” yang bisa berjalan sendiri, memutar sendiri atau dioperasikan dengan baterai dan tinggal tekan tombol selama beberapa menit, dan hanya itu. Mainan ini mempesona orang dalam waktu singkat, tetapi sempat membosangkan. Di samping itu mainan tersebut mempunyai kelemahan yaitu mainan yang hanya bergerak menurut si pemencet tombol. Dalam hal ini Dr. Soetomo dalam majalah bulanan Suara Hidayatullah mengatakan bahwa:

Apabila seorang anak hanya dapat menuruti perintah si pemencet tombol, maka timbullah mental menjadi terbiasa hanya menghargai egonya sendiri tanpa memperdulikan orang lain dan anak-anak menjadi asyik dengan dirinya sendiri.[6]

Dengan demikian mainan yang kreatif tidaklah selalu berarti mainan yang mahal harganya. Adakalanya mainan yang paling sederhana dan diremehkan orang tua, adalah mainan yang terbaik. Permainan dengan balok-balok misalnya; dapat disusun oleh anak menjadi mobil-mobilan, gedung, jalan raya dan jembatan, kereta api bahkan juga sebuah kota. Menurut Benyamin, anak laki-laki menginjak usia 8-10 tahun, sudah mulai mencoba membuat sendiri mobil-mobilan ataupun barang-barang lain. Keaktifan ini bukan hanya mengembangkan keterampilannya tetapi juga merupakan dasar pengembangan kreativitasnya.

Oleh karena itu untuk merangsang kreativitas anak tersebut, baik sekali jika anak memiliki alat-alat untuk mengerjakannya bagi anak untuk mengembangkan kreativitasnya melalui permainan dengan balok-balok tersebut. Banyak sekali ibu menganggapnya terlalu berbahaya tetapi dengan menjelaskan cara penggunaannya dengan benar anak-anak akan aman memilikinya.

Seperti yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, bahwa permainan yang paling disukai anak perempuan adalah permainan dengan boneka, di samping permainan-permainan lain seperti memasak dan menjahit. Dengan boneka mainannya, anak dapat membuatkan baju dan selimut boneka dari sisa-sisa guntingan kain. Anak dapat membuat bermacam-macam bayi atau pernik-pernik lain untuk mempercantik bonekanya. Dengan demikian permainan dengan boneka ataun memasak dan menjahit, dapat merangsang anak mencipta berbagai hayalan tentang perannya di masa datang yaitu sebagai seorang ibu di dalam mengurus anaknya.

Sedangkan anak laki-laki menyukai permainan dengan mobil-mobilan karena melambangkan kejantanannya, dan bisa dipergunakan untuk berbagai macam usia. Seperti yang dikemukakan oleh Dr. Benyamin bahwa:

Dengan permainan mobil-mobilan tersebut akan umur 6 tahun membuatlan jalur jalan untuk melengkapinya, umur 11 tahun bisa membangun jalur-jalur yang rumit dan lebih lengkap, pada usia 12 tahun anak bisa membuat sendiri model mobil keinginannya.[7]

Dari uraian-uraian tersebut di atas, dapat dipahami bahwa mainan yang kreatif tidak perlu mahal, sebab akadalanya mainan yang paling sederhana adalah mainan yang terbaik yang dapat merangsang kreativitas anak, yang perlu ditekankan di sini adalah bukan pada apa yang bisa dilakukan oleh mainan itu, tetapi apa bisa dilakukan anak denganmainan tersebut. Dengan memahami hal itu, maka kita dapat memilihkan permainan yang dapat merangsang kreativitas dan daya cipta anak tanpa perlu yang selalu mahal.

Cara lain untuk meningkatkan kreativitas anak  adalah dengan menghargai usaha-usahanya yang kreatif melalui pujian, dorongan dan minat. Dengan menunjukkan penghargaan dan kegembiraan atas keberhasilan dalam kreasi walaupun mungkin belum sesuai dengan standar orang dewasa.  kegembiraan dan penghargaan atas penemuannya, usahanya, ide maupun atas ucapannya, demikian juga atas segala sesuatu yang dibuatnya akan mendorong anak untuk terus mencoba. Tetapi yang juga harus diperhatikan adalah bahwa sikap yang terlalu masa bodoh atau terlalu banyak mencampuri kegiatannya dapat menghalangi perkembangan kreativitas anak.

Dari  berbagai  pendapat  dan   uraian-uraian  di atas,   dapat   dipahami

bahwa permainan yang dapat merangsang kreativitas anakadalah permainan yang luas jangkauannya dan dapat dipergunakannya berulang kali dengan berbagai cara. Misalnya permainan dengan balok-balok dan juga dengan boneka. Dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk bermain, kreativitas anak akan dapat dirangsang dan ditingkatkan, di samping kitu perlu selalu diberikan latihan-latihan sejak kecil maupun sesudah bersekolah.


[1]John M. Echols, Hasan Hadiby, Kamus Inggris Indonesia (Jakarta: PT. Gramedia, 1976), h. 154.

[2]Conny Semiawan, A.S. Munandar, S.C. Utami Munandar, Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah (Jakarta: PT. Gramedia, 1984), h. 7.

[3]Henri N. Siahaan, op. cit., h. 148.

[4]B. Simanjuntak, Pasaribuan, Pengantar psikologi Perkembangan (Bandung: Tarsito, 1984), h. 65.

[5]Benyamin Spock, Problems of parents, Diterjemahkan oleh Maryam Noor dengan judul “Orang Tua Permasalahan dan Upaya Mengatasinya” (Cet. II; Semarang: Dahara Prize, 1991), h. 42.

[6]Majalah bulanan Suara Hidayatullah (Edisi 05/Tahun IV/September 1991), h. 24.

[7]Benyamin, loc. cit.